Silaturahmi Perspektif Filsafat Ilmu

Silaturahmi Perspektif Filsafat Ilmu
©Madaninews

Bagi kita yang beragama Islam, silaturahmi tidak hanya untuk menjaga hubungan antara sesama makhluk tetapi juga untuk mendapatkan pahala dari Allah Swt. Allah Swt berjanji bagi siapa saja diantara hamba-hamba-Nya yang suka menyambung tali silaturahmi, maka Allah Swt akan memberikan keberkahan dalam hidup hamba tersebut.

Oleh karena itu, sebagai Muslim yang beriman sudah seharusnya kita selalu menjaga hubungan. Memelihara tali silaturahmi di dalam kehidupan yang semakin individual merupakan suatu kewajiban yang harus dijaga. Sebab hidup di dunia, seorang manusia tidak bisa hidup secara terpisah dan sendiri, melainkan harus bersama-sama sebagai satu kesatuan di dalam persaudaran sesama makhluk ciptaan Tuhan.

Oleh sebab itu, tulisan ini hendak menjelaskan secara singkat mengenai pentingnya silarutahmi ditinjau berdasarkan filsafat ilmu yang terdiri dari tiga komponen, yakni ontologi, epistemologi, dan aksiologi.

Ontologi Silaturahmi

Isitlah silaturhami merupakan gabungan dari dua kata, yakni shihah dan ar-rahim/ar-rahmi. Kata shihah berasal dari washala, yashilu, washlan, wa shilatan yang berarti hubungan atau menghubungkan. Sedangkan ar-rahim berarti kerabat yang masih ada pertalian darah. Ar-rahim juga berarti rahmah, yaitu lembut, penuh cinta, dan kasih sayang. Sehingga secara bahasa maknanya adalah menghubungkan tali kekerabatan atau menghubungkan rasa kasih sayang.

Adapun pengertian menurut istilah, dapat ditemukan dalam pendapat beberapa tokoh. Imam an-Nawawi mengartikan silaturahmi dengan berbuat baik kepada kerabat sesuai dengan kondisi orang yang menyambung dan disambung. Bisa dengan harta, kadang dengan bantuan, kadang dengan berkunjung dan lain sebagainya.

Cakupannya sendiri amat luas, tidak hanya terbatas pada pertalian darah, tetapi terhadap sesama manusia dan alam sekitarnya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa silaturahmi memiliki beberapa macam, yakni terhadap diri sendiri, terhadap sesama manusia, dan terhadap alam (Syarbini, 2011).

Epistemologi Silaturahmi

Secara epistemologi, dalil-dalil mengenai silaturahmi dapat ditemukan dalam al-Qur-an dan hadits Nabi Saw. Artinya, sumber pengetahuan yang dapat dirujuk untuk melaksanakan silaturahmi dapat menggunakan dua pegangan hidup manusia, yakni al-Qur’an dan hadits. Dalam surat An-Nisa ayat (1) Allah Swt berfirman,

“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (adam) dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari diri-Nya dan dari keduanya Allah memperkembangbiakan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan kekeluargaan, sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu”.

Baca juga:

Di dalam ayat ini, Allah Swt memerintahkan kepada manusia untuk selalu bertakwa kepada Allah yang telah melimpahkan nikmat serta karunia-Nya. Dengan nama-Nya yang Maha Sempurna, kita saling meminta pertolongan antarsesama dan saling membantu, serta memelihara hubungan kekeluargaan dengan tidak memutuskan tali silaturhami. Menjaga persatuan dan persaudaraan dalam sebuah ikatan keluarga adalah dasar ketakwaan yang dapat menghantarkan manusia kepada tingkat kesempurnaan (Pambudi, 2022).

Dalam banyak hadits, Nabi Saw menjelaskan bahwa apabila seseorang ingin menambah rasa cinta dan umur, kemakmuran suatu negeri, keberkahan, dan rezeki yang halal. Maka peliharalah silaturhami dan kokohkanlah kekeluargaan. Salah satu hadits yang memuat pernyataan tersebut adalah,

“Barangsiapa yang ingin dimudahkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi” (HR. Bukhari).

Diceritakan oleh As-Shahihaini dari Abi Ayyub al-Anshari, bahwa seorang Arab Badui datang kepada Nabi Saw dan berkata,

“wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku sebuah amalan yang mendekatkan diriku dengan surga dan menjauhkanku dengan neraka! Rasulullah Saw kemudian bersabda, “engkau menyembah Allah Swt, dan tidak menyekutukan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyambung silaturahmi” (HR. Burkhari dan Muslim).

Menjaga silaturahmi merupakan kebutuhan seluruh manusia, khususnya umat Islam. Dan menyambungnya adalah kehidupan. Tidak ada manusia yang tidak butuh, baik terhadap teman, sanak saudara, maupun orang-orang yang dicintai.

Aksiologi Silaturahmi

Secara aksiologi, terdapat banyak sekali manfaat silaturahmi. Kalau dilihat dari hadits di atas, manfaat silaturahmi dapat dibagi menjadi dua. Pertama, manfaat dalam kehidupan dunia seperti diberi keberkahan dan kelapangan rezeki. Kenyataan ini terjadi akibat melalui silahturahmi terjalin yang namanya komunikasi, interaksi antar pemikiran, gagasan, dan ilmu pengetahuan, dan tukar-menukar barang dan jasa. Secara maknawi umur manusia diberi keberkahan akibat selalu menjaga tali silaturahmi.

Kedua, ada di dalam kehidupan akhirat, yang mana ketika manusia menjaga tali silaturahmi akan dimasukkan ke dalam surga-Nya Allah Swt. Sebagaimana sabda Nabi Saw, “wahai manusia! Tebarkanlah salam, berikanlah makan, jalinlah silaturahmi, shalatlah pada malam hari, maka kalian akan masuk surga dengan selamat” (HR. Ibnu Majah). Selain itu, manfaat menyambung tali silaturahmi lainya adalah mengundang cinta dan kasih sayang.

Baca juga:

Pada hakikatnya bentuk nyata dari silaturahmi, tidak hanya sebatas aksi saling mengunjungi. Dalam kehidupan sehari-hari seperti, mengucapkan salam, memberi selamat ketika seorang teman sedang berbahagia, saling tolong menolong, memberi hadiah, saling perhatian. Juga merupakan bentuk yang dapat mengundang cinta dan kasih sayang. Meski terlihat kecil, tetapi manfaatnya sangat besar.

Daftar Pustaka
  • Pambudi, R. (2022, Agustus 3). Ayat al-Qur’an Untuk Acara Silahturahmi. Retrieved from Inews.id.
  • Syarbini, A. (2011). Keajaiban Shalat, Sedekah, dan Silahturahmi. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Dimas Sigit Cahyokusumo
Latest posts by Dimas Sigit Cahyokusumo (see all)