Sebuah Risalah Provokatif

Sebuah Risalah Provokatif
"Bangkitlah Gerakan Mahasiswa" karya Eko Prasetyo (Resist Book & SMI, 2014).

Inilah buku yang tidak berisi teori dan deskripsi. Lebih mirip risalah provokatif. Dibuat bukan sekadar untuk dibaca. Disusun dengan maksud untuk menggerakkan. Maka, buku provokatif ini disarankan untuk tidak dibaca jika ingin dimengerti saja. Tak perlu membawa-bawanya kalau hanya jadi bahan diskusi. Hanya satu tujuan dari buku ini: menghasut dan meyakinkan!

Kutipan provokatif di atas sedikit banyak menambah beban khusus bagi pengulas. Sebab, selain harus memahami isi buku secara utuh, juga sekaligus menjadi sebuah renungan bagi diri sendiri sebagai mahasiswa.

Ya, hanya ada dua pilihan memang: sadar dan lawan pada penindasan atau tetap pada ketertindasan. Hal ini sebagaimana juga terdapat dalam ajaran Kong Hu Cu, “Mengetahui apa yang baik tetapi tidak melakukannya adalah sikap pengecut yang paling buruk.” Persis dengan apa yang juga pernah diserukan oleh Pramoedya Ananta Toer: yang tahu tapi tidak melakukan adalah munafik.

Sebagai penulis, Eko Prasetyo adalah pemprakarsa Social Movement Institute (SMI)—didirikan saat setelah ia keluar dari Pusham UII. Bersama banyak aktivis yang bergerak di berbagai bidang, SMI merupakan wujud dari upaya membangun pengetahuan kritis dalam bentuk sekolah alternatif.

Keseharian Eko banyak dihabiskan dengan bertemu dengan mahasiswa, menulis, dan mengembangkan pendidikan kritis sebagai gerakan penyadaran pada generasi muda. Hal ini bertujuan guna memperjuangkan kebenaran hakiki. Juga bertujuan menumpas segala kebusukan yang telah lama mewabah di negeri ini.

Disebutkan di atas bahwa buku ini tidak memuat teori-teori. Buku ini berisi hasutan yang provokatif. Mempertanyakan apa yang terjadi selama ini pada dunia pendidikan tinggi.

Isi buku ini sendiri merupakan kumpulan pidato Eko di berbagai kegiatan kemahasiswaan seperti Ospek. Dan untuk menggambarkan isi buku ini secarah utuh, pengulas mencoba membuat tiga term utama yang Eko nilai masih sedang berlangsung dalam dunia pendidikan sampai hari ini. Tiga term tersebut meliputi Tekanan-Kenyamanan-Kematian (kesadaran).

Penekanan

Mirip dengan Neoliberalisme. Persaingan kampus terus mengikat para calon mahasiswa baru untuk mendaftarkan dirinya yang dilakukan dengan berbagai cara. Jalur masuk dibuat berbagai macam. Tarif pembayaran disesuaikan dengan tingkat ekonomi orangtua. Bahkan, ada yang menawarkan hadiah untuk 100 pendaftar pertama.

Di ruas-ruas jalan yang juga dipenuhi oleh wajah-wajah politisi yang siap berkompetisi dengan janji-janji yang tak mungkin ditepati, diapit oleh spanduk-spanduk kampus yang menampilkan tawaran fasilitas yang menunjang kenyamanan, beserta prestasi-prestasi yang diraih. Tak lupa pula alumni-alumni yang menjadi orang besar/jutawan juga turut dipampang.

Tak ubahnya semasa SMA, kita selalu dihadapkan pada aturan dan aturan. Awal masuk, kita dihadapkan pada lembaran aturan main selama proses perkuliahan dan diakhiri dengan tanda tangan di atas materai agar keabsahannya lebih kuat.

Seolah-olah, kita bukan lagi manusia yang mampu mengenali etika secara alamiah. Melalui surat tersebut dapat menjadi bukti pelanggaran suatu waktu.

Hal ini didukung oleh pemikiran Thomas Hobbes bahwa “manusia ditentukan oleh emosinya bukan akal budinya. Manusia bisa dikendalikan dan diatur asalkan dibuat dirinya selalu merasa takut, dalam hal ini hukum positif”.

Beragam sanksi yang ditampilkan, mulai skorsing bahkan Drop Out (DO) bagi mahasiswa yang membangkang. Tak jarang kriminalisasi mahasiswa dilakukan oleh pihak kampus dengan dalih pencemaran nama baik, pengerusakan fasilitas, dan lain sebagainya. Seolah mahasiswa dan birokrasi adalah kawan yang bisa menjadi musuh berat.

Sejak dini, kita ditanamkan budaya patuh dan taat pada aturan meskipun secara hakikat aturan itu bertentangan, sampai mahasiswa lupa akan kebenaran. Sopan dan santun mahasiswa diejawantahkan melalui cara berpakaiannya, dilarang masuk kelas tanpa menggunakan baju berkerah, menggunakan sepatu, bahkan tak jarang dosen melarang mahasiswa gondrong mengikuti perkuliahan.

Datang, duduk, diam, asal memenuhi presensi 75%, nilai B+ sudah di tangan, sampai mahasiswa enggan untuk berorganisasi. Lantas, apa yang bisa kita dapatkan dari perkuliahan model begini? Apa sumbangsih untuk orang lain dan Negara ini?

Kenyamanan

Kampus ibarat kepala tanpa badan. Rambut diberi warna agar lebih menawan. Telinga diberi anting dengan bahan emas 24 karat.

Tak lupa, bibir dipoles gencu merk impor. Namun, ia tak punya tangan dan kaki untuk bergerak. Apa daya? Ia hanya bisa mengunyah dan memuntahkan.

Ruang kuliah dengan fasilitas AC. Bangku yang sedikit cacat akan segera diperbarui. Tak lupa juga, dinding diberi kalimat bijak para ilmuwan terdahulu yang tak memberikan efek apa-apa. Hening hanya ada suara dosen seolah-olah pengetahuan akan bersemayam dalam ruangan kuliah.

Papan-papan informasi hanya dihiasi informasi seputar jadwal ujian, jadwal pembayaran, dan jadwal kegiatan. Jarang kita temui pamplet yang memprovokasi, menggetarkan hati akan kondisi sekitar, dan apa yang mesti kita lakukan sebagai corong cendikiawan.

Selain itu, kampus dipercantik dengan taman. Kantin yang menyediakan berbagai menu, serasa kita sedang bertamasya. Kita dibuat amnesia akan kondisi sekitar kita, kondisi mereka yang tergusur, mereka yang hak-haknya dirampas.

Kematian (kesadaran)

Tekanan yang ditopang oleh kenyamanan berakhir pada kematian kesadaran, sederhananya seperti itu. Mahasiswa lebih memilih untuk fokus pada studi dan menyelesaikannya tepat waktu bila perlu paling tercepat.

Alhasil, mereka lupa pada tugasnya sebagai kaum muda sebagaimana yang dikatakan oleh Pram: “Sejarah dunia adalah sejarah orang muda. Jika angkatan muda mati rasa, matilah semua bangsa.”

***

Penulisan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dicerna, membuat buku provokatif ini mudah dipahami oleh siapa saja. Terlebih, disertai fakta konkret yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pemuatan kalimat-kalimat bijak yang menggetarkan jiwa menjadi nilai tambahan tersendiri.

Meskipun apa yang diuraikan merupakan kenyataan riil dalam dunia kampus, namun tak dapat dinafikan bahwa mahasiswa yang idealismenya masih kokoh sungguh masih ada, baik bergerak secara personal maupun kolektif, terutama di bidang sosial.

Maka juga, perlu untuk disuguhkan guna meyakinkan bahwa perlawanan itu masih menyemai di bumi pertiwi. Hanya saja, masih tetap butuh cahaya yang lebih banyak guna menyinari mereka yang sedang berada pada kegelapan.

___________________

Artikel Terkait:
Muh Ridhal Rinaldy
Latest posts by Muh Ridhal Rinaldy (see all)