Si Penggoda, Nafsu, dan Tubuhku

Si Penggoda, Nafsu, dan Tubuhku
©Surya

Si Penggoda, Nafsu, dan Tubuhku

Yang satu ejakulator, lainnya sebagai erektor. Kelangsungan aliran modal dana bantuan yang fantastis dan ironis dalam kehidupan berderma disebut ejakulator kepedulian.

Kadang kala, makin lama menyalurkan ejakulator kepedulian sesama akan mengalami titik jenuh. Sedangkan erektor tidak lebih dari kebenaran seks, di mana titik ketegakannya menerobos tabu.

Pergerakan ejakulator peduli sesama tanpa ‘organ vital’. Bentuk ejakulator adalah aliran modal uang. Ia menjelma menjadi godaan; ia bergerak secara senyap dan menikung.

Ini bukanlah “tongkat giok”, the Tao of Sexology, karya Stephen Thomas Chang (1991). Ini soal tempat cuan sama menggodanya seks. Keduanya merupakan ruang bertemunya godaan atau rayuan memikat.

Orang melihat petinggi tidak keok lantaran skandal Bansos dan mega skandal lain “lebih” bernafsu gila daripada kasus Aksi Cepat Tanggap (ACT). Kecuali jika sosok petinggi ACT menganggap bukan ‘coleng’ karena dirinya agamawan lebih menggiurkan daripada uang dana.

Lama waktu ketahanan institusi pendidikan keagamaan sebelum gangguan dan ancaman kehidupan alamiah melalui hasrat berahi seseorang dengan cara pelepasan kekangan seksual terselubung, yang pada akhirnya terungkap disebut erektor. Baik ejakulator maupun erektor melalui mekanisme kenikmatan.

Tahan berdiri sejak kurang dari satu dekade, ACT beramal dalam kemanusiaan. Sedangkan, mas Bechi sebelum sosok tersangka bisa tahan berdiri sejak 2019, berakhir setelah terkuak kasusnya.

Apa yang baru saja dilihat orang atau pihak terkait yang menganalisis aliran modal dana peduli umat melintasi nomor rekening serupa panggung sebagai satu kenampakan. Keinginan untuk menampakkan ikatan sosial direnggut oleh uang yang diselewengkan.

Bermula dari kecurigaan pada rekening ACT menjadikan mata, telinga, dan penalaran analitis sebuah institusi bernama Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menemukan transaksi aneh. Bayangan-bayangan menampakkan dirinya dari ketidaknampakan aliran dana.

Satu sisi, aliran dana yang mengambang bebas seakan-akan menerobos batas-batas teritorial, ruang di mana kemunculannya pertama kali justru bergerak ke beberapa penjuru. Pada sisi lain, analisis transaksi keuangan dari institusi kredibel tidak memberi peringatan dini ketidakwajaran. Aliran dana itu tidak mengambang bebas, tetapi muncul dengan sendirinya.

Petinggi yang lama dan baru tampaknya tidak berbicara jika institusi amal kemanusiaan itu diduga memiliki jaringan pendanaan terorisme. Gila atau heran?

Setiap gelagat awal mencurigakan bukan berasal dari aura kekerasan (terorisme), melainkan godaan uang. Selubung ganda di balik kenampakan berupa dana amal kemanusiaan dan penilaian wajar tanpa pengecualian (WTP) hasil audit dari institusi berwewenang.

Logika permukaan dan kewajaran keuangan yang diraih oleh ACT tidak mutlak menunjukkan yayasan amal tersebut ‘bersih’ dari penyelewengan dana. Orang mengira ACT akan bebas dari godaan. Bernafsu pada materi yang menguasai institusi peduli sesama akan terjatuh dalam ilusi.

Kekeraskepalaan petinggi ACT mengantarkan pada jurang selera tanpa dasar. Mengambil jalan pintas berisiko tinggi, akhirnya ia kehilangan kepercayaan publik. Justru godaannya berskala jumbo sama besarnya rayu ‘setan pikiran’. Miliaran dana amal sebagai penggoda yang dikelola oleh ACT berbeda godaannya dengan institusi amal lain yang hidupnya pas-pasan.

Logika permukaaan menutupi nafsu memperkaya para petinggi dan logika kewajaran keuangan ACT mengelabui ketidakwajaran dana amal. Tetapi, penyelewengan dana yang dianalis oleh PPATK berbicara lain. Titik noda tidak tiba-tiba menghilang, malahan bertambah dugaan hingga temuan lain.

Wahai sesama, ambillah pelajaran dari kedok amal! Lihatlah diri Anda ACT! Berbicaralah PPATK! Mengenduslah Bareskrim, BNPT, dan aparat hukum lain!

Halaman selanjutnya >>>
Ermansyah R. Hindi