Struktur Demografi Indonesia 2045, Bonus atau Beban?

Struktur Demografi Indonesia 2045, Bonus atau Beban?
©ITS

Struktur Demografi Indonesia 2045, Bonus atau Beban?

Kajian mengenai demografi atau kependudukan bukan hanya terkait fertilitas (kelahiran), mortalitas (kematian), dan migrasi (perpindahan). Namun juga mengenai kualitas penduduk, penyebaran penduduk, pertumbuhan penduduk, ekonomi, pendidikan, dan bahkan lingkungan.

Berbicara mengenai demografi, secara etimologis, sebuah kata yang berasal dari bahasa Yunani demos yang bermakna rakyat atau penduduk dan grafein adalah menulis. Jadi demografi adalah eksplanasi  mengenai penduduk.

Secara historis, kata tersebut digunakan oleh Achille Guillard dalam karangannya yang berjudul Elements de Statistique Humaine on Demographic Compares pada 1885.

Dalam buku Principles of Demography karangan Donald J. Boguedi, dijelaskan bahwa demografi adalah sebuah ilmu yang mempelajari komposisi, distribusi penduduk, dan perubahan-perubahannya secara statistik dan matematik melalui lima komponen demografi; fertilitas, mortalitas, perkawinan, migrasi, dan mobilitas sosial.

Salah satu teori yang berasal dari studi ini adalah teori Bonus Demografi atau Demographic Dividend. Pada dasarnya teori tersebut menyatakan bahwa ada relasi kuat antara dinamika kependudukan dengan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi secara maksimal akan terjadi ketika rasio ketergantungan (antara penduduk usia produktif dan non-produktif) berada di bawah angka 50 atau juga disebut sebagai The Window of Opportunity.

Lebih mudahnya adalah suatu keadaan penduduk yang memberikan prospek keuntungan yang tinggi. Sehingga akan memengaruhi PDB negara, jumlah angkatan kerja yang tinggi dan serapannya ke dalam pasar, dan melonjaknya sumber daya manusia secara kuantitas. Ketiga pengaruh tersebut akan sangat membantu proses pembangunan ekonomi suatu negara.

Jika menilik terhadap struktur demografi Indonesia, bonus demografi akan dicapai oleh Indonesia di tahun 2045 ketika 70% demografi Indonesia berada pada rentang usia produktif. Demikian patut disyukuri, mengingat wacana dan gagasan mengenai 100 tahun Indonesia sebagai Generasi Emas 2045 mendapatkan momentumnya.

Bonus demografi Indonesia 2045 adalah suatu hal yang harus dimanfaatkan, mengingat pola evolusi demografi tersebut hanya terjadi seabad sekali sebelum nantinya kembali ke titik tengahnya. Hal tersebut juga sangat menguntungkan dalam konteks pertumbuhan ekonomi dan reputasi internasional Indonesia.

Baca juga:

Evidensi mampu dilihat dari beberapa negara tetangga di Asia yang mampu memanfaatkan momentum bonus demografi. Korea Selatan, Singapura, dan Taiwan merupakan beberapa negara yang mampu mengonversi bonus demografi menjadi sebuah keuntungan bagi ekonomi mereka.

Wacana bonus demografi Indonesia 2045 sebaiknya juga harus dibarengi dengan wacana beban demografi atau demographic burden. Banyaknya penduduk usia produktif semata-mata tidak mendasari apa yang dikatakan “bonus” dalam bonus demografi Indonesia 2045. Hal tersebut didasari dari beberapa syarat utama yang harus dipenuhi oleh Indonesia untuk mencapai apa yang diinginkan di 100 tahun Indonesia nanti.

Indonesia hendaknya harus meniti jalan untuk memenuhi syarat utama demi mencapai bonus demografi. Terdapat beberapa tantangan yang harus diselesaikan sehingga Indonesia mampu mengkonversi bonus tersebut menjadi bonus, bukan menjadi beban demografi yang mengubur mimpi Generasi Emas 2045;

Pertama, peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Pertambahan   penduduk   usia produktif harus diiringi oleh meningkatnya kualitas SDM Indonesia baik dari segi keterampilan, pendidikan, dan kesehatan. Sehingga mampu bersaing dalam kompetisi global yang semakin ketat.

Salah satu indikator yang umum digunakan dalam menghitung kualitas SDM suatu negara adalah Human Development Index atau Indeks Pembangunan Manusia. Mengacu kepada United Nations Development Programme, Indonesia menempati posisi ke-114 dari 190 negara, hanya sedikit tingkat diatas Vietnam (115) dan Filipina (116). Indonesia harus mampu mengejar ketertinggalannya dari Malaysia (62), Thailand (66), dan Brazil (87), agar memiliki daya saing di kancah global.

Kedua, pemerataan penduduk di seluruh Indonesia. Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki ciri utama dari lanskap demografisnya, yaitu distribusi penduduk yang asimetris. Hal ini mampu ditinjau melalui distribusi asimetris di beberapa pulau besar di Indonesia sebagai berikut ini; Pulau Jawa yang luas geografinya 7% terdapat 57% penduduk, Pulau Sumatera yang luas geografinya 25% terdapat 22% penduduk, Pulau Kalimantan yang luas geografinya 28% terdapat 6% penduduk, Pulau Sulawesi yang luas geografinya 10% terdapat 7% penduduk dan Pulau lainnya (Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua) yang luasnya 30% terdapat 9% penduduknya.

Distribusi asimetris ini akan berdampak kepada beberapa permasalahan seperti kemiskinan, kesenjangan yang tinggi, pemukiman-pemukiman kumuh di wilayah perkotaan, dan salah satunya adalah disparitas kesempatan akses lapangan kerja antara wilayah yang padat dan tidak padat.

Ketiga, penyerapan secara efektif dan efisian dari penduduk usia produktif ke dalam pasar kerja. Problematika pengangguran menjadi salah satu isu yang disorot pasca pandemi berakhir. Indonesia dengan prospek peningkatan usia produktif tidak boleh abai dengan  isu pengangguran.

Baca juga:

Peningkatan usia produktif dapat memicu persoalan bilamana tidak mampu terserap oleh lapangan pekerjaan. Membuka lapangan pekerjaan baru adalah kewajiban bagi Indonesia untuk meminimalisasi adanya penggangguran.

Dengan begitu, melimpahnya penduduk usia produktif baik itu secara kuantitas maupun kualitas akan menjadi variabel penting dalam mendorong pertumbuhan dan kemajuan ekonomi Indonesia.

Demikian, optimisme yang ada harus tetap dipelihara oleh seluruh komponen bangsa dalam hal ini, Generasi Emas 2045. Optimisme tersebut juga harus dibarengi oleh kekhawatiran-kekhawatiran positif mengenai tantangan-tantangan yang memungkinkan batalnya wacana hebat tersebut. Gagasan apik, aksi nyata, dan gotong royong merupakan kunci utama untuk menyukseskan apa yang dikonseptualisasikan sebagai Generasi Emas 2045.