Slendro

Slendro
©Bersatoe

Dalam sebuah pertunjukan wayang kulit laras slendro sering kali dimainkan untuk adegan perang. Pun juga sering mewarnai adegan baris-berbaris prajurit perang. Iramanya sangat cocok untuk adegan kepahlawanan.

Saudara-saudaraku yang tercinta, merdeka!!

Inilah siaran radio SRV Solo yang dipancarkan dari Pendopo Kepatihan Mangkunegaran. Tembang-tembang Jawa dari Javansche Kuntskring Mardiraras akan menemani saudara-saudara untuk giat bekerja. Selamat menikmati……..

Suara penyiar itu begitu jernih. Memancar tajam membela langit Solo di tahun 1933. Gelombang suaranya memasuki relung-relung peradaban Jawa. Memberi arti baru tentang radio yang asing bagi budaya mereka.

Rambatan gelombang di udara mungkin terbayangkan oleh mereka bak kilatan ajian kadigdayaan. Meluncur cepat tanpa kabel di angkasa. Hingga ditangkap tanpa tangan oleh antena pesawat radio.

Sore itu, di sebuah rumah berarsitektur joglo, nyaring terdengar siaran radio SRV. Pemiliknya sengaja membuat volumenya besar. Agar para tetangga kebagian berita dan tembang-tembangnya.

Sri Wahyuni duduk santai di depan radio kuno bermerek Phillip. Sebuah pesawat penerima gelombang radio yang sangat mahal ukuran saat itu. Hanya mampu dibeli keluarga bergaji 150 gulden. Pabriknya di sana, negeri penjajah, Belanda.

“Sudah mahir laras slendro-mu, Sri?”
“Lumayan, Bu, sekarang mulai di laras pelog.”
“Bagus!”

Bagai Sri Wahyuni sebagai dara Jawa sudah lekat dengan seni Karawitan Jawa. Semenjak kecil sudah diajari Ayahandanya yang kini sudah meninggal. Pak Wiryo sang Ayahanda berpesan bahwa kekuatan gending ada pada penghayatan laras slendro dan pelog.

Kedua laras itulah tangga nadanya. Slendro dan Pelog ibarat nyawa Gending yang hidup oleh gerak seperangkat gamelan Jawa.

“Minggu depan wayang kulit Mangkunegaran naik pentas.”

“Di mana, Sri?”
“Alun-alun.”
“Saya akan gabung, Bu.”
“Di pagelaran wayang kulit itu?”
‘Iya, Bu.”
“Nah, bagus langsung praktik, Nduk!”

Bu Mirna, sang Bunda, selalu mendorong Sri Wahyuni untuk percaya diri. Memang anak satu-satunya ini pemalu. Padahal kemampuan seni karawitannya cukup lumayan. Dalam sebuah pertunjukan wayang kulit laras slendro sering kali dimainkan untuk adegan perang. Pun juga sering mewarnai adegan baris-berbaris prajurit perang. Iramanya sangat cocok untuk adegan kepahlawanan.

Sekarang Sri Wahyuni sudah paham. Bahwa gending yang menggunakan laras Slendro dapat memunculkan perasaan gembira, meria, dan menyenangkan. Terlihat seringnya dia berlatih dengan laras slendro. Acap kali tersungging bibir cantiknya oleh laras riang itu. Sri Wahyuni masih belum berani memainkan laras-laras miring yang menyayat hati. Terlalu dini untuk bersedih hati.

Seperti halnya di sore ini. Sri tampak bergembira selayak nada Slendro. Leluasa menikmati kudapan dan musik-musik Jawa dari radionya. Kedudukannya sebagai anak asisten wedana membuat hidupnya berkecukupan. Hingga orang tuanya mampu membelikan seperangkat gamelan. Dengan leluasa dimainkannya di sebuah bangunan khusus samping rumah.

Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Sri Wahyuni. Hingga berhasil bergabung dengan paguyuban seni Jawa Javansche Kuntskring Mardiraras. Sebuah paguyuban perlawanan atas budaya barat yang telah digencarkan oleh Belanda saat itu. Paguyuban ini memperjuangkan pendidikan seni di lingkungan keraton Solo dan sekitarnya.

Tiap minggu Sri Wahyuni selalu rajin berlatih di sana. Agar dapat bersama-sama tim gamelannya membuat cerita wayang yang akan pentas itu hidup dan bernas.

Baginya, laras slendro harus dimainkan secara emosional. Untungnya juga Sri Wahyuni sudah cukup emosional. Hampir setahun ditinggal kekasihnya berlayar. Rindu membaranya siap dimainkan bersama pukulan-pukulan nada slendro-nya

“Kapan Kak Paraja pulang, Bu?”
“Besok, Sri, ” jawab Bu Mirna.

Bu Mirna sang Bunda yang kini janda. Hidup berkecukupan dengan uang pensiun suaminya dan sisa tabungan masa tuanya.

“Sudah telegram ke Ibu Kak Paraja?”
“Sudah, seminggu yang lalu.”

Jaka Paraja kekasih Sri seorang kelasi milter kapal Belanda. Setelah lulus sekolah MULO. Jaka Paraja langsung melamar menjadi pasukan KNIL. Bertugas di kapal perang yang bernama Lima Benua. Sebuah nama yang serakah. Sama dengan empunya. Sang penjajah yang ingin menguasai sepuluh benua jika ada.

Sedang Sri Wahyuni anak semata wayang Bu Murni. Setelah lulus MULO aktif sebagai anggota Javansche Kuntskring Mardiraras yang dibina langsung oleh Kanjeng Gusti Aryo. Sang Mangkunegara VII.

Mereka mempelajari dan mempertahankan budaya Jawa dari serbuan budaya-budaya barat. Termasuk berusaha mengemas gending-gending dan seni karawitan lainnya dalam bentuk digital.

“Bagaimana rekamannya?”
“Sepertinya gagal, Bu?”
“Kenapa?”
“Piringan hitam merek Colombia tak mampu merekam tembang Jawa yang berjam-jam.”
“Tapi pihak Mangkunegaran menyiapkan sesuatu.”
“Untuk perang budaya ini?”
“Benar, Bu!”
“Sungguh Kanjeng Gusti Aryo seperti keturunnya, Samber Nyowo!”

Benar adanya, bahwa durasi piringan hitam hanya sebentar. Sementara lagu tradisional Jawa yang menggunakan gamelan bisa memakan waktu berjam-jam. Sebuah seni rakyat yang mengagumkan. Mengalahkan durasi roman picisan yang berjilid-jilid. Kekuatan pentas gamelan dan wayang kulit memang jago. Mana ada pertunjukkan bioskop dengan durasi berjam-jam. Itulah kelebihannya.

Kegagalan perekaman ke piringan hitam membuat sang Mangkunegara akan membuat kejutan. Entah apa yang akan diberikan oleh pihak Mangkunegaran untuk perang budaya ini?

Sembari menikmati siaran Radio SRV, Sri menikmati jamu godok dan beberapa potong gethuk. Saat asyik dengan hidangan sore itu, beberapa saat kemudian terdengar lagi suara penyiar Radio SRV menyela pemutaran tembang-tembang Jawa.

Pendirian pemancar baru ini yang modern ini sangat penting bagi martabat bangsa. Lewat pemancar baru ini, akan dilestarikan dan dikumandangkan kesenian Nusantara, kita kumandangkan ketoprak, wayang orang, klenengan, laras slendro, laras pelog….

Suara penyiar itu tak asing bagi Sri Wahyuni. Dialah Gusti Raden Ayu Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Kusumawardhani. Lebih akrab dikenal dengan nama Gusti Noeroel. Putri tunggal Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegoro VII. Walupun masih belia, beliau sering mengisi acara-acara radio SRV. Gusti Noeroel juga seorang penari yang mumpuni.

Saat itu sang Mangkunegara VII memilih radio amatir sebagai senjata perlawanan terhadap budaya penjajah. Baginya radio bukan saja hadir sebagai pengenalan seni Jawa. Namun juga sebagai bentuk resistansi perang budaya antara barat dan timur.

Perintisan stasiun radio diawali dengan membeli pemancar tua milik Djocjchasche Radio Vereeniging. Radio swasta milik Belanda di Yogyakarta. Ketertarikan pihak keraton terhadap radio pertama kali saat mendengarkan sebuah siaran langsung.  Pidato Ratu Wilhemina yang dipancarkan dari Kota Eindhoven, Belanda. Itulah awal berdirinya radio SRV (Solo Radio Vereeniging).

Sore bergeser jelang datangnya peraduan malam. Sri Wahyuni masih setia dengan siaran radio SRV. Setelah beberapa iklan produk-produk lokal mengudara, penyiar kembali menyampaikan berita penting.

Gubernur Jenderal Hindia Belanda Bonifacius Cornelis De Jonge mengumumkan kebijakan akan memotong gaji pegawai pemerintah kolonial Hindia Belanda (tentara dan pegawai negeri) sebesar 17%.

Penurunan gaji pegawai tersebut merupakan upaya pemerintah Hindia Belanda untuk mengurangi defisit anggaran belanja akibat depresi ekonomi yang melanda dunia pada saat itu.

Wahai rakyat jelata mari kita lawan kebijakan ini!
Sekali di udara tetap di udara !!!!!!
Merdeka!!!

“Bu…….!!”
“Ada apa, Nduk????”
“Pemotongan gaji, Bu.”
“Semoga tidak ada demo, Sri.”
“Tahun lalu terjadi keributan, termasuk di kapal kak Paraja, Bu.”
“Semoga tidak makin kacau.”

Tanpa disadari Bu Mirna, Sri sudah lari menuju kamarnya. Rindunya kepada sang kekasih begitu dalam. Kini kerinduannya harus dipupuskan dengan berita duka seperti itu. Sri sadar bahwa kebijakan itu akan menyulut kemarahan besar pribumi. Seperti yang sudah-sudah . Telah terjadi keributan oleh awak kapal setahun yang lalu.

Dan benar di geladak kapal Lima Benua milik Belanda itu terjadi keributan. Siaran radio SRV Solo tertangkap oleh receiver kapal yang berkekuatan ribuan watt itu. Puluhan kelasi berkumpul di dek kapal setelah mendengar berita radio tersebut. Seorang dengan perawakan ceking berdiri di atas drum minyak. Kulitnya hitam melegam terbakar matahari. Menambah kesan keras wajahnya yang mulai menampakkan kemarahan besar. Berbicara lantang melawan desir angin laut yang kencang.

“Kita lawan kebijakan ini!” Jaka Paraja bersemangat orasi di depan temannya.
“Taruhannya nyawa, kawan!” sela teman sebelahnya.
“Resiko!”
“Tidakkah bersabar sedikit atas pemotongan gaji ini?”
“Tidak!!! Ini sudah dua kali !!!
“Bagaimana kawan kita bajak?”
“Siiiappppp !!!” serempak terdengar dari dek kapal hingga di sudut-sudutnya. Termasuk kelasi warga negara Belanda sendiri ikut beraklamasi.

Pagi buta Bu Mirna mendapat telegram lagi bahwa sejumlah kelasi Indonesia berhasil membajak kapal Belanda itu. Kemenangan yang mungkin sekaligus sebuah kehancuran. Belanda tak akan segan-segan menenggelamkan kapal itu. Kekuatan tidaklah berimbang. Sekali diluncurkan pesawat pembom, luluh lantaklah kapal Lima Benua itu.

“Sri! Kemari, Nak!” serunya dari ruang tengah.
Sri yang sedang asyik mempelajari laras-laras Pelog langsung berlari menuju ibunya.
“Pembajakan kapal Lima Benua, Kakakmu!”
Tampak sang Ibu begitu panik. Pun begitu Sri Wahyuni menjerit histeris.

“Bagaimana kakak, Bu?”
“Entahlah. Coba ke stasiun radio SRV sana, Nak!” Sri langsung menghambur keluar rumah. Bersepeda pancal menuju stasiun radio SRV di Mangkunegaran.

Sesampai di stasiun radio Sri Wahyuni tak mendapatkan apa-apa. Belanda sudah mengontrolnya. Kini informasi benar-benar lumpuh. Belanda bertindak karena radio SRV telah membocorkan peristiwa demo di kapal tersebut.

Pulanglah Sri dengan kayuhan gontai. Laju sepedanya seperti tak terarah. Hancur lebur sudah hatinya.

“Bagaimana, Sri?”

“Diawasi Belanda. Bu.” Sri langsung menuju kamarnya. Membantingkan diri di kasur empuk. Tak tertahankan lagi air matanya, tumpah ruah. Bu Mirna menyusul. Dilihatnya kesedihan mendalam anaknya lewat air matanya yang membasahi bantal.

“Sabar…,” katanya lirih.
“Kak Paraja, Bu….Kak Paraja, Bu !!!” kata itu diulang-ulanginya penuh perasaan….

Berhari-hari dal rundung kesedian. Sri Wahyuni yang masih hijau. Kini mulai menikmati nada-nada miring. Tentang sedih dan merana.

Hingga pada sebuah pagi cerah Sri keluar dari kamarnya. Mencoba memperkuat diri. Berjalan menuju samping rumah. Menemui sekumpulan gamelannya. Diambilnya dua pemukul. Mulai berani memainkan laras-laras slendro miring. Cocok dengan suasana kerinduan hatinya.

e…e ..e.. mbok yo mesem mrengut pedahe opo,
e.. e.. e.. mbok yo ngguyu susah pedahe opo,
panjaluku tetep o ing janji,
ojo ewo ojo tansah cuo,
nadyan aku ugo tanselaking janji, 
e.. mesem o tansah tak enteni,
yo bareng angudi luhuring kagunan,
watone tumemen tansah kasembada.

Nada-nada itu terus mengalir. Tak kuasa lagi membendung air mata yang sedari tadi ditahannya. Tumpah ruah beriringan dengan nada Slendro yang dimainkan miring olehnya. Makin lama makin lincah tangan Sri memainkan nada-nada miring itu. Tak seperti biasanya. Suasana batinnya menuntun setiap pukulan miring itu. Berkelok-kelok mistis.

Laras slendro yang dimainkan miring memang sering digunakan untuk menampilkan perasaan sedih, sendu, maupun romantis. Nada miring ini sengaja dimainkan tidak tepat pada tempatnya. Hingga menimbulkan efek yang anomali. Memberi kesan mistis yang mengiris. Cocok digunakan untuk adegan rindu, percintaan, kangen, sedih, sendu, kematian, dan merana.

“Sudahlah, Nak.”
Bu Mirna mengelus rambut anaknya dari belakang.
“Ibu……” tangisnya memilukan. Terbenam dalam pangkuan Bunda tersayang.

Hari-hari berikutnya hanya diisi mematung di depan radio tua itu. Berita-berita dari pemancar SRV tak satupun luput dari telinganya. Sri begitu merindu berat. Tak ada yang bisa dia lakukan kecuali menunggu.

Sementara perkembangan dari pembajakan kapal Lima Benua gaungnya hingga ke luar negeri. Mengangkat moral pejuang Indonesia. Dan sebaliknya meruntuhkan wibawa Belanda. Apalagi ada warga negaranya yang pro-pembajakan itu. Walau pemberontakan hanya berlangsung tujuh hari, tetapi dampaknya sangatlah besar.

Begitupun dengan Sri Wahyuni. Telah merelakan kekasihnya yang kini dihukum dalam sebuah pengasingan di pulau terpencil. Telegram sudah tak dapat menjangkaunya. Hari-harinya diisi dengan giat berlatih. Dia ikhlaskan kekasihnya demi harum nama bangsa.

Dengan kepercayaan diri yang tinggi, Sri mulai berkhidmat pada keahliannya. Tiap hari berlatih keras memainkan laras-laras slendro dan pelog. Saling berkelindan mengisi hari-harinya. Antara gembira dan sedih beradu menjadi nada-nada gending yang unik dan mistis.

Hingga tiba baginya sesuatu yang sangat berarti dalam hidupnya. Sri Wahyuni dipercaya untuk bergabung dengan tim gamelan Mangkunegaran dalam acara pementasan tari yang sangat spesial. Kejadian yang akan mengangkat nama Mangkunegaran harum di mata dunia.

“Ibu yakin kamu bisa, Sri!”
“Doakan Bu. Ini membawa nama bangsa.”
“Jangan lupa mainkan dengan emosional!”

Saat itu di akhir tahun 1936 rombongan KGPAA Mangkunegara VII sedang menuju negeri Belanda. Mereka menghadiri sebuah pesta pernikahan. Tak tanggung-tanggung sang Mempelai adalah Putri Juliana. Mereka diundang sebagai tamu kehormatan serta  pengisi acara pernikahan. Putri Juliana yang kelak menjadi ratu Belanda pengganti Ratu Wilhelmina.

Pihak Mangkunegaran ingin memberikan kado terunik. Diputuskan untuk mementaskan tarian Jawa yang akan dibawakan oleh anaknya sendiri, Gusti Noeroel. Tarian yang akan diiringi oleh tim gamelan Mangkunegaran. Dimana Sri Wahyuni  terlibat di dalamnya. Dia begitu bersemangat dan bergembira mendapat kepercayaan ini.

Kejutan besar lainnya yang akan dipersembahkan oleh Mangkunegaran adalah iringan gendingnya berbentuk pancaran gelombang radio SRV yang langsung dimainkan dari keraton Solo. Jadi mereka tidak membawa peralatan gamelan ke Belanda. Bisa dibayangkan repotnya saat itu.

Akhirnya tepat pada harinya, terdengarlah alunan gamelan Kyai Kanyut Mesem. Sri Wahyuni bersama timnya mulai memainkan nada-nada gending di pendopo Pura Mangkunegaran. Kemudian dipancarkan melalui gelombang radio SRV Solo ke pemancar radio Belanda. Alunan musik inilah yang mengiringi gerakan demi gerakan tari Sari Tunggal yang dimainkan oleh Gusti Noeroel. Beliau berhasil memukau tamu undangan di Istana Noordeinde Belanda waktu itu.

Tampak Sri Wahyuni memainkan laras slendro dan pelog begitu emosional. Antara kegembiraan dan kesedian menjadi satu. Membuat tarian Goesti Noerol menjadi hidup. Gelombang-gelombang radio yang membawa alunan gamelan itu merambat jauh hingga ke negeri Belanda. Bak panah-panah Samber Nyowo yang menghujani perang budaya ini.

Dulu Belanda membuat Indonesia takjub dengan pidato Ratu Wilhelmina yang disiarkan langsung oleh gelombang radio. Namun Sembilan tahun kemudian ganti Indonesia membuat Belanda kagum dengan tarian yang diiringi gamelan yang disiarkan secara langsung dari pancaran gelombang radio SRV Solo.

Kini Sri Wahyuni menemukan hidup dan rumah hatinya kembali. Menjadi pengalun laras-laras cinta yang emosional……

Yudho Sasongko
Latest posts by Yudho Sasongko (see all)