Siri’ dalam Falsafah Bugis-Makassar sebagai Penumbuh Religiositas

Siri’ dalam Falsafah Bugis-Makassar sebagai Penumbuh Religiositas
©Washilah

Siri’ dalam Falsafah Bugis-Makassar sebagai Penumbuh Religiositas

Berbentuk seperti huruf ‘k’ kecil, Pulau Sulawesi merupakan pulau terbesar kesebelas di dunia. Selain itu, Sulawesi juga teletak di antara pertemuan tiga lempeng, yakni Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik. Hal ini menjadikan Sulawesi memiliki struktur tektonik yang sangat kompleks. Sulawesi dengan segala kearifan lokal yang dimiliki dan sumber daya manusianya menjadikannya sebagai salah satu provinsi yang menarik untuk kita selami.

Sebagaimana masyarakat tradisional pada umumnya yang berada di berbagai belahan dunia, masyarakat yang mendiami Pulau Sulawesi khususnya bagian Selatan mengawali peradaban mereka dengan tradisi kelisanan. Segala pesan, wasiat, atau petuah, baik individual maupun sosial, disampaikan secara lisan yang menyebar dari generasi ke generasi.

Di dalam masyarakat Sulawesi, terdapat falsafah hidup yang bernama siri’. Siri’ secara harfiah bermakna malu atau rasa malu yang dalam. Orang-orang Bugis-Makassar lebih menghayati siri’ dari sudut pandang kultur.

Di dalam siri’ terkandung dua nilai utama yakni nilai malu dan nilai harga diri yang keduanya ini melekat secara simbiosis. Nilai malu diharapkan mampu menjadikan seseorang malu melakukan hal-hal yang tercela sementara nilai harga diri diperuntukkan untuk menanamkan marwah diri dalam kebaikan guna berperilaku secara bijak.

Masuknya agama Islam di Sulawesi Selatan pada abad XVI melahirkan pranata siri’ makin tegak karena sifat al-hayaa dipandang selaras dengan konsep siri’. Hayaa dalam bahasa Arab bermakna rasa malu, yang secara etimologis berarti taubat dan menahan diri. Sementara pendapat imam al – Jurjani seorang yang dikenal sebagai ahli balaghah mengatakan bahwa hayaa berarti menahan diri dari segala sesuatu atau meninggalkannya karena takut akan timbulnya celaan.

Kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan filsafat rasionalisme dewasa ini ternyata belum mampu untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia berupa aspek nilai-nilai transenden, yakni sebuah kedahagaaan ontologis yang hanya bisa kita gali melalui sumber wahyu ilahi.

Kehampaan spiritual merasuki diri sebab secara tiba-tiba kita memasuki dunia yang luas, dengan segala wujud gemilangnya namun kita tidak memiliki cukup pengetahuan bagaimana menghidupi kehidupan. Dari sinilah perlu adanya pencarian ilmu dan memelihara sebuah nilai kebaikan dari budaya luhur dari masyarakat klasik kepada masyarakat modern.

Baca juga:

Sebuah ungkapan dalam pappaseng (pesan leluhur orang bugis) menyebutkan, “Tellu riala sappo; tauwe ri dewata, siri’ ri watakkaleta, nenniya siri, ri padatta rupa tau.” Artinya, “Ada tiga yang dijadikan pagar dalam diri yakni rasa takut kepada Tuhan, rasa malu pada diri sendiri, dan rasa malu kepada sesama manusia.”

Dalam nilai kepribadian, siri’ yang terhubung dengan harga diri dengan merefleksikan jiwa yang senantiasa menjaga harkat dan martabatnya sebagai manusia yang kemudian konkret pada akal budi yang menanamkan kebaikan. Tujuan dari terpeliharanya nilai-nilai siri’ di dalam masyarakat yakni agar setiap individu atau kelompok, berupaya mengamalkan perbuatan yang terpuji dalam berpikir, merasa, dan bertindak atas aktivitas yang dilakukan dirinya sebagai manusia. Oleh karena itu, masyarakat Bugis-Makassar begitu menjaga siri’ dalam kehidupan kehidupan bermasyarakat.

Contoh kasus mengenai mengapa siri’ wajib dimiliki yakni  dewasa ini kerap tejadi istilah married by accident (MBA) adalah sebuah peristiwa yang menggambarkan bahwa terjadinya perkawinan disebabkan adanya kehamilan sebelum pernikahan diselenggarakan. Fenomena ini akibat seks bebas yang dinormalkan bahkan dianggap trendy. Dalam perspektif agama, hubungan seks antara laki-laki dan perempuan tanpa diikat oleh akad nikah yang sah disebut sebagai zina.

Dalam hukum Islam jenis hukuman bagi pelaku zina terbagi menjadi dua yaitu zina muhsan dan zina ghairu muhzan. Zina muhsan adalah zina yang dilakukan oleh orang yang telah menikah hukumanya di rajam sampai mati sedangkan zina ghairu muhsan adalah zina yang dilakukan oleh orang yang belum pernah menikah hukumannya yakni dicambuk seratus kali. Kemudian dampak negatif  terhadap lahirnya anak dari hasil zina adalah mereka tidak dinisbatkan dan tidak memiliki hak waris pada ayah biologisnya melainkan hanya kepada ibu.

Bagi orang Bugis hubungan intim laki-laki dan perempuan tanpa didahului pernikahan merupakan perangai memalukan yang disebut dengan ( mappakasiri’ ) dalam konteks ini beban moral atas aib bukan hanya ditujukan pada yang bersangkutan melainkan juga pada keluarga inti yang diangap tidak mampu mendidik anak dengan baik.

Dalam kitab suci Al-Qur’an Allah SWT telah mengingatkan dengan tegas tentang zina: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra ayat 32.)

Menurut para ulama, ayat ini menekankan betapa pentingnya menjauhi segala hal yang dapat merangsang nafsu yang pada akhirnya membawa diri mendekati perbuatan yang dilarang. Sejalan dengan ajaran agama Islam yang menekankan untuk menjaga moralitas, etika dan kehormatan dalam hubungan antara pria dan wanita. Orang-orang Bugis-Makassar dalam budayanya mengajarkan bahwa sentuhan pertama antara dan laki-laki dan perempuan hanya boleh dilakukan setelah akad dilangsungkan.

Adat mappasikarawa (saling menyentuh) dilaksanakan mempelai pria setelah ijab kabul yang akan dituntun oleh orang yang dituakan menuju kamar mempelai perempuan. Prosesi yang dimulai dengan memegang ibu jari mempelai laki-laki dan mempertemukan dengan ibu jari tangan perempuan yang sudah sah menjadi istrinya. Merapatkan ibu jari dengan lantunan doa mengandung makna agar keduanya akan selalu bersama, hidup rukun dan damai.

Baca juga:
Andi Dhea Firdayana