Sensualitas Poliglotisme Penulis

Sensualitas Poliglotisme Penulis
©Getty Images/Peter Dench

Poliglotisme adalah sensualitas sebuah kearbitreran bahasa. Tidak ada batasan yang perlu dibuat. Biarkan dia menari bebas di lautan.

Sebuah perkataan seorang yang lembut dan cukup menarik untuk disimak. Abu Yazid al-Busthamy berkata, “Kami menyelami lautan yang para Nabi sudah berhenti di pantainya.”

Saya tidak akan membahas kata mutiara itu dari sisi ketuhanan. Namun, saya meminjamnya untuk menggambarkan seksinya bahasa yang manasuka (arbitrer) di tangan seorang penulis poliglot.

Ketika distingsi antara linguis dan poliglotis menajam, di situlah kata mutiara tersebut sebagai penengah. Artinya, seorang linguis (ahli bahasa) dan poliglotis (penutur multibahasa) harus bersanding mesra, saling mengisi dan mengasihi.

Baik linguis ataupun poliglotis sama-sama lahir dari rahim yang sama, yaitu arbitrer (manasuka) dari sebuah bahasa yang bersistem.

Ketika para linguis duduk kaku di belakang meja sambil utak-atik fonologi, morfologi, sintaks, semantik, pragmatik, dan gangguan konten bahasa, maka di situ pula para poliglotis melakukan hal yang sama sambil menari-nari lincah dan gemulai.

Ketika kecendekiaan ilmuwan (scientist) dan para pandit yang suci (scholar) telah dan terus menghasilkan konsep-konsep ilmiah yang dituangkan dalam perangkat peristilahan, maka di situ pula keduanya, baik linguis dan poliglotis, akan bergandengan tangan menyambutnya.

Jadi, sensualitas keduanya akan menunjukkan daya tariknya masing-masing. Apalagi keduanya, linguis dan poliglotis, bertemu dalam alam kepenulisan, maka indahlah dunia arbitrer yang bersistem ini.

Penulis poliglotis akan terus memproduksi kata-kata dari hasil interaksinya dengan berbagai macam sistem dan bunyi bahasa. Di saat yang sama, linguis akan disibukkan untuk meneliti, menganalisis, dan rapat sana-sini untuk penetapan istilah-istilah yang arbitrer tersebut dalam sebuah sistem yang baku yang nantinya harus ditaati, dan disosialisasikan.

Penulis poliglotis akan selalu berinteraksi dengan dunia luar yang mahaluas. Bahasa-bahasa yang dipelajari seorang penulis poliglotis tentunya sekaligus akan memberikan pengalaman budaya dari bahasa yang dipelajari. Di sinilah sensualitas tersebut.

Ketika penulis poliglotis menyerap budaya lain yang diperolehnya, maka selanjutnya ia akan berhadapan dengan istilah-istilah yang sudah mapan atau sudah dibakukan linguis setempat. Di saat itu pula, kadang-kadang seorang linguis sedikit tertinggal oleh para penulis poliglotis dalam urusan reka peristilahan.

Penulis poliglotis akan berpikir tiap hari untuk menciptakan istilah yang perlu diciptakan untuk memenuhi kebutuhan penulisannya.

Penulis poliglotis akan resah dan gelisah ketika peristilahan yang ia ciptakan tidak ditemukan dalam baku sistem yang ditetapkan linguis. Harus menunggu berbulan-bulan pemutakhiran istilah oleh lingus yang tergabung dalam Badan Bahasa.

Penulis poliglotis akan merasa miskin ketika penulisannya hanya dikayakan oleh kata-kata baku yang itu-itu saja. Sesungguhnya ilmu dan pengetahuan itu sangat luas.

Semestinya, sifat arbitrer (manasuka) dari sebuah bahasa dapat mengiringinya agar terakomodasi dalam pemroduksian peristilahan. Konsep ilmiah yang sudah dihasilkan ilmuwan yang cendekia dan para pandit suci semestinya harus secepat mungkin dapat diperistilahkan secara cepat dan tepat pula.

Ketika disadari bahwa penulis poliglotis memerlukan istilah baru untuk penyegaran tulisannya, namun kenyataan di lapangan berkata lain. Peristilahan yang juga banyak datang dari luar nyatanya sudah dilambangkan dengan istilah bahasa asing masing-masing.

Penulis poliglotis akan selalu sadar bahwa ada kemungkinan kegiatan ilmuwan yang cendekia dan pandit suci Indonesia akan mencetuskan konsep ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang sama sekali baru sehingga akan diperlukan penciptaan istilah baru. Di situlah peran penulis poliglotis diperlukan.

Sebab, tidak ada satu bahasa pun di dunia yang sudah memiliki kosakata superlengkap yang tidak memerlukan lagi ungkapan untuk gagasan, temuan, atau rekacipta yang baru. Kecuali bahasa Tuhan (lingua sacra), menambahinya berarti pendosa.

Bahasa Inggris yang internasional utama itu juga akan terus menyerap kata dan ungkapan dari bahasa-bahasa lain, yang jumlahnya hampir tiga per lima dari seluruh kosakatanya. Di sinilah diperlukan kelincahan para penulis poliglotis untuk mengakomodasi ke bahasanya masing-masing.

Sejalan dengan itu, bahan istilah Indonesia diambil dari berbagai sumber, terutama dari tiga golongan bahasa yang penting, yakni Bahasa Indonesia, termasuk unsur serapannya, Bahasa Melayu, dan Bahasa Nusantara yang serumpun, termasuk bahasa Jawa Kuno. Untuk bahasa asingnya, selain Bahasa Inggris dan Bahasa Arab, perlu juga diperluas memasukkan unsur bahasa dunia lainnya.

Ahli bahasa atau linguis tak perlu memaksa bergelut dengan ganasnya ombak arbitrer. Biar kami penulis poliglotis yang akan menghadapinya.

Baca juga:

Artinya, untuk menjadi linguis, tidak perlu jadi poliglotis. Namun, seorang penulis poliglotis harus merangkap sebagai linguis. Sebab, penulis poliglotis juga mengemban amanat arbitrer yang tersistem.

Seorang linguis mungkin saja bisa menguasai banyak bahasa. Namun yang menjadikannya sebagai seorang ahli bahasa (linguis) adalah bukan dari segi poliglotisme tersebut.

Adapun poliglotisme itu sendiri bisa menjadi sebuah efek dari aktivitas seorang ahli bahasa. Hal tersebut dikarenakan seorang linguis akan selalu menanamkan cara berpikir yang sistematis.

Di samping itu, seorang linguis selalu dalam kondisi analisis berpikir yang mendalam terhadap segala sesuatu yang ada dalam sebuah bahasa. Hal itulah yang kemudian akan merangsang si linguis untuk mempelajari bahasa-bahasa lain. Jadi, sisi bertolaknya berbeda antara linguis dan penulis poliglotis.

Linguis tak perlu kasar berkata bahwa penulis poliglotis yang mampu menguasai banyak bahasa, namun tidak bisa menjelaskan seluk-beluk bahasa tersebut. Itu adalah dugaan yang kurang tepat.

Penulis poliglotis juga mengemban tugas seorang linguis. Ia akan hati-hati dan cermat untuk menganalisis segi linguistiknya. Penulis poliglotis akan selalu memakai analisis di tingkat deskriptif yang berawal dari sebuah pengalaman perspektifnya ketika berinteraksi dengan bahasa lain.

Penulis poliglotis itu ibarat persona yang mempunyai kekayaan glotis berlimpah. Ia akan menari-nari dengan rima glotis yang mahaluas. Selama napas arbitrernya teratur, maka tak perlu khawatir ia akan megap-megap kekurangan inovasi peristilahan.

Linguis juga tak perlu menetapkan berapa banyak bahasa yang dituturkan oleh seorang yang dianggap sebagai penganut poliglotisme. Linguis tak perlu meragukan tingkat kemahiran untuk menuturkan beberapa bahasa asing yang dikuasai penulis poliglotis. Tak perlu juga membuat kesepakatan mengenai berapa banyak bahasa yang harus dikuasai seseorang agar bisa disebut poliglot.

Sungguh, penulis poliglotis tak perlu itu semua, seperti halnya yang diungkap ahli bahasa (linguis) Richard Hudson yang memakai kata “hiperpoliglot” untuk menyebut orang yang fasih berbicara dalam enam bahasa atau lebih.

Poliglotisme adalah sensualitas sebuah kearbitreran bahasa. Tidak ada batasan yang perlu dibuat. Biarkan dia menari bebas di lautan.

Kefasihan dan tingkat kepahaman seorang penulis poliglotis dapat dilihat dengan penguasaan secara aktif dan pemakaian asertif kosakata-kosakata khusus terbatas dalam tulisannya. Jadi secara ideologis, bukan dengan melihat berapa banyak bahasa asing yang dikuasainya.

Seorang penutur asli bahasa asing yang memakai 1.000 dari 40.000 – 50.000 kosakata bahasanya dalam tulisannya tak akan menggagalkan tarian erotis seorang “poliglot” yang hanya menguasai kurang dari kosakata penutur bahasa asing tersebut.

Kita lihat bagaimana poliglotisme menghasilkan tokoh-tokoh dunia seperti Soekarno (1901-1970). Presiden pertama Republik Indonesia itu mampu berbicara bahasa daerah, yaitu Jawa, Sunda, dan Bali. Ataupun berkemampuan bahasa asing, yaitu Belanda, Jerman, Prancis, Arab, dan Jepang.

Lihat juga bagaimana sensualitas poliglotisme yang ada pada Dr. Jose Rizal (1861–1896), pahlawan nasional Filipina yang sekaligus seorang optometris, seniman, penulis, dan ilmuwan yang mampu menuturkan 22 bahasa.

Belum lagi Agus Salim, mantan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia yang menguasai 7 bahasa asing. Dan juga R.M.P. Sosrokartono (1877–1918), kakak RA Kartini, sang penerjemah dan koresponden berita perang untuk The New York Herald Tribune yang mampu berbicara dalam 34 bahasa. Juga ada Nikola Tesla (1856–1943), penemu, fisikawan, teknisi mekanik, dan teknisi listrik Serbia-Amerika itu menguasai.

Untuk masa kekinian, kita punya almarhuma Gayatri Wailissa (1998-2014), seorang gadis Ambon, Maluku, yang menguasai 13 bahasa asing.

Seorang poliglotis akan cenderung menjadi seorang polimatik atau polimatia (polymath) atau seseorang yang pengetahuannya tidak terbatas hanya pada satu bidang. Seorang polimatik juga dapat diartikan sebagai seseorang yang memiliki wawasan sangat luas. Kebanyakan ilmuwan kuno adalah seorang polimatik dan sekaligus juga seorang poliglot ataupun hiperpoliglot.

Di akhir tulisan ini, saya kembali ke kata mutiara seorang halus, Abu Yazid al-Busthamy yang berkata, “Kami menyelami lautan yang para Nabi sudah berhenti di pantainya.”

Dalam sebuah parafrasa bebas sesuai topik, saya akan mengatakan: biarlah para penulis poliglotis yang menghadapi kerasnya ombak kearbitreran bahasa di luar sana. Sedang untuk linguis, susunlah kearbitreran yang sudah dijinakkan oleh poliglotis tersebut dalam sebuah sistem yang indah.

    Yudho Sasongko
    Latest posts by Yudho Sasongko (see all)