Spirit Intelektual yang Bergerak

Spirit Intelektual yang Bergerak
Aksi Mahasiswa 22 April di Montreal | Foto: In Defence of Marxism

Akibat dari kondisi seperti itu adalah munculnya orang yang tak berguna—tiadanya spirit intelektual dalam dirinya. Yang menyadari bahwa aspirasi, bakat, dan pengetahuannya tak berguna dalam kehidupan bangsanya, jenis orang yang karena malas terpaksa rusak moralnya. (Jan Kucharzewski, 1948).

Di atas merupakan pendapat dari salah seorang tokoh kenamaan Rusia. Pendapat itu lahir kala ia menganalisis berbagai lapisan kelompok terdidik yang masih belum selesai dengan dirinya.

Tentu tidaklah berbeda dengan zaman kini yang oleh beberapa tokoh dipandang sebagai periode krisis intelektual. Dan agaknya sangatlah kabur jikalau penulis memaksakan term intelektual dalam tulisan ini sebelum menguraikan sedikit tentang apa yang melatari keniscayaan peran besar pengetahuan. Hingga kita bersepakat bahwa keberadaan mereka adalah keharusan.

Sejak kecil, kita senantiasa diajar oleh guru-guru di bangku Sekolah Dasar. Kita diajar mengenai cerahnya masa depan bagi orang-orang yang pintar. Ajaran seperti itu tidaklah salah. Sebab, selain untuk memberikan dorongan semangat belajar bagi para siswa—alasan moral semua guru, juga merupakan masa bagi siswa untuk menerima hal demikian.

Sayangnya, pendampingan yang dilakukan terhadap siswa ternyata sering kali kandas di tengah jalan. Kalau toh berhasil—menjadikan berprestasi dalam formalitas, siswa-siswa tersebut hanya pintar untuk mengolah materi. Tidak sampai berpikiran bahwa kecerdas­annya harus bermuara pada kemanfaatan sosial.

Mengapa demikian? Penyebab yang paling utama adalah ketiadaan spirit intelektual, atau apa yang dikatakan oleh Jamaluddin Afghani sebagai semangat filsafat. Padahal, di Indonesia masa lampau, sejarah terhadap minat pengetahuan dan esensi filsafat, yakni kebaikan bersama, telah menjadi senjata ampuh bagi lahirnya peradaban yang kuat.

Mungkin kita masih sangat ingat dengan cerita Ken Arok yang mengaji terlebih dahulu kepada Lohgawe sebelum terjun untuk menata pemerintahan. Atau dengan perjalanan Bung Syahrir yang terpaksa keluar dari Leiden sebab tidak memberi kepuasan intelektual baginya.

Berbagai sekolah mengklaim telah memberi pengajaran yang baik bagi peserta didik. Mereka dengan bangga menyebut mata pelajaran yang sudah ditransfer ke otak para siswanya. Mulai dari matematika, bahasa, sejarah, IPA, IPS, sampai dengan pendidikan olahraga.

Pertanyaannya—terhadap begitu hebatnya model yang mereka klaim sebagai modal masa depan Indonesia, mengapa keadaan sosial kita masih terlampau kacau? Bahkan tidak jarang yang mengacaukannya adalah sekelompok kaum ber-ijasah.

Jamaluddin Afghani yang mengkritik model Mesir zaman Khadiv membantu penulis untuk mencari jawaban atas kegelisahan tersebut. Ia menyatakan:

Tidak diragukan lagi, andaikan semangat filsafat berada di sekolah-sekolah ini, makaselama periode enam puluhan tahun inimereka tidak akan tergantung pada negara-negara Eropa, dan berjuang untuk memperbarui kerajaan sesuai dengan ilmu pengetahuan…

Saya dapat mengatakan bahwa jika semangat filsafat ditemukan di dalam suatu masyarakat, sekalipun masyarakat itu tidak mempunyai salah satu dari ilmu yang mempunyai pokok bahasan khusus, tidak diragukan lagi semangat filsafat mereka akan meraih kembali semua ilmu pengetahuan tersebut.

(Diambil dari buku terjemahan karya Syed Hussein Alatas, 1988, mengutip Nikki Keddie, 1968).

Sudah terlampau banyak bukti yang bisa mendukung argumen Afghani yang penulis kutip di atas. Bisalah kita menengok ke belakang semangat Restorasi Meiji-nya Jepang, hingga membuat bangsa tersebut menjadi salah satu negara yang dihormati. Boleh juga belajar dari tradisi nenek moyang Cina—kini Tiongkok—yang membuatnya tidak bisa disingkirkan dari penguasaan ekonomi dunia.

Memang begitulah yang penulis maksudkan—dan pembaca pastilah sudah memahami—bahwa hal yang paling substansial dalam pembangunan peradaban adalah pengetahuan. Sedangkan pengetahuan yang paling menggerakkan adalah spirit (semangat) akan cinta pada kebijaksanaan (filsafat): semangat filsafat atau spirit intelektual.

Meski demikian, penulis tidak ingin jika kata intelektual—seperti yang sudah dituliskan jauh di atas—mengaburkan pemahaman terhadap spirit intelektual ini. Oleh karenanya, merupakan keharusan bagi penulis untuk meluruskan maksud dari intelektual yang penulis cantumkan.

Di atas sudah dikutip benang sejarah Ken Arok dan Syahrir yang menjadi kaum berpengetahuan nan berpengaruh terhadap sosialnya. Mereka tidaklah menjadi pahlawan dari hasil membeo terhadap pengetahuan barat yang kini dianggap modern bahkan oleh sebagian kelompok dikatakan postulat. Melainkan hanya memanfaatkan ilmu pengetahuan yang mereka pandang sebagai jalan kebijaksanaan.

Ken Arok dalam Pramoedya Ananta Toer (1999) dilukiskan sebagai sosok yang mencari kebijaksanaan lewat berguru di pondokan Lohgawe—term ini dalam kajian kekinian dikatakan nonformal. Sedang Syahrir mendapat inspirasi untuk gerakan perubahan di Indonesia dari banyak diskusi di luar sekolahan—gaya belajar yang kini disebut informal.

Letak persamaan mereka, yakni bahwa keduanya tidak berangkat dari lembaga pendidikan yang dalam term Barat—Eropa khususnya, dinamakan lembaga formal. Walau demikian, toh senyata-nyatanya tidak ada seorang pun yang berani menyangkal bahwa keduanya merupakan anak emas di zamannya.

Mereka adalah intelektual sejati yang matang berpikir, hingga akhirnya termanifestasikan dalam gerakan nyata demi kemajuan peradaban sosialnya. Inilah yang dimaksudkan oleh penulis tentang kata intelektual untuk mengontekskan dengan ragam budaya tinggi masyarakat Indonesia.

Kita tidak bisa ingkari bahwa term intelektual memang bersumber dari Barat. Walau sebenarnya—kalau kita jujur—substansi intelektual sudah lama ada dan dipraktikkan oleh berbagai bangsa dunia, termasuk Indonesia, dengan penggunaan istilah yang berbeda.

Misalnya, kita kenal bahasa dadi wong dalam masyarakat Jawa. Meski klaim bahasa intelektual dari barat itu benar, tetapi arah yang penulis maksud dan kita butuhkan adalah substansi akan spirit intelektual yang bergerak. Tidak selalu memaksakan kehendak dari diktat-diktat asing untuk diterapkan di negaranya.

Tagore mengingatkan seperti ini :

Keberatan saya, pengaturan pendidikan asing yang dibuat-buat ini cenderung untuk menguasai pikiran nasional kami dan dengan demikian membunuh, atau menghalangi peluang yang besar untuk menciptakan suatu kekuatan pikiran baru dengan suatu kombinasi kebenaran baru.

Inilah yang membuat saya mendesak agar semua unsur dalam kebudayaan kami sendiri harus diperkukuh. Bukannya untuk melawan kebudayaan Barat, tetapi secara tulus menerima dan berasimilasi. Memanfaatkannya sebagai santapan, bukannya sebagai beban kami, untuk menjadi pemilik utama kebudayaan ini, dan tidak hidup dipinggirannya sebagai pemungut tulisan dan penyadap pemikiran. (Terjemahan Syed Hussein, 1988).

Lebih lanjut, bahkan kaum terdidik formal yang stagnan, diam, dan tidak berfungsi untuk peradaban, bisa dikatakan sebagai non-intelektual. Mereka sangat pasif secara mental dan tidak pernah ada kemauan berpikir kritis kala mendapatkan sebuah hal baru dari yang diajarkan. Kemauan penulis tekankan, sebab sangatlah berbeda kiranya antara keinginan dan kemauan.

Syed Hussein (1988) menganalogikan seperti ini:

Seorang terpelajar mungkin ingin melaksanakan suatu kegiatan dengan baik tanpa mempunyai kemauan untuk berdaya upaya sendiri. Kapan pun, suatu kemauan adalah operatif, kecenderungan lain yang bertentangan dikuasai, dan menjalani ketegangan sampai tujuan akhir dari kemauannya tercapai.

Akhirnya, perlu penulis akui bahwa uraian di atas merupakan sebuah refleksi kedirian kala melihat semakin tercerabutnya model pengajaran dari akar filosofis kebudayaan sendiri. Uraian di atas juga hanyalah akan menjadi sampah non-intelektual jikalau tidak ada kemauan untuk bergerak secara operasional berupa gebrakan yang berimplikasi para perubahan ke arah yang lebih bijak.

Sistem dan lembaga pengajaran sudah harus belajar pada spirit intelektual yang menghasilkan tokoh-tokoh maha dahsyat, dipuja oleh manusia di setiap zaman, dan menjadi bukti Indonesia pernah dan harusnya akan memiliki tokoh demikian.

*Ferhadz Ammar Muhammad, Mahasiswa Ilmu Politik (Siyasah) UIN Sunan Kalijaga

___________________

Artikel Terkait:
Kontributor NP
Kontributor 73 Articles
Kontributor Nalar Politik