Semangat RUU Cipta Kerja Menyukseskan Bonus Demografi

Semangat RUU Cipta Kerja Menyukseskan Bonus Demografi
©CNBC Indonesia

Nalar Warga – Salah satu semangat RUU Cipta Kerja adalah membuka lapangan kerja seluas-luasnya dalam rangka memanfaatkan jendela peluang bernama bonus demografi agar tidak terjebak di middle income trap.

Aku mulai dari apa itu bonus demografi. Bonus demografi adalah transisi kependudukan di mana penduduk usia produktif berjumlah sekurangnya 2 kali penduduk usia tidak produktif. Puncak bonus demografi akan terjadi pada 2024. Kunci dalam menyukseskannya adalah produktivitas.

Berbicara produktivitas, kita berbicara 3 komponen paling penting: 1. Penduduk yang sehat; 2. Penduduk yang terampil dan/atau terdidik; 3. Penduduk yang memiliki pekerjaan.

Singkatnya, komponen-komponen tersebut diramu untuk mewujudkan 2 prakondisi, yang menghubungkan kesuksesan dalam memetik bonus demografi dengan RUU Cipta Kerja, yaitu: 1. Lapangan pekerjaan yang tersedia; 2. Sebaran dan kualitas SDM Indonesia yang sesuai dengan kebutuhan industri dan potensi usaha.

Kita sering membahas tentang terbukanya lapangan pekerjaan dan kemudahan usaha ketika bicara RUU ini. Apa kemudian RUU ini cukup untuk membawa kita ‘harness‘ bonus demografi? No! Kita membutuhkan SDM yang sesuai dengan iklim usaha dan kebutuhan industri.

Sebagai gambaran tentang keadaan terkini, (i) ILO menemukan bahwa lebih dari separuh orang Indonesia bekerja tidak sesuai dengan latar belakang skill pendidikannya (baik secara tingkat maupun subjek); (ii) UNFPA menemukan bahwa sebagian mereka yang lulus vokasi membutuhkan waktu lebih dari 1 tahun untuk mendapatkan pekerjaan; (iii) Menkeu temukan bahwa sebagian besar pengangguran di Indonesia adalah lulusan sekolah vokasi.

Ironinya, SMK dibuat untuk mencetak SDM siap serap. Ini membuktikan bahwa sistem dan regulasi kita tidak mencetak SDM yang sesuai kebutuhan pasar tenaga kerja/usaha. Sedangkan, basic principle dari SDM yang produktif adalah SDM yang bekerja/usaha sesuai keahlian dan pendidikan.

Ketidaksesuain antara kualitas SDM dengan kebutuhan industri/usaha hanya akan memperpanjang clash kepentingan antara pekerja yang tidak produktif dan pengusaha yang menginginkan profit. RUU Cipta Kerja yang semangatnya ingin menyukseskan bonus demografi kosong di sini.

Saya mencoba menarik kesimpulan terkait RUU Cipta Kerja yang semangatnya ingin menyukseskan bonus demografi: 1. RUU Cipta Kerja sudah cukup baik men-cover kebutuhan untuk dibukanya lapangan pekerjaan (demand); 2. Tapi RUU Cipta Kerja belum cukup men-cover sisi supply.

Inilah kurang lebih concern-ku soal (R)UU Cipta Kerja.

*Dedek Uki Prayudi