Soal Karhutla; Moeldoko Berpaham Determinasi Ilahi atau Korban Homo Orbaicus?

Soal Karhutla; Moeldoko Berpaham Determinasi Ilahi atau Korban Homo Orbaicus?
©Sindo

Terkejut dan terheran-heran. Itulah pertama kali yang saya rasakan saat membaca pernyataan Kepala Staf Kepresiden Moeldoko soal Karhutla yang kini melanda wilayah Indonesia.

Melalui jejaring Twitter miliknya, @Dr_Moeldoko, pada Jumat, 13 September 2019, Moeldoko mengunggah kutipan surat Al Baqarah tentang bencana Karhutla:

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Segala Musibah datangnya dari Allah SWT untuk hambaNya yang ia percaya dengan porsiNya masing-masing. Musibah (karhutla) bisa datang kapan saja, kepada siapa saja, dan di mana saja.”

Hal ini bukan tanpa sebab. Menurut Moeldoko yang konon kabarnya mendapatkan predikat sangat memuaskan saat resmi menerima gelar Doktor di bidang Ilmu Administrasi Negara Universitas Indonesia (UI) pada 15 Januari 2014, kabut asap yang menimpa wilayah Indonesia saat ini adalah takdir Yang Maha Kuasa.

Terkait pernyataan Kepala Staf Kepresidenan tersebut, banyak kalangan, khususnya korban, tidak menerima begitu saja ucapan beliau. Tidak sedikit kalangan yang langsung menggugat ucapan Moeldoko.

Lantas apa yang salah dalam pernyataan pria kelahiran Kediri tersebut?

Determinisme Ilahi

Pernyataan yang ia keluarkan itu mengarah pada penafian kehendak manusia dalam bertindak dan berbuat, serta menihilkan segala peranan dan kekuasaannya atas segenap tindakannya. Dalam kajian filosofis, pandangan ini kita kenal dengan istilah “Determinasi Ilahi”.

Paham-paham yang mengambil konsep determinisme sebagai landasan untuk memahami tindakan, sejarah, pemikiran, dan perkembangan manusia sudah begitu lama dan kuno dalam sejarah tradisi pemikiran manusia. Banyak hal yang ikut campur dalam merumuskan paham-paham tersebut, seperti faktor keagamaan, filsafat, dan politik.

Baca juga:

Sulit sekali membatasi pemahaman mengenai paham-paham tentang determinisme dalam sisi keilmuan dan pemikirannya saja tanpa memperhatikan juga faktor-faktor politis yang ikut memberikan kontribusi dalam mengkristalkan bentuknya yang filosofis.

Determinisme Ilahi ini umumnya berkaitan dengan tindakan personal manusia yang menihilkan segala peranan dan kekuasaannya atas segala sesuatu yang terjadi. Sehingga paham ini kita kenal dengan radikalnya menjadikan Tuhan sebagai sebab tunggal bagi segala sesuatu secara langsung, bukan melalui perantara penyebab-penyebab lain.

Paham ini memercayai prinsip kausalitas yang menjadikan Tuhan menempati semua posisi penyebab-penyebab yang akibat-akibatnya butuhkan.

Pandangan ini senada dengan teori eksternalitas yang tokoh barat Emile Durkheim pelopori. Durkheim berpendapat bahwa kehidupan ini adalah gejala yang terpisah dari kehendak dan keinginan individu.

Dengan segala perinciannya, kehidupan manusia berasal dari faktor eksternal, bukan dari dalam individu dan keinginan serta kehendaknya. Untuk itu, manusia dalam menjalani kehidupannya mau tidak mau harus tunduk pada faktor-faktor yang memaksa dan menihilkan peranannya. Ini yang kita sebut dengan hukum eksternalitas.

Adakah ekploitasi politis terhadap konsep Determinisme Ilahi?

Akibat negatif terbesar bagi yang mengikuti paham ini adalah pengebirian peranan dan andil manusia dalam menjalankan kehidupannya dan meliburkan tupoksinya dalam menyelesaikan permasalahan yang ia hadapi.

Jika masyarakat sudah terjangkit pemahaman bahwa dinamika dan tindakannya tunduk pada serangkaian faktor-faktor pasti yang berada di luar dirinya dan kehendaknya akan sadar bahwa dirinya adalah unsur yang telah kehilangan keterlibatan, tidak punya peranan dalam menciptakan masa depan dirinya dan masyarakatnya.

Halaman selanjutnya >>>

    Latest posts by Ahmad Tamami Jafar (see all)