Sikap Kaum Agamawan

Sikap Kaum Agamawan
©SBS

Kebijaksanaan kaum agamawan haruslah kita hargai, betapa pun kompleksnya.

Saat-saat yang paling membingungkan dari agama adalah ketika ia menjadi bencana bagi tatanan kemanusiaan.

Sifat ketidakpastian yang tampak jelas dalam agama terletak pada rumusan-rumusan abstrak dan spekulasi metafisik yang ia miliki. Dua argumentasi ini tampak naif dan sombong, tapi sedikit pun tidak ada dusta.

Hampir semua orang yang mengalami jenis kepercayaan terhadap sesuatu atau percaya terhadap yang ilahi, mengalami selama seluruh hidupnya ketaatan-ketaatan yang konsisten dengan sepenuhnya memberikan hidup kepada agama. Narasi sentral yang timbul dalam fenomena ini adalah bahwa agama menjadi pusat segala sesuatu, bukan sebaliknya. Bukan agama menjelaskan tentang segalanya, bukan pula sebaliknya.

Inti agama tak lain menjadikan hidup lebih mudah, lebih pasti, beradab, dan tampak rasional. Ini sangat alami, tidak ada yang menarik dalam ungkapan ini. Sama halnya dengan seni, membuat hidup lebih bermakna, indah, dan menggugah.

Manusia mulai merenovasi hidupnya ketika agama dan seni mulai berkembang, memberikan batasan-batasan, dan menentukan sikap yang tepat dalam sejauh mana manusia harus mengalami kepercayaan. Manusia bertahan hidup lewat iman dan memberikan makna yang berarti bagi kematian.

Meski dua hal ini sama tidak pastinya, tetapi ada hal-hal yang secara intrinsik tidak bisa kita abaikan. Betapa pun cara beriman kita sangat kaku dan membosankan. Begitulah agama, ia adalah mitos yang tak habis termakan zaman, sejauh Tuhan kita pahami yang mengatasi historisitas.

Secara tidak sengaja, manusia mulai mengalami spiritualitas yang mereka kehendaki, lalu menjadi prinsip yang harus mereka akui. Ini pengalaman yang paling tidak mudah ketika pada saat yang sama masyarakat beradab telah berbicara dengan nilai-nilai yang telah ada dan terwariskan. Tetapi, apa yang terkehendaki menjadi keadaan di luar nalar karena ia memang telah terkehendaki.

Sama halnya ketika sains merevolusi dirinya. Ada keniscayaan bahwa spiritualitas mengalami ancaman. Betapa pun tentu sikap ini tidak dewasa dan kekanak-kanakan. Namun, pada akhirnya, ia menjadi kebenaran yang membantu tugas berat agama bagi kelangsungan hidup manusia secara keseluruhan. Meski tidak bisa kita sejajarkan, tetapi ia terlihat lebih memiliki kesesuaian dengan unsur-unsur realitas.

Baca juga:

Kebudayaan selalu berkembang dalam batas-batas yang tak pernah bisa kita tentukan. Adakah sesuatu yang tak memiliki nama? Pertanyaan ini sekaligus memberikan jawaban atas ketakterbatasan unsur-unsur kebudayaan yang selalu saja menjadi misteri akan masa depan.

Spiritualitas personal dalam tiap-tiap keberagamaan seseorang cenderung mengalami perubahan-perubahan bentuk yang tidak stabil. Dalam pandangan umum, jenis iman ini belumlah sampai pada tahap kedewasaan. Ada otoritas yang kita sebut kaum agamawan selalu saja ikut campur dalam urusan-urusan yang begitu pribadi dan mendalam. Pada akhirnya, mereka kita pahami sebagai para wakil Tuhan yang memikat.

Padahal, rujukan kepastian yang mereka miliki sama tidak kuatnya dengan logika iman kaum awam. Kompleksitas yang menunjang wacana ini terletak pada bagaimana otoritas itu sangat bersifat represif, terselubung, dan bergerak begitu lembut ketika nilai-nilai terbagi dalam struktur yang hierarkis melalui kebermaknaan agama.

Kecenderungan terhadap sikap ini menentukan koherensi terhadap apa yang harus kita terima dan tolak. Lebih tegasnya, antara yang halal dan yang haram. Padahal, struktur pemahaman ini tidak bisa merumuskan acuan yang jelas, tetapi yang tak kalah penting adalah bahwa ia memikat.

Sementara orang-orang beriman melakukan pengontrolan diri atas sikap kepercayaan yang mengikat. Represi yang begitu naif bergerak tak terkendali melalui otoritas-otoritas suci yang tak tersentuh dosa. Ini fakta yang paling alami dan tampak membingungkan dalam agama, tetapi ini sah dan tak terbantahkan.

Mengapa ini terjadi? Sejauh dapat terpahami, rumusan kebenaran berangkat dari keyakinan-keyakinan kuat yang harus kita pahami, bukan sebagai pengetahuan yang pasti, tetapi cukup baginya kebenaran yang menjadi batas-batas tak terhingganya.

Sikap kaum agamawan mulai menjadi bagian penting bagi pengontrolan agama ketika ia memiliki wewenang yang mendapat legitimasi oleh apa pun yang menjadi logika umum cara orang beragama. Manusia jenis ini sungguh berbeda dalam struktur kelas sosial. Ia menentukan sikap dan—pada saat yang sama—menentukan kebenaran mutlak bagi religiositas kebermaknaan.

Arti penting dari pemahaman ini harus orang pahami secara luas sebagai tanggung jawab spiritualitas serta ketidakmampuan logika awam menjembatani realitas yang ia hadapi. Apa yang menjadi realitas bagi sikap keagamaan ialah bahwa ia memahami dimensi-dimensi lain sejauh sifatnya melekat pada sisi ketuhanannya. Sikap ini, paling tidak, menjadi landasan universal bagi siapa pun yang menganggap Tuhan itu ada.

Halaman selanjutnya >>>
Rohmatul Izad
Latest posts by Rohmatul Izad (see all)