Suatu Hari Nanti

Suatu Hari Nanti
┬ęDe

Pada suatu hari nanti
Jasadku tak akan ada lagi
Tapi dalam bait-bait sajak ini
Kau takkan kurelakan sendiri

Pada suatu hari nanti
Suaraku tak terdengar lagi
Tapi di antara lirik-lirik sajak ini
Kau akan tetap kusiasati

Pada suatu hari nanti
Impianku pun tak dikenal lagi
Namun di sela-sela huruf sajak ini
Kau takkan letih-letihnya kucari

Suatu Ketika di Andara Kafe

Buku, puisi dan gagasan asing berdenting seperti nasib sendok kecil saat digunakan mengaduk kopi. Nasibmu berdenting seperti itu? Ataukah seperti suara nota pembayaran yang diremas?

Malam gunting pita telah berakhir tapi malam-malammu sepertinya tak akan berakhir di tanganmu, tergenggam nyala api puisi dan sangrai kopi juga menu baru; nasi mangkok saus pedas atau latte bunga matahari.

Maka tiap kali lampu kafe dipadamkan, kata-kata dalam puisi akan terbakar membakar yang tampak dan tak tampak di hidupmu yang kadang tidur berjalan.

Pengunjung mungkin hanya menikmati kopi, memanfaatkan wifi atau memuaskan selfie mengabaikan kata-kata dalam puisi yang terus mengalir pelan, teramat pelan seperti langkah sepasang kaki pemulung renta dalam kantuk dini hari.

Tiap kali matahari mengarahkan pandangannya ke jendela kamarmu, rasakanlah hangat udara timur meski dengan mata lelah, teramat lelah.

Rasakanlah juga angin berpusing membawa tangan debu menyimpan sidik jarinya diblender kopi, seperti kata demi kata dalam puisi menyimpan hari esok.

Untuk yang Kusebut Namanya

Telah lama ku memuja dewa cinta
Meski kadang luka datang menyayat hati
Kantong tawanya tetap menjadi penawar
Hingga sang rembulan pun iri

Kita memang bukankah sepasang rasa
Diciptakan bersama saling memeluk angan
Cita-cita bercinta yang disusun lama
Kini hilang diterpa isu tak ingin bersama

Latest posts by Lalik Kongkar (see all)