Sebuah Cerita tentang Kita #2

Sebuah Cerita tentang Kita #2
Foto: Evento.love

*Sebelumnya

Sambil menunggu angkot yang menuju ke arah perkampunganku, bayangan Hana yang menyapaku di kantin hadir kembali. Kalian tahu, yang membuatku terkagum-kagum padanya adalah lesung pipit yang terukir di pipinya. Ia sangat manis.

Hana, sebagaimana wanita karier lainnya, berpenampilan seadanya, tidak berlebihan. Adapun sikapnya yang cukup terbuka membuat namanya dikenal pegawai lain dalam waktu yang singkat.

Sebut saja Andi, laki-laki dengan perawakan tinggi, ramping, dan berkaca mata itu sudah digosipkan menaruh hati pada Hana. Imran, lelaki blasteran Arab dengan jambang rapi di sekitar dagunya juga demikian, dimakcomblangin dengan Hana.

Ada beberapa orang lagi yang gosipnya beredar, mereka berusaha mendekati Hana. Bahkan, kudengar sekretaris perusahaan memasang taruhan dengan salah satu koleganya apabila berhasil menaklukkan Hana.

Mendengar itu, emosiku memuncak. Padahal aku sendiri belum mengecek kebenarannya. Bisa saja kabar itu hanya untuk memanas-manasi pegawai lain yang kehilangan konsentrasi dalam pekerjaannya atau mungkin dilakukan dengan tujuan menciptakan sikap kesadaran bagi mereka. Akan tetapi, yang ironis adalah aku hendak marah, tapi sadar diriku bukan siapa-siapa.

“Kampun Ketandan, bang,” kataku ketika menaiki angkot yang telah menepi di depanku.

Hari sudah menunjukkan petang saat aku tiba di rumah. Panas langit Jakarta tampak memudar tertutupi gumpalan awan. “Alamat hujan akan turun sebentar lagi,” pikirku.

Namun tak berapa lama setelah aku merebahkan tubuh di kamar, teleponku berdering kuat pertanda ada panggilan yang masuk. Aku segera mengangkat dan menemukan nomor baru tertulis di sana. “Siapa gerangan,” gumamku. Tapi aku tidak mau membuat orang itu menunggu lama. Aku klik dan suara seorang perempuan terdengar lembut datang dari seberang sana.

“Ini benar Hasan, bukan?”

“Benar. Anda siapa, ya?” tanyaku penasaran.

“Oh, ya, sebelumnya maaf. Kabar ini mungkin cukup mendadak, tadi tak sengaja aku bertemu dengan Pak Sekretaris sebelum pulang. Dia menitip tugas tambahan untuk kita kerjakan bersama. Aku bilang kalau aku tidak punya kontakmu, lalu dia pun mencarikan di ponselnya dan mengirimkannya padaku.”

“Tapi, Anda siapa?” aku mengulang lagi pertanyaanku yang belum terjawab.

“Hana. Ini Hana, lho, Mas!” jawabnya buru-buru dan disusul dengan pertanyaan yang baru. “Aku bisa menemui Mas di mana untuk mengerjakan tugas ini?”

Sejenak pikiranku melayang. Kuletakkan ponselku. Kucubit kulitku, dan kutampar-kutampar pipiku. Bukan. Ini bukan mimpi, aku tidak sedang tidur saat menerima panggilan itu.

“Aku bingung mau jawab di mana. Kosmu sendiri di daerah mana?” aku tanya balik. Beberapa saat tidak ada jawaban. Hanya terdengar ia sedang berbicara dengan seseorang.

“Mas……? Bagaimana kalau di toko bukunya Pak Kamto? Aku biasanya mendapat inspirasi di sana.”

“Pak Kamto?” gumamku. Apa mungkin ia juga sering ke sana. Aduh, bisa gawat kalau ternyata Hana sering mengobrol dengan Pak Kamto. Bagaimana responsnya ketika tak sengaja mungkin Pak Kamto menceritakan tentang seorang laki-laki bujangan yang sedang mencari calon ibu bagi anak-anaknya. Belum lagi diceritakan sedetail-detailnya.

“Mas……? Aku rasa toko buku itu pilihan paling tepat, jadi aku putuskan di sana saja. Kita jumpa di sana jam delapan malam. Jangan lupa bawa laptop juga.”

Hana menutup panggilannya. Sedangkan aku menangkap ada sesuatu yang aneh dengan diriku. Hatiku seolah berkecamuk, tumpah tindih, antara senang dan bingung. Senang karena kami akan bertemu, berdua lagi. Bingung jika ternyata Pak Kamto sudah memberitahu tentangku.

Pada akhirnya, untuk mengurangi kecemasan ini, aku hanya mengambil sisi positifnya saja dan meyakini kalau Pak Kamto bisa menjaga privasi.

Dan kami pun bertemu.

Hana lebih duluan sampai ketimbang aku. Pak Kamto yang menyadari kedatangan kami langsung ikut nimbrung.

Aku menangkap ada sesuatu yang disembunyikan Pak Kamto ketika berada di antara kami. Tetapi aku tidak tahu persisnya. Ia terus berusaha bersikap biasa, seolah tidak ada hal yang terjadi sebelumnya.

Setelah dirasa cukup berbasi-basi, Pak Kamto kembali ke tempatnya, dan kami hanyut dalam diskusi. Sementara di sudut lain, sepasang mata terus memperhatikan perilaku kami. Siapa lagi kalau bukan Pak Kamto? Hanya ia seorang yang hadir di situ selain kami.

“Eh, kau lapar, tidak?” tanyaku pada Hana yang terus memelototi layar laptopnya setelah dua jam lebih tenggelam menyelesaikan tugas.

“Iya, aku lupa belum makan malam.” Hana mendongakkan kepala. Ia tersadar ternyata jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.

“Kebetulan di seberang ada gerobak nasi goreng, mau kupesankan?” tawarku dan langsung disetujui olehnya. Aku beranjak ke arah Pak Kamto dan menawarkan hal yang sama.

Tak perlu waktu lama untuk kembali bergabung, sebab tidak perlu mengantre untuk mendapatkan tiga bungkus nasi goreng. Aku meminta Pak Kamto segera mendekat, kami akan menyantap bersama.

Di sela-sela santap malam itu, Pak Kamto lagi-lagi bertanya. Kali ini ditujukan kepada Hana.

“Dik, Hana, apa pernah terlintas di benakmu menikah tahun depan?” kata Pak Kamto tanpa basi-basi. Aku tersendat, dan kutatap Hana bersikap normal. Ia tidak terganggu dengan pertanyaan yang dilontarkan Pak Kamto.

“Terlintas, sih, ada, pak. Hanya saja, aku belum menemukan calon yang serius. Artinya, dia betul-betul mau berkomitmen,” jelas Hana sembari mengantarkan satu sendok nasi goreng ke mulutnya.

Pak Kamto mengedarkan tatapannya padaku. Sontak saja aku dibuat bingung. Apa maksudnya?

Belum sempat Pak Kamto melanjutkan pertanyaan berikutnya, tiba-tiba Hana menghentikan makannya. Ia sejenak menarik napas, dan mengemukakan pendapatnya tentang hubungan serius, dalam artian menikah.

“Begini, pak.” Hana mengatur posisinya. “Aku bukan tipe perempuan yang suka pacaran, atau pemuja valentine. Aku juga bukan sosok perempuan yang …..hanya karena sebatang cokelat langsung luluh, dan memberikan segala yang dimilikinya kepada pasangannya yang tentu belum sah. Bagiku, membina hubungan antarjenis itu sesuatu yang sangat sakral. Hubungan itu tidak sebatas menyatakan perasaan cinta, tapi bagiku lebih. Dan yang paling penting menurutku adalah pengakuan untuk berkomitmen.”

“Komitmen yang bagaimana?” sela Pak Kamto.

“Ada rasa kesadaran bahwa kedua pihak punya masa lalu masing-masing. Itu harus dimaklumi. Selanjutnya, kesadaran untuk membangun harmonitas dalam berkeluarga. Tidak sebatas antara pasangan itu saja, tetapi juga mencakup relasi dengan keluarga satu sama lain. Tidak mungkin aku hanya menyukai anak lelakinya saja, dan mengabaikan mertuaku. Itu perbuatan buruk yang pernah kudengar.”

Pak Kamto manggut-manggut. Aku pun demikian, terjebak dalam pikiran sendiri. Tidak sadar nasi goreng sudah tandas.

*Bersambung…

    Latest posts by Sammad Hasibuan (see all)