Suara Perjuangan Warga Wadas Menolak Tambang

Suara Perjuangan Warga Wadas Menolak Tambang
©ERA

Nalar Warga – Pada Minggu, 13 Februari 2022, Ganjar Pranowo datang ke Desa Wadas. Penyerbuan dan pengepungan ribuan aparat kepolisian selama beberapa hari menjadi alasan kedatangan Gubernur Jawa Tengah itu.

Tanpa pengawalan aparat kepolisian, pertemuan kami dengan Ganjar berjalan dengan lancar dan aman. Ini dapat menjadi bukti untuk menampik sejumlah kabar bahwa warga Wadas merupakan biang kericuhan.

Mars GEMPADEWA dan sorak-sorai Cabut Izin Penetapan Lokasi (IPL) tambang batuan andesit di Wadas menggema di Masjid Nurul Huda, Dusun Krajan, yang menjadi lokasi berlangsungnya pertemuan itu.

Pada pertemuan ini, kami menyampaikan situasi yang sebenarnya terjadi saat insiden penyerbuan ribuan aparat ke Wadas kepada Pak Ganjar. Kami tidak mendapatkan informasi yang jelas tentang kedatangan aparat dalam mengawal aktivitas pengukuran lahan untuk proyek pertambangan quarry di desa kami.

Karena itu juga, banyak di antara kami yang tidak mengetahui atas alasan apa dan mengapa di antara kawan, suami, anak, maupun saudara kami mendapat tindakan kekerasan dan penangkapan secara sepihak oleh aparat kepolisian.

Salah satu di antara kami mengungkapkan, dia tidak tahu mengapa dia dan suaminya ditangkap. Intel mendatangi dia dan suaminya pada Selasa pagi (08/02) saat berada di warung sate. Dia berhasil lepas dari penangkapan itu, sementara suaminya digelandang ke Polsek Bener, Purworejo.

Sesampainya di rumah, dia disambut dengan tangisan dari ibunya yang juga sedih sekaligus bertanya-tanya mengapa suaminya ditangkap oleh polisi. Selang beberapa jam, dia juga diseret, dibentak, dan dibawa ke Polsek Bener oleh belasan orang tak berseragam saat dia sedang ziarah ke makam ayahnya.

Dia bebas esok harinya, pada Rabu, 9 Februari 2022, pukul 17.00 WIB. Tangisan dari dua orang anaknya, saudara, dan ibunya menyambut kepulangannya. Insiden penangkapan itu membuatnya sangat terpukul dan menyisakan trauma yang mendalam.

Baca juga:

Saat proses interogasi di kantor kepolisian, dia mendapatkan pertanyaan dari aparat kepolisian mengapa menolak proyek pertambangan. Selain itu, polisi juga mengatakan kepadanya bahwa menolak program pemerintah akan membuat hidup sengsara.

Dia mengulang perkataan polisi itu, “Jangan berani-berani menolak program pemerintah. Akan sengsara kalau menolak program pemerintah. Ikuti saja program pemerintah yang ada.”

Sementara itu, warga yang lain menyampaikan banyak anak-anak yang menangis ketakutan saat penyerbuan aparat kepolisian pada Selasa, 8 Februari 2022. Selain itu, rasa takut yang menyelimuti warga ketika melihat ribuan aparat bersenjata lengkap dan membawa anjing masuk ke dusunnya, Randuparang.

Untuk menghindari penangkapan itu, puluhan warga di dusunnya berjalan kaki ke dalam hutan untuk mengamankan diri. Banyak di antara mereka merupakan perempuan, kelompok lanjut usia (lansia), dan anak-anak.

Bahkan, sejumlah warga menggendong salah satu lansia yang sudah tidak mampu berjalan kaki dengan normal hingga ke hutan.

Rasa takut, lapar, suara tangisan anak-anak, serta gigitan nyamuk bercampur menjadi satu mengiringi pelarian mereka di dalam hutan. Sore harinya, sekira pukul 17.00 WIB, mereka baru memberanikan diri untuk turun dari tempat persembunyian.

Selain itu, banyak warga dalam pertemuan bersama Pak Ganjar juga menceritakan tentang pengepungan dan penangkapan sepihak kepada beberapa warga yang berlangsung di Masjid Nurul Huda ketika warga sedang melakukan mujahadah.

Salah satu dari kami menyampaikan, pada Selasa, sekira pukul 10.00 WIB, tidak ada warga yang melakukan penjagaan di sepanjang jalan Desa Wadas. Sebagian besar warga bergabung bersama sedang melakukan mujahadah di dalam masjid. Namun, tanpa alasan yang jelas, segerombolan orang mendatangi mereka dengan pakaian bebas yang terindikasi menjadi bagian dari aparat kepolisian.

Halaman selanjutnya >>>
Warganet
Latest posts by Warganet (see all)