Sufis Institute: Buku Itu Nomor Dua, Perjumpaan Nomor Satu

Sufis Institute: Buku Itu Nomor Dua, Perjumpaan Nomor Satu
©Sufis Institute

Tentang bagaimana perkawanan itu dirajut, bagaimana suatu pemikiran dibicarakan di ruang yang bernama Sufis Institute.

“Perpustakaan sejak dulu selalu sepi, kurang diminati. Mereka hanya datang ke perpustakaan di kampus misalnya karena mengerjakan tugas. Jarang sekali kita jumpai orang yang datang ke perpustakaan karena ingin membaca atau suka membaca. Apalagi karena perpustakaan kita selama ini, dulu sewaktu saya SMP, digambarkan dengan sedikit angker; orang-orang tidak boleh ribut di sana, tidak boleh bercengkerama. Padahal, semestinya perpustakaan menjadi semacam ruang perjumpaan bagi banyak orang.”

Begitu menurut Muhammad Fajrin, atau yang akrab disapa dengan Fajrin pada pengantar singkatnya dalam bincang-bincang “santuy” pada Sabtu, 20 November 2021, bersama mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Al Chaeriyah, Mamuju, Sulawesi Barat.

Diskusi ini kami selenggarakan untuk mencari tahu model baru perpustakaan komunitas yang tidak “serius”, “kaku”, bahkan sangat menarik dan mengasyikkan karena perpustakaan SI menurut Fajrin di sana mereka bisa mengadakan masak-masak lalu makan-makan, bernyanyi dan bergembira. Bagi teman-teman mahasiswa semester tiga yang sedang belajar mata kuliah Manajemen Perpustakaan, ini merupakan sesuatu yang tidak mereka jumpai. Hal ini bisa sebagai pembanding atas kunjungan mereka sebelumnya, yaitu mengunjungi kedua perpustakaan milik pemerintah yaitu perpustakaan dan arsip provinsi Sulawesi Barat dan perpustakaan dan arsip daerah Mamuju.

Dalam diskusi ini, ada beberapa hal yang coba ditawarkan oleh Fajrin selaku pendiri dan pustakawan Sufis Institute (SI); bahwa perpustakaan bukan hanya tempat membaca, tetapi juga merupakan ruang perjumpaan berbagai pemikiran (yang dimungkinkan) untuk bertemu di sana. Selain itu, untuk menciptakan suatu alternatif untuk pembelajaran dan perjumpaan sebagai ruang baca seperti untuk anak-anak muda dari berbagai organisasi. SI sebagai perpustakaan, ruang temu, dan kajian membayangkan dirinya seperti itu.

Lebih lanjut Fajrin menambahkan jika bagi mereka di SI sebenarnya bahwa buku itu menjadi hal nomor dua, bukan menjadi sesuatu yang nomor satu. Bagi Fajrin, yang nomor satu adalah perjumpaan, atau perkawanan. Bagaimana perkawanan itu dirajut, bagaimana suatu pemikiran dibicarakan di ruang yang bernama Sufis Institute. Perpustakaan Sufis sebenarnya lebih mengutamakan bagaimana orang datang untuk belajar, berbicara, dan silaturrahmi.

“Di sini kami sering mengadakan diskusi, kajian. Sebenarnya jarang ada orang yang membaca di Sufis, mereka datang meminjam buku, nanti mereka membaca di rumahnya. Kita sebelumnya banyak ngobrol, banyak bikin diskusi. Hal-hal seperti itu di SI yang kita jumpai. Ini sebenarnya untuk mengubah image perpustakaan seperti yang saya katakan di awal, jika orang ketika datang di perpustakaan itu  angker, orang tidak boleh ribut. Kita mencoba menghadirkan ruang baca perpustakaan yang tidak seperti itu. Di sana, orang bisa ribut, orang bisa bergembira, orang bisa bermain musik, itu perpustakaan yang coba kami tawarkan,” kata Fajrin dengan bahagia yang punya sanggar seni itu.

Orang Tidak Perlu Dipaksa Membaca, Cukup Mereka Sendiri yang Ingin Membaca

Kami meminta Fajrin berbagi pengalamannya membahas berbagai hal yang berhubungan dengan perpustakaan komunitas yang diadakan via Google Meet (GM) itu membuat mahasiswa antusias untuk bertanya karena penasaran dengan SI. Beberapa dari mereka bertanya. Seperti Amir mahasiswa yang paling tinggi di kelas mempertanyakan bagaimana strategi mengatasi perpustakaan SI di masa pandemi karena hari ini banyak perpustakaan yang “tertutup”.

Menurut Fajrin, perpustakaan SI, meskipun pandemi, orang tetap datang saja ke sana selama mereka memenuhi protokol kesehatan yang mereka berlakukan ketika orang ingin berkunjung. SI tidak menerapkan strategi apa-apa di masa pandemi. Semuanya berlangsung dan berjalan seperti apa adanya, orang datang minjam buku, diskusi. Diskusi-diskusi di Sufis pun tetap berjalan di masa pandemi.

Bagi Fajrin sebenarnya, bagaimana mendekatkan orang kepada budaya baca, mereka sebenarnya lebih banyak memanfaatkan jejaring perkawanan, komunitas. Misalnya, dengan sering kali mengadakan kunjungan ke rumah baca, dan mereka pun mendapatkan kunjungan balasan ke SI.

“Jadi model-model seperti itu yang kami terapkan sehingga orang-orang terus-menerus berdatangan. Biasanya bila ada pengunjung baru di SI, biasanya mendapatkan informasinya dari kawan ke kawan. ketika berkunjung mereka memberikan alasan, jika mereka tahu si dari kawan A, atau Kawan B. Dari Kawan B ke kawan C. Begitu seterusnya,” lanjut Fajrin menjelaskan mengapa orang-orang datang ke SI.

Kemudian seorang mahasiswa yang bernama Rifki bertanya, perpustakaan ini terletak di mana. Dan sudah berapa tahun Fajrin bekerja di perpustakaan SI. Sufis terletak di jalan Lembu, No. 9, Banua Baru Wonomulyo, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, Indonesia.

Fajrin mengaku jika SI baru berjalan setahun dan buku-bukunya dari koleksinya pribadi yang dibuka untuk umum. “Jadi awalnya koleksi buku-buku SI adalah milik saya. Daripada buku-buku itu tidak terbaca, kami dan beberapa kawan berinisiatif untuk membuka ruang baca kecil yang bernama SI. Kami telah membuat beragam kegiatan terutama yang bersifat diskusi. Kami pernah membuat kajian kitab yang bekerja sama dengan Balai Litbang Makassar, kami juga bekerja sama dengan teman-teman Layar Tancap dengan pemutaran film secara berkala. Beragam tema telah kami diskusikan di SI ini. SI tidak mematok dirinya harus di kajian ini atau kajian itu. Kami membuka kepada segala jenis, segala macam, diskusi,” tegas Fajrin tentang kajian di Sufis.

Kemudian Amir bertanya lagi ke Fajrin, bagaimana agar bisa kecanduan membaca, karena dirinya sangat malas membaca.

Menurut Fajrin, malas membaca tidak ada tips dan trik bagaimana orang bisa rajin membaca, jika bukan karena kemauan Anda sendiri, bukan karena memotivasi diri Anda sendiri untuk membaca, maka Anda tidak akan pernah membaca begitu. Bagi Fajrin, bisa saja ia memberikan nasihat, misalkan, Anda harus menyisihkan waktumu dalam 24 jam dalam sehari, kemudian menyisihkan waktu untuk membaca selama dua (2) jam setiap harinya.

“Tapi kalau Anda tidak punya kemauan dan semangat, maka Anda tidak akan pernah bisa mengerjakan itu. Misalnya, jika konsisten dua (2) jam dalam membaca, maka minat membaca Anda akan meningkat, mengalami peningkatan signifikan. Karena kalau kita tidak ingin belajar, mengetahui sesuatu, maka keputusan ada pada diri Anda sendiri. Jadi tips dan trik hanyalah sebagai pemantik saja. Makanya, di sini kami tidak pernah meminta orang membaca.

Meskipun kami mempunyai perpustakaan, kami tidak pernah menyuruh orang untuk membaca. Jadi mereka datang, ya, kalau mereka ingin membaca, alhamdulillah, kalau tidak kita bisa membuka obrolan, diskusi hangat. Orang tidak perlu dipaksa membaca, cukup mereka sendiri yang ingin membaca. Bahwa membaca itu penting, iya, namun, alangkah bagusnya kesadaran itu datang dari diri sendiri,” sambungnya.

Fajrin juga menambahkan, jika di SI yang memantik orang membaca awalnya dari obrolan, mereka saling berbicara, berdiskusi, ketika datang ke sana membincangkan topik-topik diskusi, maka mereka memilih untuk membaca atau hal-hal yang kita didiskusikan itu kemudian memilih buku ini dan itu. Buku tertentu yang mereka bicarakan maka mereka akan membacanya.

Di SI, orang-orang tidak serta-merta dapat meminjam buku karena menurut Fajrin, jika suatu ketika teman-teman datang di Sufis mau meminjam buku, kami tidak sama dengan perpustakan lain. Karena syaratnya kalau di Sufis selama sebulan Anda harus intensif datang ke perpustakaan, kita harus kenal, akrab. Pengunjung Sufis sebenarnya lebih banyak mengadakan silaturahmi. Jika bertandang sewarnya saja, memberlakukan norma-norma yang berlaku di masyarakat.

Hal yang lebih menarik ketika Fajrin yang pernah kuliah di Yogyakarta itu mengatakan jika perpustakaaan SI terbuka untuk semua kalangan. Bukan hanya milik pelajar, mahasiswa, tapi ruang untuk semua orang. Bukan dari kalangan terpelajar saja tapi juga pekerja. Cara ia memantik minat orang-orang untuk datang ke perpustakaan, dilakukan dengan segala cara salah satunya mengadakan pengajian rutin di SI, seperti yasinan.

Kemudian, Ammos bertanya kepada Fajrin, jika di perpustakaan itu bisanya ada tulisan “Harap Diam”, bagaimana tanggapan Fajrin melihat itu.

Menurut Fajrin, model membaca orang itu beda-beda, ada yang suka tenang, sunyi, tidak ada keributan sehingga bisa fokus. Model perpustakaan itu juga macam-macam. Walaupun, sebenarnya tidak salah kalau perpustakan itu angker, atau ada tulisan jangan ribut karena di perpustakaan itu tidak semua orang mau membaca sambil mendengar musik, sambil ada yang bergosip di sampingnya, tidak semua orang bisa seperti itu. Makanya, rata-rata perpustakan dilarang berisik. Di perpustakaan UGM Yogyakarta telah disediakan bilik earphone. Beda dengan konsep di SI karena kecenderungan pemiliknya yang suka musik, ngobrol, dan lain lain.

Mardan, salah seorang mahasiswa yang suka salawatan itu kemudian bertanya tentang latar belakang pustakawan orang bisa menjadi pustakawan. Fajrin menjawab jika setiap orang bisa jadi pustakawan asal mau dan punya kemauan untuk menjadi pustakawan. Gelar pustakawan bukan hanya dari jenjang akademik.

“Saya tidak berlatar belakang pustawakan, saya dari jurusan komunikasi tapi senang membaca buku-buku saya baca sendiri jadi saya distribusikan buku-buku ini agar orang lain bisa mengakses itu. Kalau Anda punya kemamuan untuk dimiliki oleh semua orang, maka dirikanlah perpustakaan. Kecintaan teradap buku, pusstakawan tapi tidak suka membaca itu kan agak gimana gitu karena ketika Anda membuka obrolan untuk pengunjung, rekomendasi buku butuh modal membaca yang mumpuni yang membaca, insight pada orang-orang, begitu,” kata Fajrin yang punya pandangan yang jauh ke depan.

Senada dengan Fajrin, Amik mahasiswa S2 Jogja yang membuatkan e-flayer untuk bincang-bincang ini. Katanya secara filosofis, gelar pustakawan bukanlah hanya gelar milik kaum akademisi. Semuanya bisa menjadi “pustakawan” ketika menjadi “penjaga” perpustakaan.

“Sebenarnya, kami di SI merasa akses belajar ke ilmu pengetahuan sangat terbatas di tempat kita, Sulawesi Barat. Ruang-ruang pengetahuan yang sifatnya alternatif itu sangat jarang sekali ada di tempat kita. Kami sadar bahwa Sufis tidak akan pernah cukup untuk memberikan bahan bacaan yang menyeluruh yang bisa diakses kepada semua kalangan bahwa kami berupaya untuk memberikan ruang, fasilitas yang masih jauh dari kata bagus. Kami gotong royong membangun pelajar atau mahasiswa agar lebih mudah mengakses bacaan-bacaan,” jelas Fajrin yang prihatin dengan kondisi pendidikan di kampung halamannya.

“Kami anggap bacaan-bacaan kami sediakan menjadi alternatif. Bacaan-bacaaan itu kami anggap tidak ada di perpustakaan yang dibangun oleh pemerintah, ya itu yang kami upayakan. Apalagi Sufis bukanlah perpustakaan yang dibiayai oleh negara. Ini murni komunitass yang mengupayakan segala hal yang ada di dalamnya. Koleksi misalnya, murni dari hassil jerih payah teman-teman itu sendiri. Tidak ada funding campur tangan pemerintah tapi dihidupi bersama,” lanjutnya.

Di akhir pernyataanya, Fajrin mengatakan bahwa perpustakaan komunitas ini tidak akan berlangsung tanpa adanya faktor-faktor pendukung paling penting yaitu pendukungnya. Jika ada perpustakaan komunitas di kota Anda, maka ikutilah dia berkunjunglah ke sana, bukalah perkawanan, karena tujuan didirikannya perpustakaan bisa distribusi pengetahuan itu bisa merata. Mereka bertahan bukan karena dirinya sendiri, tapi dari teman-teman semua.

Membuat perpustakaan itu jalan sunyi, mengalami kesunyian karena tidak ada yang berkunjung. Kemudian Fajrin mengajak kita untuk “membaca” yang bermakna ganda.

    Zuhriah
    Latest posts by Zuhriah (see all)