Sikap Kaum Agamawan

Sikap Kaum Agamawan
Ilustrasi: sbs.com.au

Kebijaksanaan kaum agamawan haruslah dihargai, betapapun kompleksnya. Mereka memahami arti dosa, penebusan, pengakuan, dan bahkan kepastian, jauh melebihi pembangkangan serta-merta kaum ateis yang beriman. Ini cukup rumit.

Saat-saat yang paling membingungkan dari agama adalah ketika ia menjadi bencana bagi tatanan kemanusiaan.

Sifat ketidakpastian yang tampak jelas dalam agama terletak pada rumusan-rumusan abstrak dan spekulasi metafisik yang ia miliki. Dua argumentasi ini tampak naif dan sombong, tapi sedikit pun tidak ada dusta.

Hampir semua orang yang mengalami jenis kepercayaan terhadap sesuatu atau percaya terhadap yang ilahi, mengalami selama seluruh hidupnya ketaatan-ketaatan yang konsisten dengan sepenuhnya memberikan hidup kepada agama. Narasi sentral yang ditimbulkan dalam fenomena ini adalah bahwa agama menjadi pusat segala sesuatu, bukan sebaliknya. Bukan agama menjelaskan tentang segalanya, bukan pula sebaliknya.

Inti agama tak lain menjadikan hidup lebih mudah, lebih pasti, beradab, dan tampak rasional. Ini sangat alami, tidak ada yang menarik dalam ungkapan ini. Sama halnya dengan seni, membuat hidup lebih bermakna, indah, dan menggugah.

Manusia mulai merenovasi hidupnya ketika agama dan seni mulai berkembang, memberikan batasan-batasan, dan menentukan sikap yang tepat dalam sejauh mana manusia harus mengalami kepercayaan. Manusia bertahan hidup lewat iman dan memberikan makna yang berarti bagi kematian.

Meski dua hal ini sama tidak pastinya, tetapi ada hal-hal yang secara intrinsik tidak bisa diabaikan. Betapapun cara beriman kita sangat kaku dan membosankan. Begitulah agama, ia adalah mitos yang tak habis dimakan zaman, sejauh Tuhan dipahami yang mengatasi historisitas.

Secara tidak sengaja, manusia mulai mengalami spiritualitas yang dikehendaki, lalu menjadi prinsip yang harus diakui. Ini pengalaman yang paling tidak mudah ketika pada saat yang sama masyarakat beradab telah berbicara dengan nilai-nilai yang telah ada dan terwariskan. Tetapi, apa yang dikehendaki menjadi keadaan di luar nalar karena ia memang telah dikehendaki.

Sama halnya ketika sains merevolusi dirinya. Ada keniscayaan bahwa spiritualitas mengalami ancaman. Betapapun tentu sikap ini tidak dewasa dan kekanak-kanakan. Namun, pada akhirnya, ia menjadi kebenaran yang membantu tugas berat agama bagi kelangsungan hidup manusia secara keseluruhan. Meski tidak bisa disejajarkan, tetapi ia terlihat lebih memiliki kesesuaian dengan unsur-unsur realitas.

Kebudayaan selalu berkembang dalam batas-batas yang tak pernah bisa ditentukan. Adakah sesuatu yang tak memiliki nama? Pertanyaan ini sekaligus memberikan jawaban atas ketakterbatasan unsur-unsur kebudayaan yang selalu saja menjadi misteri akan masa depan.

Spiritualitas personal dalam tiap-tiap keberagamaan seseorang cenderung mengalami perubahan-perubahan bentuk yang tidak stabil. Dalam pandangan umum, jenis iman ini belumlah sampai pada tahap kedewasaan. Ada otoritas yang disebut kaum agamawan, selalu saja ikut campur dalam urusan-urusan yang begitu pribadi dan mendalam. Pada akhirnya, mereka dipahami sebagai para wakil Tuhan yang memikat.

Padahal, rujukan kepastian yang mereka miliki sama tidak kuatnya dengan logika iman kaum awam. Kompleksitas yang menunjang wacana ini terletak pada bagaimana otoritas itu sangat bersifat represif, terselubung, dan bergerak begitu lembut ketika nilai-nilai dibagi dalam struktur yang hierarkis melalui kebermaknaan agama.

Kecenderungan terhadap sikap ini menentukan koherensi terhadap apa yang harus diterima dan ditolak. Lebih tegasnya, antara yang halal dan yang haram. Padahal, struktur pemahaman ini tidak bisa merumuskan acuan yang jelas, tetapi yang tak kalah penting adalah bahwa ia memikat.

Sementara orang-orang beriman melakukan pengontrolan diri atas sikap kepercayaan yang mengikat. Represi yang begitu naif bergerak tak terkendali melalui otoritas-otoritas suci yang tak tersentuh dosa. Ini fakta yang paling alami dan tampak membingungkan dalam agama, tetapi ini sah dan tak terbantahkan.

Mengapa ini terjadi? Sejauh dapat dipahami, rumusan kebenaran berangkat dari keyakinan-keyakinan kuat yang harus dipahami, bukan sebagai pengetahuan yang pasti, tetapi cukup baginya kebenaran yang menjadi batas-batas tak terhingganya.

Sikap kaum agamawan mulai menjadi bagian penting bagi pengontrolan agama ketika ia memiliki wewenang yang dilegitimasi oleh apa pun  yang menjadi logika umum cara orang beragama. Manusia jenis ini sungguh berbeda dalam struktur kelas sosial. Ia menentukan sikap dan—pada saat yang sama—menentukan kebenaran mutlak bagi religiusitas kebermaknaan.

Arti penting dari pemahaman ini harus dipahami secara luas sebagai tanggung jawab spiritualitas serta ketidakmampuan logika awam menjembatani realitas yang ia hadapi. Apa yang menjadi realitas bagi sikap keagamaan ialah bahwa ia memahami dimensi-dimensi lain sejauh sifatnya melekat pada sisi ketuhanannya. Sikap ini, paling tidak, menjadi landasan universal bagi siapa pun yang menganggap Tuhan itu ada.

Sementara kaum ateis, ia tidak melihat apa-apa. Sikap ini penuh dengan kejujuran yang mengikat hati, jauh melebihi kejujuran mana pun di muka bumi ini. Kaum ateis cukup menyadari bahwa apa pun hakikat di luar diri kita, entah ia mengatasi realitas atau bahkan juga di dalamnya, yang nir-waktu, tampak tidak bisa dipahami.

Mereka jujur dengan segenap pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki persepsi sejauh kata memang tidak bisa bergerak lebih jauh dari pengalaman fisik yang kita alami. Agama tampak seperti omong kosong dan justru terlalu mendustakan kebenaran. Tuhan hanya bisa dipahami dalam wilayah persepsi-persepsi yang mungkin, tapi pemahaman ini tidak lantas menunjukkan suatu kebenaran. Sikap asketik, pada akhirnya, justru melecehkan pengetahuan atas pemahaman.

Hal ini tidaklah aneh, dan memang demikian, sampai kapan pun dan sampai batas sejarah umat manusia di masa depan. Misteri akan sesuatu yang bersifat adikuat memang tak terbantahkan begitu sulit dan jangka terjauh tampak tidak mungkin. Manusia hanya sampai pada pemahaman tentang retorika logika iman dan perasaan-perasaan intim tak terkendali, namun sama sekali tak bisa dikomunikasikan. Inilah yang menjadi inti sifat transendentalitas jenis keagamaan kita.

Tetapi, pada akhirnya, ketentuan mutlak yang paling tampak terletak pada sikap kaum agamawan dan seluruh otoritas represif yang ia miliki. Bukan karena ia alami, tetapi begitulah aturan main yang paling absah bagi kecenderungan pada hal-hal yang tidak masuk akal.

Manusia memuja, menghendaki, dan memaklumatkan mitos-mitos yang ia yakini sebagai kebenaran dan pengetahuan paling hakiki dari segala realitas yang mutlak. Lalu apa yang tersisa? Kaum ateis bahkan tidak tahu. Lagi-lagi, konfrontasi konfliktual sungguh-sungguh terjadi manakala kedua belah pihak tidak mampu mendamaikan kepastian absolut, abstrak, dan betapa spekulatifnya bagi pihak yang lain.

Kita harus menyadari bahwa indra kadang kala menipu terhadap objek yang kita alami. Manusia cenderung dapat memahami lebih baik melalui jangkauan pengalaman yang pernah ia miliki, tapi dunia adalah realitas independen, yang bahkan ketika manusia tidak ada, ia akan tetap eksis secara apa adanya.

Dunia akan selalu ada dalam dirinya sendiri. Tetapi sebaliknya, pemahaman dan pemikiran manusia akan dunia dan realitas tidaklah bersifat independen. Pemahaman itu ada sejauh manusia memiliki hubungan secara langsung dengan realitas itu, bahkan pada sisi terjauh jangkauan persepsinya. Inilah yang disebut sebagai sesuatu yang bersifat “manusiawi”. Karena pikiran selalu saja tidak eksis dalam dirinya sendiri, kesadaran kita diuji pada batas maksimumnya.

Kaum agamawan tidak pernah mempermasalahkan hal-hal sepele semacam ini. Mereka lebih peduli pada persoalan abstrak yang sesungguhnya selalu menghantui. Ia tak terlihat, dan itu sangat mirip dengan tidak pernah ada.

Namun, harus diakui, ketetapan-ketetapan mutlak tak mudah untuk ditolak adalah demi sebuah bisikan suci yang tak terbayangkan. Ia transenden, bahkan bahasa tidak bisa melukiskan dengan baik. Apa sesungguhnya yang tidak termasuk dalam bahasa, mereka mengatakan Tuhan, karena selalu luput dari setiap pendefinisian.

Kebijaksanaan kaum agamawan haruslah dihargai, betapapun kompleksnya. Mereka memahami arti dosa, penebusan, pengakuan, dan bahkan kepastian, jauh melebihi pembangkangan serta-merta kaum ateis yang beriman. Ini cukup rumit.

Selain itu, tampaknya, dan memang demikian, agama semacam memiliki zat adiktif yang tak mudah dikendalikan. Tetapi sebaliknya, kontrol diri yang kuat, tersembunyi, dan tak terlihat, betapa cukup menggodanya yang bahkan tak memiliki padanan kata yang tepat untuk sekadar menunjukkan struktur binernya. Ia benar dalam keyakinan, ia gagal dalam kenyataan.

Agama selamanya harus dipahami sebagai sistem kepercayaan yang otoritatif, dan hanya ini yang patut digambarkan. Ia bukan kebenaran, bukan pula pengetahuan, hanyalah gejala kecil dari sistem keyakinan yang rumit. Apa lagi yang bisa dikatakan? Tak lebih dari itu.

___________________

Artikel Terkait:
Latest posts by Rohmatul Izad (see all)