Sesaat Nama Indonesia Menjulang

Sesaat Nama Indonesia Menjulang
©Infoyunik

Nalar Warga – Serta-merta mata dunia tertuju pada negeri 17 ribu pulau itu. Decak kagum terdengar dari mulut mereka sekaligus menyimpan tanya yang sulit dijawab dalam satu momen bersama.

Bagaimana tidak, saat dunia tenggelam dalam resesi akibat Covid-19 dan lalu dilanjutkan oleh dampak perang Rusia-Ukraina, Indonesia justru terlihat sedang berpesta. Secara serempak rakyat Indonesia membelanjakan uangnya dalam jumlah fantastis dalam satu momen.

Selama satu minggu menjelang dan saat Idulfitri yang baru lalu, ada sekitar 85 juta orang dari seluruh Indonesia melakukan perjalanan mudik secara serempak. Konon, dari Jabodetabek saja tercatat ada 1,7 juta kendaraan keluar.

Satu hal paling spektakuler, hanya dalam satu minggu itu, ada uang dibelanjakan sejumlah 42 triliun rupiah! Mengambil nilai rata-rata, itu setara dengan 5 juta rupiah per orang mereka belanjakan hanya dalam 1 minggu itu saja.

Itu angka sangat luar biasa. Itu bahkan angka yang langsung mengalahkan pengeluaran rata-rata per orang dari salah satu negara terkaya di dunia, Singapura. Data bicara bahwa biaya hidup per keluarga di Singapura adalah setara dengan 50 juta rupiah per bulan.

Bila keluarga itu terdiri dari 4 orang, bapak, ibu, dan dua anak, rata-rata pengeluaran mereka adalah 12,5 juta per orang per bulan atau 3,1 juta rupiah per orang per minggu.

Dengan jumlah rata-rata pengeluaran para pemudik kita setara dengan 5 juta rupiah per orang dalam 1 minggu, itu 1,5 kali lipat lebih tinggi dibanding dengan pengeluaran mingguan dari warga Singapura.

Padahal, dalam fakta per kapita, Indonesia bahkan kurang dari 10 persen per kapita negeri “seupil” versi Fahri Hamzah itu. Per kapita negeri itu US $ 51 ribu dan kita hanya sekitar US $ 4 ribu saja.

Baca juga:

Tak pantaskah dunia terbelalak? Tak pantaskah negeri kita mereka bicarakan dengan nada penuh bingung?

Luar biasanya, tak seorang pun pengamat ekonomi dari luar itu bertanya berapa utang pemerintah Indonesia.

Bagi banyak para ahli, utang bukan instrumen terbesar apalagi satu-satunya saat membuat ukuran sebuah negara makmur atau tidaknya. Bagi sebagian dari kita, itu cerita berbeda.

Warga asing itu justru sibuk berpolemik terkait cara negeri ini mampu keluar dari resesi parah kali ini. Mereka juga terlihat sibuk mencari tahu ada apa dengan Indonesia sehingga demikian sakti, bukan hanya bertahan dari krisis tapi justru membelanjakan duit luar biasa besar di saat negara lain sedang berhemat.

Dan itu adalah bukti nyata yang tak butuh lagi perdebatan. Itu parameter atau petunjuk pasti bahwa negeri ini TIDAK SEDANG dalam keadaan KACAU seperti digambarkan oleh pihak oposisi apalagi para pembenci pemerintah.

Tak ada nalar dapat dibangun atas fakta sebuah negeri kacau dan miskin namun sukses menggelar hajatan besar dengan melibatkan 85 juta rakyatnya dan dengan pengeluaran hingga 42 triliun hanya dalam 1 minggu saja. Itu pasti cerita tentang sebuah negeri yang sukses.

Bukan hanya sisi ekonomi, di saat banyak orang di belahan dunia yang lain masih banyak yang harus dikarantina dalam kesendiriannya, kita berkumpul. Kita bergembira dalam suasana kebersamaan keluarga.

Kita bersalam-salaman dan bercanda tanpa jarak. Kita merayakan hari saling memberi maaf dalam saling berpelukan.

Halaman selanjutnya >>>
Warganet
Latest posts by Warganet (see all)