Secangkir Senja untuk Rara

Secangkir Senja untuk Rara
©Kompasiana

Secangkir Senja untuk Rara

Sore itu, angin berembus entah dari mana, menyerang dengan begitu dingin dari arah yang tidak jelas. Aku duduk di tengah-tengah keramaian, aku seperti terkutuk dalam sepi. Tak peduli seberapa besar suara di luar sana, tak pengaruh bunyi nyaring tetangga meja. Aku diam seolah sendirian di tengah hutan belantara yang hanya ada kicau burung.

Sesekali aku berbalik atau menghadapkan wajahku ke kanan, tak banyak benda-benda terkenal, hanya ada samar-samar dua tubuh mungil perempuan yang melakukan aktivitas sama, memesan minuman berharap yang datang adalah kebahagiaan. Lagian, minuman jenis apapun tak pernah bisa mengusir atau mengobati rasa yang sudah terlanjur kesepian.

Tanpa sadar tatapanku liar menelanjangi tubuh salah satu perempuan itu, namanya Rara. Bukan itu yang dia sebut, tapi aku bertahan dam merasa nama itu cocok. Maka terjadilah percakapan hangat yang lebih kurang dapat mengobati gigil tubuh yang disebabkan angin tak berasal tadi.

Aku mengenal Rara dan merasa begitu dekat, tak peduli baru kenalan. Aku ingin Rara menjadi sosok perempuan yang menghapus rekam dan jejak ingatanku tentang asmara di masa lalu.

Mengeja kedipan matanya, aku melihat ia tak begitu peduli. Mungkin hadir atau tidaknya diriku saat itu tak berdampak apapun dalam hidupnya yang bisa jadi sudah baik-baik saja bahkan sejak masih dalam kandungan.

Tetapi aku menganggap pertemuanku dengannya sebagai momentum, zaman peralihan. Dari bajingan berharap jadi baik. Rara menjadi inspirasi bagiku untuk menjadi manusia yang diharapkan banyak orang.

Walau setiap orang punya dunia yang relatif berbeda. Dunia Rara sangat berbeda dengan duniaku, tentunya. Di mana aku punya dunia yang gelap, hitam, kotor dan penuh kepalsuan. Dunia yang penuh hinaan, pun semua orang berharap bisa keluar dari jebakan kolot semacam itu.

Baca juga:

Mula-mula aku ragu untuk menyapa, tetapi sebagai lelaki yang lahir dari keluarga miskin, satu-satunya modal untuk tetap hidup adalah kejujuran. Aku harus jujur dan mulai membangun komunikasi.

Memulai dari ucapan, sekadarnya saja. Dari ucapan selamat malam, pagi, siang, sore dan ucapan-ucapan selamat lainnya. Sebagai jembatan silaturahmi agar komunikasi senantiasa hangat dalam pelukan semesta.

Hingga akhirnya aku memberanikan diri mengajaknya minum kopi. Walau aku tahu, ia tak begitu tertarik dengan hal-hal yang pahit, seperti kopi. Namun, ia menerima ajakanku, lalu datang ke tempat yang telah disepakati.

Keakraban semakin terjalin, walau masih sesekali sapaan saya terabaikan. Tapi aku merasa harus memberikan ucapan setiap saat, bukan karena aku ingin disukai, melainkan aku harus memperjuangkan yang aku sukai.

Lama-kelamaan aku juga mulai mengetahui Rara lebih jauh, walau statusnya masih misterius, dan bisa jadi ia sudah punya pacar kemudian akan segera menikah. Namun, aku tak peduli. Aku harus memperjuangkan sesuatu yang aku sukai, sekalipun hal itu merupakan kemustahilan.

Sampai saat ini, aku masih menyukai Rara, bermula dari pertemuan tak disengaja di salah satu taman kota di pelosok negeri ini. Pertemuan tersebut tak menyimpan apa-apa bagi Rara, tak juga meninggalkan apa-apa. Tapi bagiku, pertemuan itu istimewa dan menyenangkan.

Kesederhanaan Rara membuatku takjub, seolah menyihir diriku untuk menerima kenyataan bahwa hidup pada dasarnya adalah kesederhanaan. Sementara kemewahan hanyalah semu dan berbahaya.

Pada tulisan ini, aku tak akan menguraikan terlalu jauh tentang perjalanan singkat ini. Hanya ingin menyampaikan pada dunia bahwa lelaki bisa saja jatuh cinta pada perempuan dari tempat paling biasa dengan cara yang paling sederhana, pun tak terduga.

Baca juga:
Burhan SJ