Sukma dalam Cinta

Sukma dalam Cinta
©Girls Inc.

Ada sepasang wayang saling jatuh cinta
Dan seorang wayang cintanya jatuh berkeping-keping
Pecah di antara sunyi, melekat di lubuk hati
Ia sendiri, meringkuk di tengah gelap. Tanpa lentera sama sekali

Cinta yang indah adalah cinta tanpa keterikatan
Seperti matahari adalah aku
Dan kau adalah rembulan
Seperti aku yang mencintai kau
Tanpa harus menuntut kau mencintai diriku
Kata Plato, berbisik di gendang telingaku

Wayang itu mendongak ke arah rembulan,
Menyeka air mata dengan tangannya
Mencoba menaikkan sudut bibir, tersenyum walau air mata masih menjalar deras

Biarkan aku mencintaimu dalam diam
Karena dalam diam aku bisa menyaringkan suara lebih dalam
Biarkan aku memelukmu dalam angin
Karena dalam angin tidak ada yang memelukmu selain aku
Kata Rumi, berdesis di lubuk batinku

Ia tersenyum, oh…
Aku pun bangkit, dengan sisa-sisa tenagaku
Mengumpulkan seluruh  rindu, kubawa ragaku untuk bersimpuh
Kugelar sajadah lusuh, menitipkan segala rasa untuk pasrah…

Kau cintaku, da-ta-ng-lah!
Wayang itu kembali menangis,
Ha-ru!

Pencarian

Sudah hampir jam sebelas malam
Aku masih terhenyak, tenggelam dalam diam
Bias puisi yang kurindukan tak bermunculan dalam angan-angan
Di antara larik-larik cerita yang tertulis
Ada sedikit saja yang kucerna
Dan tak mampu kurangkai menjadi diksi
Ruangan yang pengap, berteman kipas angin lama yang berderit

Sudah pukul sebelas malam
Ketikan ini masih belum sampai
Mengundang gundah yang berkepanjangan
Gejolak kepala seakan menyanggupi
Untuk melahirkan beberapa larik puisi
Tapi, ternyata masih sama
Miskin literasi

Perenungan

Aku pulang
Tanpa berpelukan dengan syair
Menyergah segala peraduan
Aku sungguh merindukan
Puisiku sendiri

Titik Temu

Kita adalah cinta
Cinta adalah pantulan cahaya-Mu
Alunan gendangmu
Petikan gitarmu
Suara petirmu
Biasan kilatmu
Semuanya adalah aku
Aku yang Kau Mu

Hilang

Puisi-Mu, Puisiku
Mari kita berpuisi, memainkan intuisi
Menari, syahdu

    Marsyidza Alawiya
    Latest posts by Marsyidza Alawiya (see all)