Siti Danilah, Wartawan yang Terlupa

Siti Danilah, Wartawan yang Terlupa
©Siti Danilah (1938)

Tentang Siti Danilah, wartawan Indonesia yang sejarah lupakan.

Ulasan Pers – Dalam sejarah pers Indonesia, banyak wartawan yang kini namanya dikenang karena kontribusinya. Sebut saja Tirto Adhi Soerjo, Bapak Pers Nasional yang Pramoedya Ananta Toer abadikan dalam Tetralogi Buru­-nya dengan nama Minke; Mochtar Lubis, penerima penghargaan Magsaysay Journalism and Literature Award; BM Diah, pendiri Harian Merdeka yang juga merupakan mantan Menteri Penerangan; dan Rosihan Anwar, Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (1968-1974).

Tetapi tahukah Anda bahwa Siti Danilah tidak kalah hebatnya dari para wartawan yang kini dikenang sejarah itu? Sayang, namanya nyaris tidak pernah disebutkan hingga menjelma sebagai sosok wartawan yang terlupa.

Agar publik memosisikannya sebagai wartawan yang juga layak dikenang, berikut kami hadirkan ulasannya berdasar lansiran Historia:

***

Bernama lengkap Siti Danilah Salim, adik kandung pejuang kemerdekaan Indonesia Agus Salim. Meski sama-sama aktif menulis, namanya tidaklah setenar nama kakaknya.

Sebagaimana Nur Janti laporkan, kecintaan Siti Danilah pada dunia literasi berawal ketika dirinya bekerja sebagai juru koreksi di Percetakan De Evolutie. Percetakan ini merupakan perusahaan pribumi yang mendapat subsidi pemerintah kolonial.

“Kala itu, usianya baru 20 tahun. Satu per satu naskah dia teliti. Setiap peletakan tanda baca yang salah dia koreksi. Tak satu pun naskah buku yang hendak diterbitkan De Evolutie luput dari pemeriksaannya.”

Siti Danilah sendiri mengaku menikmati pekerjaannya. Pengalamannya bekerja di De Evolutie ini, tulisnya dalam Sumbangsihku bagi Pertiwi, jadi pemantik awal bangkitnya minat dirinya sebagai pengarang.

“Kemampuan bahasa Belanda dan Indonesia-nya yang baik membuat Danilah tak kesulitan membuat tulisan jurnalistik dan karangan panjang. Mulanya, Danilah menulis puisi dan esai dalam bahasa Belanda memakai nama pena Kemuning.”

Adapun tulisan pertamanya dalam bahasa Indonesia, untuk pertama kalinya, dimuat di Harian Neratja. Ini adalah surat kabar modern pribumi karena isinya memuat gambar atau foto.

“Kala itu, Agus Salim menjadi pemimpin redaksinya. Danilah lagi-lagi menjadi juru koreksi di media ini. Tulisan Danilah di Neratja bersanding dengan tulisan Agus Salim, Mohammad Yamin, Bahder Djohan, dan Kasuma Sutan Pamuntjak.”

Penulis-Aktivis

Siti Danilah juga digambarkan sebagai sosok organisatoris. Ia turut bergabung dalam Jong Sumatranen Bond dan aktif menulis di Majalah Jong Sumatra. Ia mengaku senang menulis sajak di majalah tersebut. Sementara laporan terkininya tetap ia kirimkan ke Neratja, selain menerjemahkan berita-berita pendek berbahasa asing.

“Meski sempat berpindah-pindah mengikuti suaminya, Danilah tetap menulis untuk beberapa surat kabar setempat dan mengirimkannya ke Jakarta. Di Semarang, menulis untuk Majalah Pestaka dan Surat Kabar Bahagia, mengasuh rubrik Taman Isteri.”

Berkarier di Semarang, ia turut aktif dalam gerakan perempuan. Ia bergabung ke dalam Isteri Indonesia, sebuah organisasi perempuan yang didirikan pada Juli 1932. Selama tiga tahun, ia menjadi ketua untuk Cabang Semarang.

“Setelah bercerai dari suaminya pada 1938, Danilah pindah ke Jakarta. Dia tetap aktif dalam organisasi perempuan dan menulis. Danilah menjadi anggota Pengurus Besar Isteri Indonesia dan Ketua Cabang Kwitang.”

Di masa pendudukan Jepang, Siti Danilah menikah lagi. Ia menikah dengan wartawan Cahaya Timur bernama Syamsudin Sutan Makmur.

“Setelah Jepang hengkang, mereka mendirikan Mingguan Daya Upaya, namun tak bertahan lama. Syamsudin bersama Njoto dan rekannya mendirikan Harian Rakyat. Di surat kabar ini, Danilah mengisi rubrik Pojok dengan nama samaran Bang Golok.

Menurut pengakuannya, nama Bang Golok ia pilih lantaran maknanya yang menggambarkan ketajaman sebagai senjata rakyat Indonesia. Dan tulisan-tulisan yang dilahirkannya memang tajam. Itu sebabnya radio milik Belanda, Pemancar Radio Hilversum, sempat menuduh Bang Golok sebagai penghasut kelas satu agar Indonesia berontak melawan Belanda.

Konsistensi

Siti Danilah lagi-lagi membuktikan dirinya sebagai wartawan yang layak dikenang. Lihat saja ketika Isteri Indonesia hendak membuat terbitan, ia lantas dipercaya menduduki jabatan sebagai Ketua Komisi Pers lantaran sepak terjangnya di dunia literasi dan jurnalistik yang tak pernah surut.

Dalam Perjalanan Tiga Zaman, Lasmidjah Hardi menyebut Danilah sebagai wartawan terkenal di zamannya. Danilah juga aktif menulis di Majalah Isteri Indonesia.

“Menurutnya, menulis tidak bisa dilepaskan dari cara pandang yang berpihak pada perempuan. Kala Soekarno menikah dengan Fatmawati, misalnya, Danilah mengkritik keras Soekarno dan menyayangkan Soekarno menduakan Inggit. Bagi Danilah, Inggit perempuan hebat yang berperan besar dalam membantu Soekarno di masa sulit.”

Saat Soekarno menikah lagi dengan Hartini, Danilah, untuk kesekian kalinya, tampil sebagai pengkritik ulung kembali.

“Baginya, tak ada ruang poligini karena hal itu merugikan perempuan.”

Melihat geliat Siti Danilah di atas, tentu sangat disayangkan jika namanya kini terkesan redam. Melupakannya dalam ingatan sejarah sungguh tidak patut untuk seorang wartawan yang punya kontribusi besar membangun Indonesia dari aspek jurnalistik dan keorganisasian. [hi]