Spirit Intelektual yang Bergerak

Spirit Intelektual yang Bergerak
©In Defence of Marxism

Akibat dari kondisi seperti itu adalah munculnya orang yang tak berguna—tiadanya spirit intelektual dalam diri. Yang menyadari bahwa aspirasi, bakat, dan pengetahuannya tak berguna dalam kehidupan bangsanya, jenis orang yang karena malas terpaksa rusak moralnya. (Jan Kucharzewski, 1948).

Di atas merupakan pendapat dari salah seorang tokoh kenamaan Rusia. Pendapat itu lahir kala ia menganalisis berbagai lapisan kelompok terdidik yang masih belum selesai dengan dirinya.

Tentu tidaklah berbeda dengan zaman kini yang oleh beberapa tokoh dipandang sebagai periode krisis intelektual. Dan agaknya sangatlah kabur jikalau penulis memaksakan term intelektual dalam tulisan ini sebelum menguraikan sedikit tentang apa yang melatari keniscayaan peran besar pengetahuan. Hingga kita bersepakat bahwa keberadaan mereka adalah keharusan.

Sejak kecil, guru-guru di bangku Sekolah Dasar senantiasa mengajarkan kita. Mereka mengajarkan mengenai cerahnya masa depan bagi orang-orang yang pintar. Ajaran seperti itu tidaklah salah. Sebab, selain untuk memberikan dorongan semangat belajar bagi para siswa—alasan moral semua guru, juga merupakan masa bagi siswa untuk menerima hal demikian.

Sayangnya, pendampingan terhadap siswa ternyata sering kali kandas di tengah jalan. Kalau toh berhasil—menjadikan berprestasi dalam formalitas, siswa-siswa tersebut hanya pintar untuk mengolah materi. Tidak sampai berpikiran bahwa kecerdas­annya harus bermuara pada kemanfaatan sosial.

Mengapa demikian? Penyebab yang paling utama adalah ketiadaan spirit intelektual, atau apa yang Jamaluddin Afghani katakan sebagai semangat filsafat. Padahal, di Indonesia masa lampau, sejarah terhadap minat pengetahuan dan esensi filsafat, yakni kebaikan bersama, telah menjadi senjata ampuh bagi lahirnya peradaban yang kuat.

Mungkin kita masih sangat ingat dengan cerita Ken Arok yang mengaji terlebih dahulu kepada Lohgawe sebelum terjun untuk menata pemerintahan. Atau dengan perjalanan Bung Syahrir yang terpaksa keluar dari Leiden sebab tidak memberi kepuasan intelektual baginya.

Berbagai sekolah mengklaim telah memberi pengajaran yang baik bagi peserta didik. Mereka dengan bangga menyebut mata pelajaran yang sudah tertransfer ke otak para siswanya. Mulai dari matematika, bahasa, sejarah, IPA, IPS, sampai dengan pendidikan olahraga.

Pertanyaannya—terhadap begitu hebatnya model yang mereka klaim sebagai modal masa depan Indonesia, mengapa keadaan sosial kita masih terlampau kacau? Bahkan tidak jarang yang mengacaukannya adalah sekelompok kaum berijasah.

Baca juga:

Jamaluddin Afghani yang mengkritik model Mesir zaman Khadiv membantu penulis untuk mencari jawaban atas kegelisahan tersebut. Ia menyatakan:

Tidak diragukan lagi, andaikan semangat filsafat berada di sekolah-sekolah ini, makaselama periode enam puluhan tahun inimereka tidak akan tergantung pada negara-negara Eropa, dan berjuang untuk memperbarui kerajaan sesuai dengan ilmu pengetahuan…

Saya dapat mengatakan bahwa jika semangat filsafat ditemukan di dalam suatu masyarakat, sekalipun masyarakat itu tidak mempunyai salah satu dari ilmu yang mempunyai pokok bahasan khusus, tidak diragukan lagi semangat filsafat mereka akan meraih kembali semua ilmu pengetahuan tersebut.

(Diambil dari buku terjemahan karya Syed Hussein Alatas, 1988, mengutip Nikki Keddie, 1968).

Sudah terlampau banyak bukti yang bisa mendukung argumen Afghani yang penulis kutip di atas. Bisalah kita menengok ke belakang semangat Restorasi Meiji-nya Jepang, hingga membuat bangsa tersebut menjadi salah satu negara terhormat. Boleh juga belajar dari tradisi nenek moyang Cina—kini Tiongkok—yang membuatnya tidak bisa tersingkirkan dari penguasaan ekonomi dunia.

Memang begitulah yang penulis maksudkan—dan pembaca pastilah sudah memahami—bahwa hal yang paling substansial dalam pembangunan peradaban adalah pengetahuan. Sedangkan pengetahuan yang paling menggerakkan adalah spirit (semangat) akan cinta pada kebijaksanaan (filsafat): semangat filsafat atau spirit intelektual.

Meski demikian, penulis tidak ingin jika kata intelektual—seperti yang sudah saya tuliskan jauh di atas—mengaburkan pemahaman terhadap spirit intelektual ini. Oleh karenanya, merupakan keharusan bagi penulis untuk meluruskan maksud dari intelektual yang penulis cantumkan.

Di atas sudah saya kutip benang sejarah Ken Arok dan Syahrir yang menjadi kaum berpengetahuan nan berpengaruh terhadap sosialnya. Mereka tidaklah menjadi pahlawan dari hasil membeo terhadap pengetahuan barat yang kini kita anggap modern bahkan oleh sebagian kelompok mengatakannya postulat. Melainkan hanya memanfaatkan ilmu pengetahuan yang mereka pandang sebagai jalan kebijaksanaan.

Halaman selanjutnya >>>