Shadow, Sisi Gelap yang Direpresi

Shadow, Sisi Gelap yang Direpresi
©Amelia Devina

Shadow berisi insting primitif dan negatif. Ini sisi buas dan kebinatangan pada manusia, yang secara religius dan sosial tidak terapresiasi.

Manusia itu makhluk unik, penuh enigma. Sepanjang hidup, ia belajar. Segala yang ada di bawah kolong langit dan di atas bumi adalah laboratorium. Ladang observasi.

Ia mempelajari kosmos, mempelajari lingkungan, dan mempelajari orang lain. Ia juga mempelajari diri sendiri.

Dengan observasi, ia memperluas sudut pandang. Dengan refleksi, ia menyelami kedalamannya. Pada akhirnya, ia memiliki pengalaman-pengalaman, kesan-kesan. Darinya, sikap ia ambil, tindakan ia lakukan.

Bagi sebagian pengalaman yang berkesan akan tersusun rapi dalam ingatan. Namun, pengalaman yang tidak ia sukai, ia tekan, ia represi.

Hal yang tidak berkenan ia buang dan abaikan. Ini termasuk pengalaman-pengalaman yang lemah untuk menciptakan kesan sadar padanya.

Pada akhirnya, pengalaman-pengalaman yang sebelumnya ia sadari itu ia pukul mundur, ia sudutkan, dan terpojok pada ruang ketaksadaran.

Apakah kesan-kesan, pengalaman-pengalaman yang berada di bilik ketaksadaran itu lenyap? Tidak!

Ia bahkan telah menjadi koleksi. Turut serta dalam menyetir kesadaran kita. Dengan mengendap-ngendap mengarahkan diri kita untuk berbuat sesuatu.

Bagi pengalaman yang tidak berkesan dan ia anggap buruk pada akhirnya menjadi shadow; sisi gelap dari seseorang.

Sisi Buas

Shadow berisi insting primitif dan negatif. Ini sisi buas dan kebinatangan pada manusia, yang secara religius dan sosial tidak terapresiasi. Sebagaimana kejahatan, kemarahan, rasa iri, sakit hati, keserakahan, dan sebagainya.

Shadow, sebagaimana hakikatnya, cenderung terepresi. Ia tidak diakui keberadaannya. Untuk itu, berusaha untuk orang sembunyikan.

Paradoksnya, segala yang terepresi dan menjadi shadow berupaya dengan segenap diri untuk diproyeksikan ke luar dari dirinya. Ia mengatributkan apa yang ada padanya sebagai yang buruk kepada orang lain.

Padahal, di dalam dirinya, sebenarnya telah bersemayam segala jenis kejahatan yang dikutuk secara sosial. Ia tidak mau dianggap kriminal, penjahat, pemarah, curang, serakah.

Maka, tindak kekerasan berlaku. Kekerasan yang bersifat individual bahkan menjadi tindakan kolektif. Dan ini adalah ekpresi dari shadow.

Shadow bahkan dapat menjelma menjadi peperangan, kebencian terhadap ras tertentu, bahkan permusuhan antaragama.

Mereka saling menyebut bahwa orang lain adalah penjahat, kriminal, yang pada intinya mengambing-hitamkan orang lain yang sebenarnya bagian dari upayanya menolak shadow-nya sendiri.

Dan sialnya, setiap dari kita bersemayam sisi gelap itu. Sebuah shadow yang berupaya mencari jalan ke luar untuk menyerang orang lain. Tidak jarang, ia terbungkus dengan kedok agama, keunggulan ras, dan atas nama kebenaran, yang jika kita telisik lebih jauh, sebenarnya irasional.

Baca juga:
    Edi Subroto