Sesat Pikir Populisme Reaksioner

Sesat Pikir Populisme Reaksioner
Ahok & Anies (Ilustrasi: Liputan6)

Nalar Warga – Apa yang sedang dijalankan oleh Anies Baswedan hari ini di Jakarta adalah sejenis pemerintahan populisme reaksioner.

Mengandalkan sentimen keberpihakan kepada rakyat kecil, Anies membangun citra yang sama sekali berbeda dengan pendahulunya. Jika Ahok dikesankan suka menggusur, maka dia menampilkan diri sebagai perangkul.

Akan tetapi, populisme reaksioner hanya reaksi yang sesungguhnya tidak menawarkan apa-apa. Ia bermain di wilayah psikologis, rasa-merasa, seolah-olah. Rakyat kecil dibuai dengan mimpi keperpihakan, tetapi pada dasarnya mereka dilemahkan secara perlahan.

Karena, bahkan di tataran ekonomi, populisme reaksioner sama sekali tidak menggunakan logika pasar. Lihat saja Tanah Abang. Penutupan jalan untuk PKL justru akan membuat akumulasi modal berkurang. Mengingat kesemerawuatannya, para pembeli akan berpikir ulang untuk datang ke sana.

Belum lagi soal politik dan hukum. Pada dasarnya populisme reaksioner hanyalah sarana untuk membagi sumber daya di sekitar penguasa. Apakah layanan publik berjalan atau tidak, bukan lagi menjadi fokus perhatiannya.

Di atas segalanya, populisme reaksioner membutuhkan fondasi yang itu didapatkannya dari agama. Lebih dari politik identitas lainnya, agama menyediakan seperangkat justifikasi yang bisa digunakan oleh penguasa populis memoles dirinya. Tidak apa-apa layanan publik memburuk, asalkan umat bisa kumpul di Monas kapan saja.

Pola populisme reaksioner seperti ini, saya kira, juga akan dijalankan oleh Prabowo Subianto jika dia terpilih menjadi presiden.

Tanpa harus menunggu nanti, sekarang pun kita bisa melihat tema-tema kampanyenya yang hanya merupakan reaksi terhadap lawan politiknya. Yang digali terus menerus adalah sentimen antipati, bukan tawaran visi dan program yang bisa direalisasikan.

*Amin Mudzakkir

___________________

Artikel Terkait:

    Warganet

    Pengguna media sosial
    Warganet

    Latest posts by Warganet (see all)