SEJUK: Yang Dilakukan Media terhadap Transgender Itu Jahat!

SEJUK: Yang Dilakukan Media terhadap Transgender Itu Jahat!
©SEJUK

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) merespons pemberitaan media terhadap transgender. Pihaknya menyesali kebanyakan pemberitaan yang punya tendensi kuat menyudutkan dan merendahkan: orang menyimpang, harus disembuhkan; pelaku penyerangan seksual.

“Buku, televisi, dan film terus-menerus menghadirkan transgender dengan gambaran sama: pembunuh, perilaku bertentangan norma masyarakat (sociopath), dan predator seksual (Emma Reynolds, CNN, 2020),” tulisnya di akun media sosial (10/4).

Menurut lembaga jurnalis yang didirikan pada 2008 ini, cara media menampilkan kriminalitas yang melibatkan transgender juga jauh dari adil, di mana identitas gender dan seksualitas yang justru sering ditekankan. Hal ini berbeda jika pelaku pembunuhan adalah heteroseksual, maka identitas gender dan orientasi seksualnya mustahil dieksploitasi.

“Tapi ketika pembunuhan atau kejahatan lainnya melibatkan transgender, maka bukan kasus atau kriminalitasnya yang menjadi fokus pemberitaan, tetapi identitas gendernya.”

SEJUK pun mengajak untuk membandingkan beberapa jumlah kasus kriminalitas atau pembunuhan yang didata kepolisian yang pelakunya heteroseksual.

“Cobalah cek dan bandingkan, apakah pelaku transgender lebih banyak? Ayolah berpikir dan bersikap yang adil! Mungkinkah gambaran-gambaran media yang menyudutkan tersebut menyebabkan kebencian dan brutalitas publik atau masyarakat terhadap transgender terus menguat?”

SEJUK kemudian mengutip catatan dari peneliti transpuan Steph K Halim terkait meningkatnya kasus pembunuhan terhadap transpuan. Pada 2016, misalnya, terdapat 3 transpuan yang dibunuh. Kasusnay terus bertambah di tahun-tahun setelahnya (2017 – 2019).

“2020 pun terus terjadi pembunuhan terhadap transpuan. Ini di Indonesia.”

Temuan lain yang dikutip datang dari survei The European Union Agency for Fundamental Rights. Pada 2020, satu dari 5 transgender dan interseks diserang secara seksual maupun fisik dalam 5 tahun terakhir.

Sangatlah tepat, jelas SEJUK, jika Arus Pelangi mendorong transgender (transpuan dan transpria) demi membekali keterampilan/skill untuk menyuarakan diri dan menghadirkan komunitasnya secara lebih adil dan manusiawi.

“Setelah 2019 lalu ada transpuan yang magang di SEJUK untuk mengasah pengalaman dan keterampilannya dalam bermedia, tahun ini dua kawan (transpuan dan transpria) bersama SEJUK belajar bagaimana menampilkan transgender di media secara bermartabat dan mengedukasi masyarakat melawan transfobia.”