Sebuah Kecupan yang Mengubah Seorang Lelaki Jadi Bajingan

Sebuah Kecupan yang Mengubah Seorang Lelaki Jadi Bajingan
©IDN Times

Sebuah Kecupan yang Mengubah Seorang Lelaki Jadi Bajingan

Menjadi bajingan memang bukan impian semua orang. Bahkan cenderung dihindari sebagai hal yang bertentangan dengan norma sosial. Tetapi bagaimana kenyataan memberi penilaian jika yang kita saksikan hanya bandit-bandit setiap hari berebut jatah makan siang, atau saling tikam lantaran tidak kebagian paket.

Tetapi saya tak hendak menulis konteks politis atau pun isu sosial. Saya hanya ingin mengatakan sedikit isi hatiku tentang perempuan yang dulunya saya kagumi. Tetapi kini ia mulai terlihat biasa saja.

Semenjak gincunya terlepas, bibirnya terlihat hitam kecokelatan, Tampak biasa saja. Saya tidak lagi terpikat. Mungkin itulah sebabnya perempuan berlomba-lomba mengoleksi gincu mahal?

Saya sebenarnya juga masih bingung tentang standar atau kriteria dalam menilai perempuan. Tetapi menurut saya lingkungan begitu kuat memengaruhi keinginan. Kadang banyak hal kita lakukan tak pernah masuk akal, hanya saja kehendak lingkungan membuat kita demikian ambisius sehingga menerima hal tersebut dengan cara pura-pura bahagia.

Sudah banyak tempat yang saya kunjungi, beberapa pengalaman tersimpan rapi sebagai pembelajaran. Tetapi yang paling dalam di benak adalah pertanyaan-pertanyaan absurd tentang hakikat hidup. Seperti, puncak kebaikan manusia, apakah benar adalah uang? Atau benarkah kejahatan yang bebas hukum karena kekuatan politik bisa dibenarkan?

Banyak fenomena yang masih jadi misteri. Seperti orang-orang muda yang kehilangan setiap mentari untuk bangun lebih pagi, atau pejabat korup yang memiliki perut buncit seperti babi, demikian juga remaja yang saling rindu lalu ketemu kemudian bercinta tanpa kondom hingga hamil dan memilih aborsi. Semua itu adalah tragedi mengerikan, tetapi para perampok yang bersekutu dengan perompak melihat itu hanya sebagai hiburan kecil biasa.

Jujur, saya tidak ingin menulis banyak tentang politik, sosial, hukum, dan semacamnya. Saya hanya ingin fokus pada kecupan itu yang sedikit lagi tinggal kenangan kala bibirnya menyentuh pelan bibirku dan melahirkan gairah kecil untuk saling memeluk tanpa sehelai kain yang menghalangi tubuh ini untuk berdialog dengan bahasanya sendiri.

Saya ingin mengulanginya sekali lagi, bercinta tanpa banyak tanya. Bercumbu sesukanya, tanpa harus ada alasan kuat. Itulah kesenangan-kesenangan saya dengannya yang terbingkai indah dan nyenyak di dada.

Parahnya, setiap kali saya ingin menulis lebih banyak tentang hal-hal romantis yang telah lalu. Amuk teori-teori sosial memuncak di kepalaku, derita dan anak terlantar terus membayang di depan mata. Maka saya tulislah semua, biar publik menilai kalau saya adalah anak muda yang gagal memadu kasih, dan tak juga berhasil mengubah tatan sosial yang kian mencekam.

Baca juga:

Sebabnya saya berniat menulis tentang asmara, karena yakin publik sudah bosan membaca tulisanku yang nyaris semua tentang sosial, politik, derita dan sial. Bertaut pada satu konteks yang monoton. Saya sadari itu, hanya saja, saya juga terjebak atau bisa jadi sedang merayakan kutukan di dalamnya.

Kadang saya juga berpikir untuk meniru lingkungan, menjadi penjilat dan bisa cepat kaya, taat perintah agar dapat jatah naik pangkat, atau mengabdi pada orang lain untuk sebuah pengakuan. Tetapi saya tidak bisa, nuraniku menolak. Insting dalam diriku memberontak dan membawa saya kembali pada buku bacaan, demonstrasi, kriminalisasi, serta hal-hal lainnya yang menentang kemapanan.

Walau ingatan tak bisa lepas dari realitas yang ekstrim, tetapi saya akan tetap berusaha kembali pada niat awal. Mendeskripsikan kecupan itu. Sepertinya memang sudah banyak hal yang hilang dari bibirnya. Bukan sekedar gincu, senyum tulus, sapaan manja, dan obrolan-obrolan lucu juga sudah jarang terdengar.

Hal ini sangat mungkin bisa terjadi karena lelaki yang meminangnya tak mengerti arti kecupan. Atau lelaki itu melihat mulut sekedar belah bibir semata? Ia sepertinya tak mengerti bagaimana mulut bisa menghasilkan masa depan dalam semua versi.

Saya tidak yakin jika manusia juga seperti binatang yang takluk oleh pawangnya. Namun, faktanya demikian. Perempuan yang semula penuh kegembiraan, berselimut tawa dan bemahkota kebahagiaan, kini seperti mayat hidup hanya karena memilih lekat di pelukan lelaki lain.

Kepergian itulah yang membuat saya mengerti arti sakit. Jika sebelumnya saya biasa telat bangun pagi karena khawatir tak bisa makan, sementara perut kosong. Sesekali tinggal di kontrakan dengan keadaan gelap kehabisan aliran listrik, tak data internet, dalam keadaan sendiri. Ternyata itu tak seberapa dibanding sebuah kehilangan.

Anehnya, kehilangan tidak berhenti di sini saja. Ia akan bekerja dan terus mengganggu seperti hantu yang kesepian. Kehilangan membuat kita perlahan berubah, dari baik jadi jahat, membawa kita dari bijaksana menjadi bajingan.

Meski demikian, saya tidak berhenti. Saya harus mencari tahu apa yang membuat perempuan itu tidak menjadi dirinya, dan solusi yang dapat membuat saya kembali menemukan jati diri yang direnggut oleh sesuatu yang abstrak.

Baca juga:
Burhan SJ