Si Bungsu Bukanlah Malaikat

Si Bungsu Bukanlah Malaikat
Foto: Triumph

Coba kamu bayangkan, pagi, sore, dan malam tak mendengar suara kedua orang tuamu. Dan lihatlah ia, bocah kecil itu. Ia menanggung segala kerinduan akan suara kedua orang tuanya.

Malam telah usai dan pagi telah menyambut, sementara Lail masih menikmati tidurnya.

Lail adalah nama Si Bungsu yang sudah sekian hari, bulan, dan tahun besar tanpa kedua orang tuanya. Ketegaran seorang bocah yang baru berumuran 10 tahun hidup dan besar tak melihat bapak-ibunya. Bayangkan saja, Lail sekarang sudah masuk di bangku SMP yang tidak jauh dari rumah yang ia tempati.

Sekarang ia tinggal bersama kedua kakak dan neneknya. Lail sangat mereka sayangi, apalagi oleh nenknya. Rasa sayang itu terlihat ketika Lail dimarahi kakaknya yang lantaran Lail buat ulah. Neneknya berkata, “Tidak ada yang boleh memarahi cucu saya Lail, apa pun kesalahannya.”

Ia berkata seperti itu sebab nenek Lail mengerti akan keadaan cucunya. Dengan sebab, Lail cenderung mudah marah dan akan mengingat semua perkataan yang diucapkan kepadanya.

Saat itu, sesudah Ramadan dan sampai Idulfitri selesai, tak lama kemudian orang tua Lail berkeinginan untuk mengubah nasib dan melakukan perantauan di wilayah yang cukup jauh dari kehidupan Lail. Pada saat itu, Lail hanya duduk diam memandangi muka ibunya dan memperlihatkan bahwa ia menolak akan kepergian ibunya.

Di bulan itu, serasa ada hujan lebat yang mengguyur keluarga Lail. Lail yang masih kecil memanggil bapaknya agar ibunya tidak jadi pergi. Sementara bapaknya tak bisa berbuat apa-apa. Sebab ia sudah tidak menjadi petani penggarap lagi, sejak tanah itu berpindah tangan.

Peristiwa perpindahan tangan tanah garapan itu, memakan banyak korban dari teman-teman penggarap. Sehingga penghasilan untuk menutupi pengeluaran sanak keluarga tak cukup lagi. Akibatnya, harus ada yang meninggalkan keluarga dan kampung halaman untuk mengisi tempat makan dan uang sekolah saudara-saudara Lail.

Lail pun bertanya, “Mengapa bukan bapak yang pergi di perantauan?”

Dan saudara Lail pun menanyakan kepada ibunya perihal pertanyaan Lail. Ibunya terdiam dan takut untuk berbicara sebab kecewa akan ditanggung bapaknya terhadap anaknya.

“Biar bapak saja yang di rumah menemanimu di sini. Sebab sebulan lagi bapak akan cari kerja di sini dan doakan saja semoga bapak cepat dapat kerjaan,” kisah ibunya.

“Amin, amin, amin,” sahut sang kakak.

Namun ternyata, ibu hanya takut jikalau bapak yang pergi mengingat bapak tidak bisa membaca; buta huruf. Ibu Lail sangat menyayangi bapak layaknya Layla dan Majnun. Bedanya, Layla dan Majnun tidak bisa bersatu seperti posisi mereka yang sampai sekarang masih bersama ini.

Tanggung jawab tetap tanggung jawab, keegoisan kata untuk kaum laki-laki. Namun ibu Lail adalah orang yang sangat pengertian. Tapi, orang-orang akan menganggap itu adalah aib.

Tapi, ah, di pikiran ibu Lail hanyalah pekerjaan untuk memenuhi kehidupan keluarga dan uang pendidikan Lail. Sementara Lail tetaplah anak-anak yang mungkin saja tak akan pernah mengerti, sampai ia tahu bahwa pergi akan tetap terjadi dalam kehidupan.

Di suatu waktu, Lail bertanya pada kakanya. Lail yang baru saja selesai mandi dan makan ingin ke Masjid bersama teman-teman sebayanya.

“Kak, sudah berapa tahun ibu merantau? Apakah bapak juga akan pergi ? Kalau iya, ibu-bapak akan meninggalkan Lail, ya?”

“Entah kata dan jawaban apa yang cocok untuk kuucapkan dalam menjawab pertanyaan Lail,” jawabnya.

Sementara bapak akan menyusul ibu di perantauan. Namun Lail tetaplah anak kecil yang bisa saja kecewa melihat kepergian bapaknya.

Mungkin, tak akan ada penjelasan yang lebih sederhana mengingat kepergian tetaplah menjadi duka untuk seorang anak. Siapa sih yang mau berpisah dengan kedua orang tua? Sudah pasti tak akan ada yang mau.

Iqbal Maulana

Latest posts by Iqbal Maulana (see all)