Sejarah, SARA, Caci Maki

Sejarah, SARA, Caci Maki
©Elemendaynews

Dalam sayembara-sayembara kepenulisan, poin ‘tidak boleh menyinggung SARA’ seakan sudah menjadi syarat mutlak yang mesti dicantumkan panitia, tanpa dirinci lebih jauh apa yang dimaksudkan dengan itu.

Beberapa tahun silam, cerpenis Seno Gumira Ajidarma pernah berujar, “Ketika pers dibungkam, sastra harus bicara.”

Saya kira hal ini tentunya berlaku pula ketika kita berhadapan dengan sejarah yang manipulatif; sejarah yang puluhan tahun diselewengkan oleh kekuasaan otoriter. Sehingga, ia—sejarah milik pemenang itu—mesti ditulis ulang demi menghindarkan kita dari wabah amnesia. Dan di sinilah sastra seyogianya hadir sebagai sebentuk ikhtiar dalam melawan lupa sekaligus menolak bungkam.

Dengan begitu, ia (baca: sastra) tak ubahnya tokoh Aureliano Buendia dalam novel One Hundred Years of Solitude karya Gabriel Garcia Marquez yang mencoba menempelkan nama-nama pada setiap benda demi menyelamatkan kenangan warganya saat wabah menakutkan yang diawali gejala insomnia itu melanda Macondo.

Namun demikian, sastra bukan amanat agung. Ia barangkali hanyalah suara lamat-lamat yang berupaya melawan kerapuhan ingatan manusia di tengah “realitas yang semakin kehilangan arti” lantaran sebuah pembantaian keji atas 3000 jiwa di lapangan stasiun Macondo, misalnya. Bukan saja tak pernah diakui, tetapi terus-menerus dibantah, baik oleh pihak yang berkuasa maupun masyarakat yang terintimidasi.

“Tak ada satu pun orang yang mati di sini. Sejak zaman pamanmu, kolonel itu, tak ada yang terjadi di Macondo,” demikian kata seorang wanita yang ditemui Jose Arcadio Segundo setelah ia lolos dari kereta api pengangkut mayat para korban penembakan brutal oleh tentara pemerintah itu.

Seperti dikisahkan Marquez, mayat-mayat tersebut (bukan hanya para pekerja perusahaan pisang Amerika yang melakukan pemogokan dan demonstrasi, tapi juga kaum wanita dan anak-anak) ditimbun dalam gerbong-gerbong kereta seperti menimbun pisang bertandan-tandan, kemudian dilempar ke laut seperti pisang busuk.

Toh seluruh penduduk Macondo akhirnya memilih jadi penderita amnesia setelah “versi resmi” diulang ribuan kali dan disebarluaskan ke seluruh negeri oleh alat-alat komunikasi yang dikuasai pemerintah. Semua orang lebih memilih menerima fakta yang ditegaskan oleh pihak militer: “Kau tentulah sedang bermimpi. […] Tak ada yang terjadi di Macondo, tak ada yang pernah terjadi, dan tak akan ada yang terjadi. Ini kota yang tenteram.”

Ya, hanya Jose Arcadio Segundo, cucu pendiri Macondo itulah satu-satunya saksi hidup yang menolak “lupa ingatan” dengan risiko ia harus disembunyikan di dalam kamar.

Baca juga:

Inilah, ujar Marquez dalam Pidato Nobel-nya 8 Desember 1982, ukuran sesungguhnya dari kesunyian Amerika Latin, yang selama berabad-abad diperas habis-habisan dan tak henti-hentinya dibakukan oleh Eropa, lalu Amerika Serikat. Sehingga sejarah itu—yang telah terkoyak-moyak oleh penaklukan dan kekalahan—layaknya wabah amnesia yang mesti terus-menerus dilawan.

Maka, dengan memanfaatkan Magical Realism yang disebut-sebut sebagai gaya paling cocok bagi penceritaan ranah pascakolonial, ia pun mencoba melawan dengan jalan meretas sebuah sejarah alternatif bagi benuanya yang tertindas. Yang mana ia dalam hal ini tampak bagi kita bagaikan sosok Pilar Ternera pada novel itu yang menyusun seluk-beluk membaca masa lalu lewat kartu-kartu, setelah lebih dulu membaca masa depan.

Kendati dengan cara begitu, orang-orang Macondo yang terserang amnesia harus hidup dalam suatu dunia yang dibangun di atas alternatif-alternatif tak pasti yang tertera dalam kartu:

“Di mana seorang ayah dengan susah payah hanya diingat sebagai lelaki hitam yang tiba pada permulaan April, dan seorang ibu hanya diingat sebagai wanita hitam yang memakai cincin emas di tangan kirinya, dan tanggal kelahirannya telah direduksi sampai hari Selasa yang lalu, di mana seekor burung lark bernyanyi di atas pohon salam.”

Betapa mengiriskan. Tetapi itulah—seperti kata penyair Karibia, Derek Walcot—sastra pascakolonial yang mesti ditulis kembali demi kepercayaan diri bangsa bekas budak.

Lantas, bagaimana dengan kita yang notabene juga bekas bangsa terjajah?

***

Bangsa Indonesia ternyata tak hanya bangsa yang paling pemaaf di atas muka bumi, namun juga bangsa yang paling mudah dijangkiti oleh penyakit amnesia.

Bukan saja karena kita tampaknya tak memiliki secuil dendam pun pada Belanda yang selama 3,5 abad menghisap kita habis-habisan, Jepang yang telah menjadikan kita budak romusha dan jugun ianfu, atau dengan enteng mengusulkan gelar pahlawan nasional untuk seorang mantan diktator yang bertanggung jawab atas pembantaian 3 juta rakyat; tetapi sering kali kita juga tanpa rasa malu mengembangkan mentalitas inlander yang kelewatan.

Segala hal yang “berbau bule”, contohnya, dianggap sebagai sesuatu yang “keren”. Namun, pada saat yang sama juga kerap menilai sejarah pra-kolonial dan kebudayaan “asli” kita sebagai sejarah agung dan budaya adiluhung yang tak bercacat-cela.

Halaman selanjutnya >>>
Sunlie Thomas Alexander
Latest posts by Sunlie Thomas Alexander (see all)