Stereotipe Gender dalam Profesi Guru Pendidikan Anak Usia Dini

Stereotipe Gender dalam Profesi Guru Pendidikan Anak Usia Dini
©Shutterstock

Pantaskah guru laki-laki mengajar di taman kanak-kanak? Siapa yang menjamuri pengajar di taman kanak-kanak? Tentu kebanyakan adalah wanita. Bahkan, lebih mayoritas PAUD itu guru-gurunya wanita. Mengapa bisa demikian?

Alasan utamanya banyak yang mengatakan karena wanita lebih lemah lembut dan penuh kasih sayang kepada anak-anak. Hal ini dianggap laki-laki bahwa menjadi guru PAUD itu terlalu mudah karena hanya mengajar anak-anak kecil, hanya sekadar menyanyi-nyanyi saja dan bermain tanpa harus memiliki ilmu yang tinggi.

Persepsi ini sangat keliru, sebab guru PAUD itu tugasnya lebih dari hanya sekadar itu, namun guru PAUD dituntut mampu mengajar anak dengan sesuai minat bakat dan perkembangan, harus aktif menetapkan kebijaksanaan dan melaksanakan proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, pembiayaan, dan penilaian kegiatan kurikulum, kesiswaan, sarana dan prasarana, personalia sekolah, keuangan, dan hubungan sekolah dengan masyarakat.

Semua ini harus teradministrasi dengan baik dan guru harus melakukannya dengan telaten, cekatan, karena adanya tugas administrasi yang berat bukan hanya mengajar (Nurdin Cahyadi, 2018).

Profesi guru PAUD merupakan salah satu yang tak luput dari pola stereotipe. Guru pada lembaga PAUD dan taman kanak-kanak kerap dicitrakan sebagai sosok perempuan (Evi Resti Dianita, 2020). Hal ini dikarenakan memang jarang sekali guru PAUD yang berasal dari jenis laki-laki.

Penulis sendiri di masa kecil diajar dan dibimbing oleh guru-guru taman kanak-kanak yang semuanya adalah perempuan. Bahkan sempat tertanam di benak penulis bahwa di taman kanak-kanak itu hanya ada ibu guru, tidak ada bapak guru. Kalaupun ada, pasti jumlah sangat sedikit.

Jika dilihat berdasarkan data yang dirilis oleh Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2021, bahwa bila dipersentase jumlah guru perempuan di jenjang taman kanak-kanak adalah 97,96%, sedangkan guru laki-laki di PAUD hanya 2,04%. Ini masuk akal karena biasanya di PAUD tidak ada guru laki-laki. Kalaupun ada, jumlahnya di setiap lembaga tidak sampai 5 orang (Theresia Alviani Sum, dkk., 2018).

Lebih sedikitnya jumlah laki-laki dan dominannya perempuan dalam profesi guru PAUD banyak dikaitkan dengan stereotipe terhadap profesi guru PAUD itu sendiri. Guru PAUD cenderung digambarkan dengan citra feminin yang dimiliki perempuan. Contohnya, seorang guru PAUD memiliki citra sosok yang keibuan, lemah lembut, penyayang, pandai menari dan menyanyi, pandai mendongeng, dan sebagainya.

Baca juga:

Karakter-karakter tersebut dalam persepsi masyarakat umumnya sangat lekat dengan sifat feminin dan lebih keperempuanan (M. Ihsan Dacholfany, dkk., 2018). Contohnya saja untuk sosok yang pandai menari dan menyanyi maka seseorang tersebut dianggap sudah pasti memiliki sifat gemulai dan luwes dalam gerak-geriknya.

Padahal tidak selalu orang yang gerak-geriknya gemulai dan pandai menari ataupun menyanyi harus dianggap feminin. Boleh jadi ada laki-laki yang dalam menjalankan profesi yang menuntut kemampuan demikian ia mampu melakukannya dengan profesional, sesuai dengan karakter yang diharuskan, namun di luar atau dalam kehidupan sehari-harinya ia juga mampu untuk bersikap maskulin.

Stereotipe dan pemberian identitas maskulin maupun feminin juga sampai kepada aspek keahlian yang dimiliki oleh guru di lembaga pendidikan anak usia dini. Beberapa mata pelajaran tertentu cenderung mempunyai citra maskulin bagi sebagian orang sehingga dianggap lebih pas untuk diajarkan oleh seorang laki-laki.

Seperti contoh kasus pemberian identitas terhadap guru olahraga. Seorang pengajar olahraga dalam persepsi guru di sana mengekspresikan maskulinitas tradisional. Oleh karenanya, positioning ahli dalam bidang olahraga cenderung melekat kepada seorang guru laki-laki (Ruth Suci Kawehilani, 2011).

Sering kita membaca dan mendengar adanya kasus pemilahan tugas dalam mengajarkan jenis mata pelajaran tertentu berdasarkan alasan gender. Di sisi lain, profesi guru karena status rendah dan gaji rendah yang khas dari pekerjaan yang identik sebagai pekerjaan perempuan ini membuat laki-laki enggan mengajar anak-anak kecil.

Pekerjaan sebagai guru PAUD dan taman kanak-kanak bagi sebagian besar orang juga dianggap sebagai profesi dengan minim risiko (low-risk) dan tergolong dalam sektor tradisional (Evi Resti Dianita, 2020). Sedangkan yang dipandang lebih sesuai untuk sektor ini adalah perempuan.

Karena berisiko rendah, profesi guru juga dipandang tidak memerlukan keahlian khusus ataupun kemampuan tingkat tinggi sehingga cenderung dianggap pekerjaan yang tidak menantang. Sedangkan pekerjaan dan profesi yang tergolong berisiko tinggi dipandang lebih sesuai kepada laki-laki.

Selain adanya stigma maskulinitas-feminitas dan gaji yang rendah, guru anak usia dini juga dikaitkan dengan status yang rendah.

Halaman selanjutnya >>>
Istifadatul Ghoziyah
Latest posts by Istifadatul Ghoziyah (see all)