Sunlie Thomas Alexander Bongkar Kemiskinan Nalar Muhammad Subhan

Sunlie Thomas Alexander Bongkar Kemiskinan Nalar Muhammad Subhan
Muhammad Subhan & Sunlie Thomas Alexander

Nalar Politik – Sunlie Thomas Alexander, kritikus sastra kelahiran Bangka Belitung, menanggapi esai Muhammad Subhan, Bersihkan Sastra Indonesia dari Politik Caci Maki.[1] Esai tersebut, menurutnya, patut ia respons, sebab memuat kemiskinan nalar dan pengetahuan, juga tendensius.

“Saya akan coba tanggapi dengan semacam metode close-reading[2] atau komentar langsung atas apa yang ia (Subhan) tulis,” terang Sunlie dalam Bersihkan Sastra Indonesia dari Para Penipu Munafik Bertopeng (Pseudo-) Kesantunan!.

Metode close-reading¸ sebagaimana pernah digunakan Saut Situmorang dalam mempreteli kepalsuan kritik sastra Narudin Pituin[3], dinilai Sunlie cukup efektif membongkar kelemahan argumentasi Subhan. Metode ini sekaligus jadi senjata Sunlie melawan kepicikan cara berpikir Subhan dalam teks esai yang baginya dipenuhi jargon pseudo moral dan religius.

“Saya tidak akan menanggapi seluruh esai Muhammad Subhan, tetapi hanya menanggapi paragraf-paragraf yang saya anggap perlu untuk ditanggapi saja, terutama dalam hal ini pernyataan-pernyataannya yang menurut saya terlalu goblok, sok tahu, tapi keliru besar dan membahayakan masyarakat awam.”

Berikut ini komentar langsung Sunlie Thomas Alexander atas sejumlah paragraf tulisan Muhammad Subhan yang sebelumnya termuat di gatholoco.com:

______________________

Subhan:

Perbedaan pendapat adalah rahmat. Tapi ungkapan itu tidak sepenuhnya benar, sebab tidak terjadi di ranah kesusastraan Indonesia modern hari ini di mana internet menjadi salah satu medium penyampai pesan.

Sunlie:

Memangnya siapa yang menolak perbedaan? Yang kami tolak adalah manipulasi sejarah sastra Indonesia yang dilakukan si Togog Denny J.A. (DJA) dengan menggunakan kekuatan uang (baca: main duit!). Ini sudah jelas, jadi jangan memfitnah!

Kalau si Togog itu mau menulis puisi dengan gaya dan konsepnya sendiri, ya silakan saja, itu urusannya. Memangnya siapa yang berhak melarang?

Yang jadi masalah bagi kami adalah ia telah mencoba menipu khalayak sastra (berbahasa) Indonesia dengan klaim megalomaniak-delusif bahwa puisi esai merupakan sebuah genre baru dalam sastra—hasil penemuannya. Sehingga dengan demikian, ia pun layak menjadi salah satu pembaru perpuisian Indonesia sekaligus salah satu tokoh sastra Indonesia yang paling berpengaruh!

Klaim ambisius ini, berikut penerbitan buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2014) yang ia danai dan Program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional di 34 Provinsi seluruh Indonesia belakangan, tak lain hanyalah untuk mengultuskan dirinya sebagai tokoh sastra berpengaruh yang ia impikan.

Padahal—sebagaimana telah diuraikan secara terang-benderang dalam poin-poin “Petisi Menolak Program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional Denny J.A.”—puisi esai sebagai komposisi ekspositori dalam bentuk puisi sudah dikenal sejak masa Alexander Pope, penyair Inggris Abad ke-18, melalui buku puisinya, “An Essay on Man” [4] dan apa yang disebut puisi esai oleh DJA sebagai hasil penemuannya itu hanyalah sejenis puisi naratif dengan kecenderungan seperti Esai Lirik (Lyric Essay).[5]

Internet, terutama dalam hal ini media sosial, hanyalah salah satu media perlawanan bagi para penulis dan pencinta sastra yang waras dan punya harga diri, tidak mau melacurkan diri kepada Denny J.A.

Subhan:

Perbedaan pendapat di era media sosial, khususnya Facebook dan WhatsApp yang dilakoni akun-akun segelintir sastrawan Indonesia, telah dikotori ketidakdewasaan berpikir, bersikap, dan berkata-kata. Bertolak belakang dengan keahlian yang ditekuni; menulis karya sastra.

Sunlie:

Apa yang diungkapkan oleh Muhammad Subhan ini ibarat “maling teriak maling”. Bukankah, selain dikotori oleh si Togog DJA lewat “politik duit” dengan tujuan pengultusan dirinya, dunia sastra (berbahasa) Indonesia justru juga telah dikotori oleh para penjilat munafik seperti Muhammad Subhan ini dan sekian banyak nama lainnya yang dengan ikhlas membenarkan “politik duit” si Togog demi duit (dan popularitas) semata? Tulisan Subhan ini sendiri, bagi saya, merupakan sebuah contoh konkret atas hal tersebut.

Subhan:

Sejatinya, sastrawan sebagai ahli sastra, yang terlatih mengolah kata yang bukan bahasa sehari-sehari—bukan bahasa pasaran tanpa saringan—adalah anutan yang patut diteladani. Teladan, bukan saja merujuk pada keindahan tutur gaya bahasa yang ditulisnya, mutu karya itu, tetapi juga pada kesantunan dalam menimbang setiap persoalan yang tengah terjadi.

Sunlie:

Hahaha! Ini lugu dan lucu sekali. Lihatlah betapa ceteknya pengetahuan sastra si Muhammad Subhan ini, baik dari sisi ilmu/teori sastra maupun dari sejarah kesusastraan.

Bukannya justru lantaran sastrawan adalah seorang ahli sastra, maka mereka seyogianya tahu betul dalam konteks seperti apa seorang narator maupun para karakter dalam karya-karyanya mesti berkata-kata dengan sopan dan dalam konteks apa pula harus menggunakan kata-kata yang kasar atau caci maki/umpatan?

Ah, saya kira “ceracau lugu tapi sok tahu” si Subhan ini telah dijawab dengan cukup telak oleh penyair Blitar, Malkan Junaidi di status Facebook-nya (26 Januari 2018). Silakan simak kutipan saya di bawah ini:

Jargon Sastra Santun adalah jargon kosong. Sastra adalah soal ketepatan: ketepatan pemilihan kata, ketepatan aransemen, ketepatan argumen, ketepatan karakterisasi.

Jika sebuah karakter, misalnya, membutuhkan pisuhan untuk mengungkapkan perasaannya, penulis harus memberikannya. Dan dia tak boleh asal memberikan, melainkan secara tepat berdasarkan pertimbangan budaya

(apakah karakter berlatar kehidupan Medan atau Surabaya), profesi (apakah karakter bekerja di lingkungan dengan tingkat stress tinggi atau rendah), dan intensitas konflik (apakah karakter sekadar sebal atau sangat marah).

Jika penulis karena pertimbangan ‘sastra santun’ menghindari kata-kata kotor, sarkastis, tabu, dan sebagainya, maka bisa-bisa karakter yang diciptakannya seragam, tak bertekstur, dan tak polifoni. Ini tentu berlawanan dengan makna kreativitas.[6]

Saya tidak tahu apakah Muhammad Subhan sendiri pernah menulis cerpen, novel, puisi, atau naskah drama, dan seperti apa karya-karyanya tersebut. Tetapi pertanyaan saya kemudian adalah: Apakah Anda bisa membayangkan karakter seorang preman menodongkan pisau kepada korbannya sambil meminta uang dengan kata-kata santun penuh kesopanan seperti, “Maaf Bu, apakah Ibu bisa memberikan semua uang di dompet Ibu kepada saya? Karena saat ini saya sedang membutuhkan uang untuk membeli minum keras.”(?)

Atau, bisakah Anda menerima sebuah dialog percekcokan yang berujung perkelahiran antara dua tokoh penuh dendam kesumat tanpa adanya kata-kata makian?

Masuk akal logis nggak kira-kira apabila seorang yang baru saja ditabrak sepeda motor di atas trotoar “berteriak” kepada pengendara yang menabraknya dengan kata-kata sopan?

Pernyataan lugu Subhan yang sok, bahwa “Sejatinya, sastrawan sebagai ahli sastra, yang terlatih mengolah kata yang bukan bahasa sehari-sehari—bukan bahasa pasaran tanpa saringan—adalah anutan yang patut diteladani”, bagi saya, telah menunjukkan secara jelas kepada kita betapa minimnya bacaan sastra orang yang mengaku sebagai “pegiat literasi dan pembaca buku-buku sastra” ini. Sehingga saya pun jadi bertanya-tanya, sebagai seorang pegiat literasi dan pembaca buku-buku sastra, buku sastra apa saja sih yang telah dibaca oleh dirinya?

Mampukah ia menyebutkan satu judul saja novel kontemporer yang bersih dari “bahasa sehari-hari”? Tidak tahukah Subhan jika “bahasa sehari-hari” yang “ditakuti” olehnya itu telah lama dipakai oleh penulis seperti Mark Twain (1835-1910)? Apakah ia benar-benar tidak tahu sama sekali tentang novel-novel karya Mark Twain setenar The Adventures of Tom Sawyer (1876) dan The Adventures of Huckleberry Finn (1884) yang telah berulang kali diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh berbagai penerbit itu?

Apakah ia juga luput membaca sejarah sastra Indonesia, sehingga tidak tahu bagaimana di luar politik literasi Balai Pustaka bentukan pemerintah Hindia Belanda, para penulis peranakan Tionghoa dan kaum Indo-Belanda ikut memberikan sumbangsih begitu besar bagi sastra (berbahasa) Indonesia melalui karya-karya mereka yang menggunakan bahasa Melayu Pasar?

Apakah Subhan tidak pernah membaca novel-novel karya Salman Rushdie, Mo Yan, atau J.D. Salinger (sekadar menyebut tiga nama)? Sehingga ia tidak tahu bagaimana karya ketiga sastrawan itu dipenuhi oleh umpatan dan carut-marut kasar?

Sebagai contoh, lihatlah petikan peristiwa penganiayaan terhadap tokoh Gao Ma oleh keluarga kekasihnya, Jinju dalam novel The Gallic Ballads karya Mo Yan berikut ini, di mana kata-kata seperti “bartard” dan “Fuck your ancestors” notabene merupakan kata-kata makian yang teramat wajar digunakan sesuai dengan konteks peristiwa dan sosial dalam cerita novel tersebut.

“Beat the bastard up!” Fourth Uncle cut him off. “He can’t come into our home and act like this!”

The two brothers tossed down the food in their hands, picked up their stools, and charged. “Using violence is against the law—it’s illegal!” Gao Ma protested as he tried to ward off the blows.

“No one would blame us if we beat you to death!” Fang Yijun countered.

“Gao Ma,” Jinju said tearfully, “get away from here!”

His head was bleeding. “Go ahead, beat me if you want. I wont even report you. But you can’t stop Jinju and me!”

From her seat across the table, Fourth Aunt picked up a rolling pin and struck Jinju a glancing blow on the forehead. “Doesn’t the word ‘shame’ mean anything to you? You’ll kill your own mother.”

“Fuck your ancestors, Gao Ma!” Fourth Uncle growled. “I’d kill my daughter before I’d let her marry you!”[7]

Begitu pula halnya dengan novel J.D. Salinger, The Catcher in The Rye, yang sudah diindonesiakan di bawah ini:

“Ia selalu berlagak seperti jagoan di mana-mana,” kata Ackley. “Aku benar-benar tidak tahan bajingan tengik seperti itu. Menurutmu ia—“

“Heh, bisa potong kukumu di atas meja tidak?” kataku. “Sudah aku bilang sampai lima puluhan—“

“Di mana pun selalu saja ia bergaya seperti jagoan,” kata Ackley. “Menurutku, bajingan seperti ia sama sekali tidak ada otak. Ia pikir dirinya pintar. Ia pikir ia yang paling—“

“Ackley! Ya, Tuhan. Bisa tidak sih kaupotong kuku sialanmu itu di atas meja? Sudah lima puluhan kali aku bilang.”

Ia lantas mulai memotong kukunya di atas meja, untuk meredam amarahku. Dia baru mau mendengar kalau kami sudah berteriak kepadanya.”[8]

Atau, apakah Muhammad Subhan hendak mengatakan bahwa novel peraih Nobel Sastra 2012 dari China, Mo Yan dan novel J.D. Salinger adalah sebuah novel yang kasar, sehingga keduanya tak layak dibaca oleh pegiat literasi yang santun seperti dirinya?

Okelah, katakanlah itu novel-novel dari luar negeri. Mungkin Muhammad Subhan tidak mengerti bahasa Inggris (juga bahasa asing lainnya), dan anggaplah ia juga kurang beruntung karena tidak berhasil mendapatkan karya-karya para penulis tersebut yang (beberapa di antaranya) telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Atau, jangan-jangan bagi seorang Subhan, novel-novel itu memang tidak perlu dibaca lantaran tidak sesuai dengan budaya adiluhung bangsa Indonesia yang penuh dengan tata krama dan sopan santun?

Lalu bagaimana dengan karya-karya sastra (berbahasa) Indonesia seperti cerpen-cerpen Joni Ariadinata[9], cerpen dan novel Triyanto Triwikromo, novel-novel Eka Kurniawan dan Arafat Nur (sebagai sedikit contoh)?

Atau barangkali bagi seorang Subhan, karya-karya ini juga merupakan karya yang buruk karena kerap kali menggunakan bahasa yang tidak santun atau dipenuhi oleh dialog yang sarat dengan caci maki?

Tidak tahukah Subhan kalau karya sastra pada hakikatnya merupakan cermin kehidupan, yang memantulkan kembali wajah kita apa adanya (buruk rupa atau elok rupawan, berjerawat batu atau semulus pualam)? Tidak pahamkah pula dirinya jika karya sastra seyogianya selalu merefleksikan wajah zaman maupun lokalitas latarnya?

Ai, simaklah penggalan cerpen “Lampor” karya Joni Ariadinata berikut ini, yang kiranya secara tepat mengaktualisasikan bahasa keseharian kaum gembel khas Indonesia yang penuh caci maki sesuai dengan konteks lokalitas gelandangan pinggir kali yang ia kisahkan:

Rohanah cekikikan, “Ambil uangnya di Si Rois, katanya!”

“Anak jadah! Sampai kapan kowe mempermainkan orangtua heh? Awas kowe Rohanah! Awas!” Sumiah beringas. Tentu Rohanah tahu, makanya ia segera lari. Emaknya akan mengambil apa saja di dekatnya untuk dilemparkan. Rohanah masih sempat melirik ke arah Jumri yang tengah menurunkan pantatnya. Buang air.

“Keparat! Kali ini kowe yang harus dinas mengerti? Hey, kowe yang harus ngemis!” Sumiah berteriak-teriak. Lantas berjingkat pulang. “Betul-betul keparat. Tak tahu diuntung.” [10]

Perhatikan pula kata makian yang digunakan oleh karakter Iteung dalam novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas karya Eka Kurniawan di bawah ini:

[…] Matanya berbinar melihat Iteung di depannya. Ia senang melihat rambutnya yang beriak ketika menerjangnya, ketika mengiriminya pukulan. Ia senang melihat roman mukanya yang memerah menahan marah. Ia senang melihat matanya yang memancarkan kebencian.

“Ngomong, Tai!”

Ajo Kawir tak juga bicara. Ia hanya tersenyum. Senyum kecil saja.[11]

Masih kurang? Subhan bisa juga merujuk kepada narasi novel Surga Sungsang karya Triyanto Triwikromo yang saya petik berikut:

“Apakah eyangmu telah menjelma anjing busuk?”

Azwar, cucu terkasih Syekh Muso, tak menjawab. Namun, ia tahu persis Syekh Muso sesungguhnya telah muksa ke laut. Ia telah berjalan di dasar laut dan melihat ikan-ikan berzikir pada Allah di dinding-dinding laut yang terbelah oleh tongkat Syekh Muso.

Ia juga yakin sesaat kemudian Syekh Muso akan berada di perut hiu raksasa dan bercakap-cakap tentang keagungan Allah dengan makhluk-makhluk kecil yang pada suatu malam juga menjadi mangsa monster air itu.

“Ayolah jawab, Azwar, ternyata Syekh Muso Cuma anjing busuk bukan?”[12]

Apakah bagi Subhan, istilah “bedebah Jawi” yang digunakan oleh tokoh Yahya dalam novel Lampuki karya Arafat Nur berikut ini juga tidak patut dipakai untuk sebuah karya sastra, kendati umpatan beraroma rasis tersebut bisa dimengerti dalam konteks kemarahan penduduk desa Lampuki (Aceh) yang merasa terjajah oleh “kaum seberang” dan tak henti-hentinya dianiaya oleh para tentara dari Jawa?

Sebisa-bisanya, setiap hari Paijo berusaha muncul di lingkungan kompleks untuk dapat bercakap-cakap sambil merayu gadis bocor itu. Yahya bilang, si bedebah Jawi itu sering menciptakan cerita-cerita lucu, tetapi tiada membuat Laila tertawa.

Entah memang gadis itu tiada bisa menangkap gurauan atau memang kelekarnya tiada jenaka. Awalnya Paijo memang dapat memicu gelak gadis itu dan membuat si tuan rumah merasa muak. Pada hari-hari selanjutnya, tingkah Paijo kian menjenuhkan.[13]

Lihat juga: Sejarah, SARA, Caci Maki

Lantas, bagaimana pula dengan makian Sukijan sang komandan tentara di bawah ini yang gusar lantaran merasa penduduk Lampuki telah menyembunyikan para pemberontak, menurut seorang Muhammad Subhan? Tidak layak jugakah makian “bangsat” yang ditulis Arafat Nur dalam novel Pemenang Unggulan Sayembara Menulis Novel DKJ 2010 ini?

“Orang-orang Aceh pandai sekali berpura-pura. Bangsat semuanya!” Dia memaki berang. Lalu Sukijan memukul sama rata, dia menuduh bahwa semua kaumku dan penduduk tanah ini adalah pemberontak, pembangkang yang suka menimbulkan kekacauan dan merongrong kedaulatan negara yang sah.[14]

Bayangkan saja apabila dalam karya-karya di atas, kata-kata caci maki seperti “bartard”, “fuck yourancestors”, “bajingan tengik”, “sialan”, “anak jadah”, “keparat”, “tai”, “anjing busuk”, “bedebah Jawi”, dan “bangsat” HARUS DISARING oleh para penulisnya lantaran semua kata-kata itu dianggap sebagai “bahasa sehari-hari” atau “bahasa pasar” yang kasar dan tidak santun!

Jika Subhan benar, bahwa pertaruhan “mutu (sebuah) karya” sastra terletak pada “keindahan tutur gaya bahasa” dan bahwa seorang penulis sastra mesti “mengolah kata yang bukan bahasa sehari-sehari—bukan bahasa pasaran tanpa saringan”, maka sudah bisa diperkirakan seperti apa nantinya teks-teks karya sastra Indonesia yang bakal dihasilkan di bawah jargon konyol itu! Dan jika hal itu sampai terjadi, tamatlah sudah sastra Indonesia, bahkan sastra dunia!

Pertanyaan saya selanjutnya, sejak kapan seorang penulis sastra harus menjadi “anutan yang patut diteladani”? Sejak kapan seorang penulis sastra memikul tugas mulia kaum ulama, sebagai pengawal moralitas apalagi kesantunan? Sejak kapan seorang penulis sastra dituntut menjadi orang suci? Enak kali tiba-tiba seorang sastrawan harus memanggul air mata dunia di atas bahu?!

Padahal kerja seorang penulis sastra hanyalah berusaha merefleksikan warna zaman, kehidupan dan dunianya, sembari mengajak manusia terus-menerus mempertanyakan ulang nilai hidup itu sendiri dan mencoba memandang dunia ini (kebenaran, penderitaan, kebahagiaan) dari perspektif yang paling bizar.

Subhan:

Kasus teranyar dapat merujuk polemik puisi esai Denny Januar Ali (DJA) yang dianggap oleh sebagian sastrawan telah menodai kemurnian sastra Indonesia, khususnya puisi. Di luar pengadilan, DJA divonis telah mengotori kesusastraan Indonesia, melakukan pembodohan publik, serta telah bertindak menggelapkan sejarah.

Petisi-petisi penolakan pun muncul meski DJA tidak selangkah mundur. Setidaknya petisi datang dari sekelompok penyair muda di berbagai kota, juga dari Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Se-Indonesia (IMABSII), dari Penyair-Penyair Jawa Barat, ditambah Majelis Sastra Riau dan lainnya. Petisi-petisi itu satu suara menolak puisi esai dan segala hal yang berhubungan dengan penerbitan buku-buku puisi esai yang digagas DJA.

Sunlie:

Siapa yang bilang Denny J.A. telah menodai kemurnian sastra Indonesia, Subhan? Apa itu kemurnian sastra Indonesia? Apakah ada sastra yang murni itu? Bukankah sastra di belahan dunia manapun (termasuk sastra Indonesia yang masih belia ini) merupakan hasil silang-menyilang segala bentuk, tradisi, dan pengaruh?

Kau baca itu di mana? Sebutkan siapa yang menulis perihal kemurnian sastra itu. Orang itu pasti tidak paham sastra! Kalau kau tidak bisa menunjukkannya, berarti kau mengada-ada dan memfitnah!

Pahamkah kau ini, Subhan? Bahwa petisi-petisi itu satu suara menolak puisi esai dan segala hal yang berhubungan dengan penerbitan buku-buku puisi esai, karena DJA telah mencoba memanipulasi sejarah sastra Indonesia untuk mengultuskan dirinya sendiri dengan cara “main duit”! BUKAN karena ia menodai kemurnian sastra Indonesia!

Subhan:

Panggung caci maki pun merobek-robek media sosial. DJA menjadi pusat tumpahan amarah.

Tidak saja DJA, tapi juga penyair-penyair yang memilih jalan kreatif menulis puisi bercatatan kaki itu atas kesadaran mereka, dianggap lawan yang wajib dimusuhi dan diperangi. Status-status dan komentar-komentar sarkas bernada ujaran kebencian membanjiri beranda media sosial setiap hari. Saling serang, yang sesungguhnya menguatkan eksistensi keakuan, agar sama-sama diakui sebagai sastrawan, profesi yang konon paling agung itu.

Sunlie:

Yang mengatakan sastrawan itu “profesi yang konon paling agung” cuma orang yang tidak paham sastra seperti kau, Subhan.

Saya amat berharap Muhammad Subhan bisa menunjukkan siapa saja “penyair-penyair yang memilih jalan kreatif menulis puisi bercatatan kaki atas kesadaran mereka” itu. Juga di media mana saja puisi esai mereka dipublikasikan? Jika Subhan tidak bisa menunjukkan dua orang penyair, cukup tunjukkan satu orang saja!

Menulis atas kesadaran sendiri di sini tentu saja berarti mereka menulis puisi esai berdasarkan kemauan sendiri tanpa dibayar oleh DJA dan bukan lantaran pesanan DJA.

Bisa, Subhan?

Subhan:

Kelompok yang kontra puisi esai begitu mudah melontarkan kata-kata makian yang kasar di status dan komentar-komentar mereka. Kata-kata bodoh, monyet, jancuk, babi, idiot, cecunguk, taik dan segala sumpah serapah yang tak senonoh lainnya meluncur deras di mulut beranda media sosial yang dapat dibaca oleh siapa saja, bahkan jika tidak berteman sekalipun.

Sunlie:

Dalam bahasa Indonesia, kata-kata seperti “bodoh, monyet, jancuk, babi, idiot, cecunguk, taik” memang biasa dipakai untuk memaki. Apa saya harus menggunakan makian dalam bahasa Hakka atau Mandarin yang (mungkin) tidak dipahami oleh umumnya khalayak sastra (berbahasa) Indonesia? Atau, harus sering-sering memakai makian dalam bahasa Inggris seperti “fuck” atau “asshole”?

Subhan:

Lihatlah bagaimana mudahnya seorang Sunlie Thomas Alexander memaki-maki di Facebook terhadap personal penyair-penyair yang berseberangan dengan dia dan kelompoknya.

Ketika Muhammad De Putra, penyair muda Riau yang memutuskan mundur dari proyek penulisan puisi esai akibat tekanan di sana-sini lalu De Putra membuat surat permintaan maaf secara terbuka di media sosial, Sunlie menyalin tempel surat permintaan maaf De Putra itu kemudian membubuhkan status sarkas di dinding Facebook-nya:

“Inilah contoh penulis muda miskin yang rela menjual harga diri pada Denny JA! Cengeng lagi!”

Bukannya memberi apresiasi dan simpatik terhadap keputusan De Putra yang mundur dari proyek penulisan puisi esai itu, Sunlie malah menghina De Putra sebagai penulis miskin, menjual harga diri, dan cengeng.

Bagaimana jika status kebencian Sunlie itu dibaca oleh orangtua De Putra, guru-gurunya di sekolah, dan kawan-kawannya yang lain, sementara mereka tidak mengerti asal-muasal persoalan? Adakah seorang Sunlie Thomas Alexander yang mengaku sastrawan itu menimbang perasaan De Putra dan keluarganya?

Bukankah Sunlie dan kawan-kawannya menginginkan penyair-penyair yang menulis puisi esai mundur dan meminta maaf (kata maaf di sini ambigu, aneh, lucu, kepada siapa pula harus meminta maaf dan salah apa harus meminta maaf? Setiap orang punya hak dan pilihan masing-masing tanpa boleh diintervensi pihak mana pun—pen.), lalu setelah permintaan maaf mereka lakukan meski di bawah tekanan kenapa mereka masih juga diintimidasi dan dihina? Siapa sebenarnya yang tidak punya nurani dan tidak menghargai nilai-nilai kemanusiaan?

Sunlie:

Tanggal berapa persisnya saya menyalin-tempel surat permintaan maaf Muhammad de Putra itu, dan tanggal berapa pula Muhammad de Putra menulis surat pengunduran dirinya di status Facebook-nya, Subhan?

Coba periksa dengan teliti sebelum menulis! Cek yang benar tanggalnya, juga periksa ulang apakah dalam surat permintaan maafnya yang aku copy-paste itu si de Putra sudah mengambil keputusan mengundurkan dari proyek penulisan puisi esai DJA atau belum?!

Saya masih menyimpan screenshot sebagai bukti bahwa copy-paste atas surat permintaan maaf de Putra itu saya posting pada tanggal 17 Januari pukul 10:41, sementara de Putra baru menulis surat pengunduran dirinya di Facebook pada tanggal 18 Januari pukul 10:11 (bukti screenshot juga tersimpan).

Jadi, tidak ada alasan bagi kau untuk “menuntut” saya harus memberi apresiasi dan simpatik terhadap keputusan de Putra mundur dari proyek penulisan puisi esai itu pada status Facebook saya yang bertanggal 17 Januari, Subhan! Sebab ketika saya menyalin-tempel surat permintaan maafnya itu, Muhammad de Putra belumlah mengundurkan diri!

Lagipula, apakah surat permintaan maaf itu memang betul-betul surat permintaan maaf yang benar? Bukannya justru merupakan sebuah surat pembelaan diri, dimana ia mesti membeberkan kemiskinan keluarganya secara panjang-lebar demi mendapatkan simpati dan pemakluman kalau ia menerima tawaran DJA untuk menulis puisi-esai itu adalah demi keluarga? Sehingga dengan demikian, ia pun tetap merasa tidak bersalah.

Lantas di mana kasarnya kalimat “Inilah contoh penulis muda miskin yang rela menjual harga diri pada Denny JA! Cengeng lagi!”yang saya bubuhkan di atas copy-paste surat permintaan maaf si de Putra itu, Subhan?

Bukankah apa yang saya tulis tersebut merupakan sebuah fakta? Muhammad de Putra sendiri sudah mengakui bahwa dirinya adalah pemuda miskin, bukan? Apakah saya ini seorang yang kaya raya seperti DJA, sehingga tidak pantas bagi saya untuk menulis orang lain itu miskin?

Bukankah melakukan sesuatu yang tidak berasal dari kata hati (kesadaran) sendiri tetapi semata-mata demi mendapatkan uang, sama saja dengan menjual harga diri? Pramoedya Ananta Toer pernah bilang bahwa: “Coba, mendapat upah karena menyenangkan orang lain yang tidak punya persangkutan dengan kata hati sendiri, kan itu dalam seni namanya pelacuran?”[15] Kau bisa menyangkal hal ini dengan logis, Subhan?

Subhan:

Mampirlah ke beranda Facebook Sunlie Thomas Alexander. Segala yang berbau puisi esai dan DJA serta penyair-penyair yang berseberangan dengan dia dicaci maki habis. Bahkan di statusnya yang lain, dia juga mencaci maki seorang penyair perempuan Riau yang membela De Putra dengan kalimat lebih sadis: “…lonte idiot yang bikin najis Sastra Indonesia!”

Beginikah cara sastrawan yang hebat karyanya itu bersikap dalam perbedaan pendapat? Publik sastra dapat menilainya sendiri.

Kebenaran patut dicari dan diperjuangkan. Tapi jika membawa ajaran kebenaran dengan cara-cara yang tidak benar, hasilnya akan bertolak belakang. Kayu akan menjadi api.

Sunlie:

Silakan sering-sering mampir ke akun Facebook saya, tapi jangan cuma intip status atau postingan saya saja dong! Kalau berani, kita berdebat terbuka.

Berseberangan itu hal yang biasa, tetapi harus memiliki argumentasi logis kalau berkata-kata! Sehingga dengan begitu, diskusi maupun debat terbuka baru bisa berjalan!

Namun persoalannya adalah dengan orang yang bernalar saja tidak bisa, tetapi sok tahu, asal nyerocos (ngeyel pula), hal apa lagi yang bisa dilakukan selain memaki ketololannya yang keras kepala dan tidak tahu diri itu, Subhan?

Sedangkan mengenai perempuan Riau yang kau sebutkan itu: Pertama, apakah ia memang penyair? Apa dan seperti apa karyanya? Saya belum pernah mendengar namanya tuh! Apalagi membaca puisinya!

Kedua, seperti salah satu komentar yang kutulis dalam postinganku yang lain: “Bisa nggak ia tidak nyelonong masuk ke akun fbku dan nantang2 bilang “geram kali aku bah!”. Kalo mau bela si de Putra silakan, tapi gunakan kalimat yang betul! Jangan masuk ke fb orang dan langsung nyerang!! Emang kata-kata “macam bersih kali kau?” itu tidak menghina?” (17 Januari 2018)

Subhan:

Membaca gaya Sunlie dan beberapa kawannya yang suka mencaci maki di media sosial, ada upaya sistematis yang terus bergerak membangun opini publik bahwa sumpah serapah dan makian itu wajar, sebab kata-kata tersebut tertulis di dalam kamus. Lumrah menurut mereka.

Namun, pembelaan mereka tidak sepenuhnya dapat diterima, kecuali bagi orang yang terbiasa mengucapkan kata-kata tidak senonoh itu di lingkungan keluarga dan pertemanan yang memang rusak secara etika dan moral. Dalam ilmu Patologi Sosial, ada sekelompok orang yang disebut memiliki penyakit jiwa yang memang kesukaannya berkata-kata kotor dan melakukan perbuatan-perbuatan kotor.

Nalar mereka yang mengagungkan kata-kata kotor di muka umum yang dianggap biasa, enteng, dan tidak merasa bersalah dapat diuji oleh sebuah perumpamaan: Jika ada sepasang suami istri, sah status perkawinannya, kemudian keduanya pergi ke tengah pasar melakukan adegan mesum layaknya di atas ranjang, apa reaksi orang-orang? Pasar buncah. Semua orang marah terhadap kelakukan suami istri itu karena perbuatan mereka memalukan.

Kenapa orang murka kepada suami istri itu? Bukankah mereka pasangan yang sah? Mereka saling mencintai. Di saat berbuat mesum itu mereka juga membawa surat nikah di saku masing-masing. Kok dianggap salah?

Salah karena tidak beretika, tidak tahu adab, tidak mafhum mana ruang publik mana ruang privat.

Tidak tahu mana bilik kecil mana bilik besar.

Apa tidak wajar yang dilakukan suami istri itu? Sangat wajar jika dikerjakan pada tempatnya; ruang privat. Lakukanlah itu. Tidak seorang pun boleh melarang, sebab itu hak mereka sebagai pasangan yang sah.

Sunlie:

Ini ketololan kau sendiri, Subhan! Jadi, analisalah “kebengakan” kau itu oleh kau sendiri!

Subhan:

Begitulah kata-kata, tidak asal lompat dari mulut, apalagi mulut itu mulut sastrawan yang dianggap sebagai orang yang pandai mengolah kata-kata—kini ujung jari yang menjadi mulut itu, dan tak berlidah, lebih tajam dari mulut yang berbibir, bergigi dan berlidah. Walau kata-kata makian itu tersurat di KBBI—Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Sastrawan harus memberikan edukasi dan preseden baik kepada publik pembacanya. Apalagi media sosial, yang membaca status, komentar, tulisan itu bukan saja dari kalangan mereka sesama sastrawan, tapi ada pembaca lain di luar lingkungan mereka. Jika terjadi perbedaan pendapat, selayaknya disampaikan secara beretika pula.

Sunlie:

(((Sastrawan harus memberikan edukasi dan preseden baik kepada publik pembacanya.))) >>> Hal ini telah saya jawab dengan tegas di atas. Jika kau masih tetap oon dan ngotot, itu urusan kau sendiri, Subhan.

(((Jika terjadi perbedaan pendapat, selayaknya disampaikan secara beretika pula.))) >>> Bagaimana orang seperti Muhammad Subhan yang bisanya cuma menulis esai gelagapan sok tahu begini dapat diajak berdiskusi secara etis?

Subhan:

Saut Situmorang, tokoh di balik gerakan penolak puisi esai DJA, pada 2015 silam berurusan dengan aparat hukum karena melakukan tindak pidana pencemaran nama baik di media sosial kepada Penyair Fatin Hamama. Saut dijemput polisi ke kediamannya di Jogja. Selain Saut, sastrawan Sutan Iwan Soekri Munaf juga terseret kasus yang sama. Peristiwa yang seharusnya tidak perlu terjadi di ranah intelektual jika etika debat dapat saling dijaga dan dihormati, tanpa menyerang dan menyinggung pribadi seseorang.

Kasus  Saut  dan  Iwan  mengingatkan  publik sastra  pada  kasus  serupa  yang  menimpa  HB  Jassin. Jassin dimejahijaukan karena menerbitkan cerpen “Langit Makin Mendung” karya penulis dengan nama pena Kipandjikusmin pada Agustus 1968 di Majalah Sastra. Cerpen itu dianggap menghina keyakinan umat Muslim sehingga terjadi unjuk rasa dan penyerangan di kantor majalah Sastra di Medan dan Jakarta.

Bedanya, pengadilan mengadili cerita pendek yang dibela Jassin sebagai produk imajinasi, sedangkan Saut dan Iwan dijerat hukum karena menyinggung personal pribadi (Fatin Hamama) dengan perkataan (tulisan/komentar) yang tidak patut dan menyinggung nama baik.

Di ranah kewartawan dikenal Kode Etik Jurnalistik (KEJ) yang di salah satu bagiannya menyebut bahwa wartawan Indonesia tidak membuat fitnah dan sadis. Fitnah berarti tuduhan tanpa dasar yang dilakukan secara sengaja dengan niat buruk, sedangkan sadis berarti kejam dan tidak mengenal belas kasihan.

Prinsip KEJ ini selayaknya juga dimiliki kaum sastrawan yang terhormat itu agar berimbang menyampaikan informasi kepada publik, tidak berkata-kata kotor dan tidak menyebarkan fitnah secara sadis tanpa menimbang perasaan orang lain. Jika menghargai intelektual, ilmu pengetahuan hendaknya disampaikan dengan cara-cara intelek dan santun.

Jangan jadi sungai yang di kedalaman airnya kotor, sebab di muara ia akan menampung sampah.

Sunlie:

FITNAH SECARA SADIS TANPA MENIMBANG PERASAAN ORANG LAIN seperti apa yang dilakukan oleh Saut Situmorang dan Iwan Soekri, Subhan? Bukankah sudah terbukti jelas sekarang kalau si Fatin Hamama itu memang kaki tangannya Denny J.A?

Lihatlah SURAT KONTRAK “Program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional Denny J.A.” yang ditandatangani oleh Fatin Hamama ini. Apakah kau masih ingin membantah kalau si Fatin itu tidak terlibat?

Sunlie Thomas Alexander Bongkar Kemiskinan Nalar Muhammad Subhan

Subhan:

Atau kata Raja Ali Haji: Barang siapa suka mencela orang/ itu tanda dirinya kurang// barang siapa suka berkata kotor/ mulutnya itu seperti ketor (tempat membuang ludah makan sirih)// Bila hendak melihat orang berbangsa/ lihatlah kepada budi dan bahasa//. (Gurindam Dua Belas)

Sunlie:

Apakah si Subhan ini memahami dalam konteks apa dan di zaman seperti apa Raja Ali Haji menulis Gurindam Dua Belas itu? Jika saya mau mengutip pesan moral semacam ini dari puisi-puisi klasik Tiongkok, bisa nangis dia!

Subhan:

Jika kelompok-kelompok yang kontra puisi esai membikin petisi yang konon telah mencapai angka 2000 penandatangan itu, publik sastra (sastrawan, kritikus, pembaca—pelajar, mahasiswa, guru, dosen dan masyarakat umum lainnya) yang netral memandang persoalan dan masih peduli terhadap kesucian bahasa dan sastra Indonesia, selayaknya membuat petisi tandingan.

Petisi bisa memakai judul esai ini: “Bersihkan Sastra Indonesia dari Politik Caci Maki”. Petisi bukan untuk membela puisi esai atau DJA, tapi untuk menjaga muruah bahasa dan sastra Indonesia.

Sunlie:

“Politik Caci Maki” itu istilah dan kesimpulan kau sendiri, Subhan! Sejak kapan bahasa dan sastra Indonesia itu suci? Apakah ada bahasa yang suci di dunia ini? Apakah kata-kata seperti babi, anjing, setan, bangsat, keparat, bajingan, haram jadah, goblok, oon, tai itu bukan kosa-kata bahasa Indonesia yang bisa digunakan untuk memaki sesuai konteksnya?

Jangan-jangan kau juga ingin mengamini penistaan agama yang dilakukan oleh si Hudan Hidayat (Halaman Hudan) lewat status Facebook-nya, bahwa “Pengertian Puisi Esai: al-Quran berwajah puisi”? Ini bukti screenshot-nya:

Sunlie Thomas Alexander Bongkar Kemiskinan Nalar Muhammad Subhan

Buatlah petisi tandingan itu, Subhan. Mengapa belum juga kau buat?

Subhan:

Masyarakat jenuh melihat perilaku oknum politisi di pentas politik Tanah Air yang beragam tingkah polahnya. Masyarakat memilih jalan sastra untuk mencari kedamaian di sela-sela kesibukan.

Tapi nyatanya jalan damai yang diharap itu tidak didapat, sebab sastra pun ikut tercemar, dikumuhi luapan bahasa senonoh yang lebih tak beretika dibanding para politisi yang berdebat di media massa.

Di bangku-bangku sekolah, sastra diajarkan sebagai pelajaran yang menumbuhkan nilai-nilai karakter dan budi pekerti luhur, tetapi di alam nyata bertolak belakang dengan perilaku pelaku-pelaku sastra (sastrawan) yang menghasilkan karya sastra itu.

Sunlie:

Masyarakat juga jenuh, bahkan sudah muak melihat kaum munafik-penjilat seperti kau, Subhan!

Subhan:

Penulis perempuan asal Aceh, Ida Fitri, di sebuah status di Facebook menulis: “Apa yang terjadi, jika di masa depan, anak-anak kita menjadikan puisi esai ala Togog sebagai rujukan puisi Indonesia?”

Pertanyaan Ida ini menarik dan dapat dikutip dengan kalimat serupa: “Apa yang terjadi, jika di masa depan, anak-anak kita menjadikan bahasa-bahasa kotor ala sastrawan-sastrawan yang berpikir kotor itu sebagai rujukan perilaku sehari-hari mereka?”

Sunlie:

Jawaban saya adalah: Anak-anak kita menjadi cerdas dan kritis, tidak mudah dibodohi oleh orang kayak kau dan junjungan kau, si Togog itu! Ingat, salah satu kerja sastra adalah menelanjangi kemunafikan!

Selebihnya biar Ida Fitri yang menjawab.

Subhan:

Menafsir Buku Lawan Buku

Nuruddin Asyhadie dan Umar Fauzi Ballah, mempertanyakan pendapat saya di kolom komentar Facebook Esha Tegar Putra tentang logika buku lawan buku, karya lawan karya yang saya tawarkan pada catatan saya sebelumnya menyikapi polemik puisi-esai (lihat: Jika Saya Berbeda Jalan Apa Kita Masih Berkawan?).

Sementara di beranda Facebook-nya, Malkan Junaidi menganalogikan jika ada produk makanan diduga mengandung zat berbahaya beredar di pasaran, tindakan apa yang dilakukan pertama kali?

Malkan menyebut bahwa langkah pertama adalah menyelidiki benar-tidak dugaan itu, lalu mengambil sampel dan membawa produk makanan itu ke Dinas Kesehatan untuk diperiksa. Jika terbukti berbahaya, lalu diumumkan, agar masyarakat tahu, kemudian ditarik dari pasaran.

Analogi Malkan yang mengambil sampel makanan dapat saya terima. Sesuai nalar. Masuk akal jika kasusnya murni membahas produk makanan.

Tapi analogi itu belum cukup matang. Tidak bisa menyamakan makanan dengan produk karya tulis, taruhlah di sini puisi esai—atau apa pun jenis karya lain.

Produk makanan yang mengandung zat berbahaya, jika tidak segera dilaporkan ke pihak berwenang, Dinas Kesehatan—lebih tepatnya Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI—maka pemakan (konsumen) akan keracunan dan terancam jiwanya. Perlu segera dilaporkan jika ada masyarakat yang mengetahui, tidak boleh dibiarkan. Ada lembaga berwenang yang mengurus soal makanan dan minuman jika kadaluarsa atau mengandung zat berbahaya.

Tapi harus diingat, karya tulis bukan makanan. Orang yang membaca karya tulis tidak keracunan, apalagi sampai terenggut nyawanya walau seberbahaya apa pun buku di tangannya. Tidak ada lembaga berwenang yang melarang sebuah buku selama konten buku tidak terlarang oleh aturan hukum negara. Malah sangat aneh dan lucu jika ada penyair yang melarang penyair lain berkarya.

Sebagai analogi perbandingan, saya muslim, mengimani Alquran sebagai kitab suci agama saya, Islam. Di rumah saya ada Kitab Injil, saya baca Injil.

Apakah serta-merta saya murtad lalu meninggalkan agama saya karena membaca Injil? Tidak, saya tetap beriman kepada Alquran dan berusaha mengamalkan isinya. Dengan membaca Injil, juga kitab-kitab agama lain, misalnya, saya mendapat tambahan ilmu pengetahuan, terutama perbandingan agama—bagaimana agama-agama lain mengajarkan nilai-nilai kebaikan kepada umatnya.

Sunlie:

Ini logika yang cukup menggelikan. Biarlah Nuruddin Asyhadie, Umar Fauzi Ballah, Esha Tegar Putra, dan Malkan Junaidi yang menanggapi.

Subhan:

Apalah itu puisi esai. Bukan produk agama, bukan kitab suci. Tidak berpahala dan tidak berdosa orang menulis dan membacanya. Berlebihan jika ‘ditakuti dan dicemaskan’ jika ada orang menulis lalu mengumpulkannya menjadi sebuah buku.

Oh, DJA membikin puisi esai agar dia menjadi tokoh sastra paling berpengaruh, dia memainkan kuasa uang untuk mengajak penyair-penyair lain menulis puisi esai.

Saya tidak terlalu percaya DJA akan menjadi tokoh penting di jagat sastra Tanah Air jika dia tidak terus berkarya. Karyanya nanti yang akan bicara sekuat apa ketokohan dan mutu tulisan yang dibuatnya.

Sunlie:

Tapi kata si Hudan Hidayat: “Pengertian Puisi Esai: al-Quran berwajah puisi”.

Bantah dong sesama penjilat DJA itu!

Subhan:

Pembaca hari ini cerdas, tidak mudah terpengaruh dan dipengaruhi. Karya-karya DJA yang akan membela dirinya sebagai tokoh—jika ketokohan itu memang tujuannya. Saya tetap meyakini bahwa pembacalah hakim.

Jika karya itu bagus, maka akan melekat di ingatan banyak orang sebagai karya bagus; diulang baca, dikaji dan dibahas di ruang-ruang kelas, dicetak berkali-kali. Tapi, jika karya itu buruk, tidak bermutu, sifatnya akan seperti angin, datang dan pergi tidak perlu diundang, apalagi dipaksakan datang. Musiman. Dan musim selalu berganti.

Saya:

Tentu saja semakin banyak pembaca hari ini yang cukup cerdas! Karena itu, marilah kita uji apakah terbukti atau tidak sesumbar kau ini! Kalau perlu, kita uji juga karya kau dan karyaku!

Subhan:

Buku lawan buku, karya lawan karya, bermakna sederhana. Jika kelompok kontra puisi esai tidak menyukai kerja kreativitas DJA dan gerakannya, sebaiknya bermainlah dengan cara-cara fair. Cara-cara cerdas tanpa perlu memfitnah dan mencaci maki.

Agungkanlah puisi-puisi yang bukan puisi esai yang diyakini itu sebagai kebenaran yang mutlak—atau disakralkan. Tulis sebanyak-banyaknya puisi itu, kemudian gagas penerbitan-penerbitan yang lebih besar jangkauannya dari apa yang dilakukan DJA. Terus lakukan kampanye dengan cara-cara positif tanpa membunuh karakter orang lain—tanpa status dan komentar-komentar sarkas di media sosial.

Jika ingin jadi kritikus, tulis kritik-kritik yang cerdas dan berimbang, tidak menghakimi sepihak atau atas dasar kepentingan diri dan kelompoknya saja. Nanti vonis kembali di tangan pembaca, siapa yang terus berkarya akan abadi di ingatan orang, dan yang tidak berkarya hilang dikubur zaman.

Sunlie:

Tahun 2017 lalu, saya memenangkan dua sayembara kritik sastra bergengsi, yakni Pemenang III Sayembara Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta 2017 dan Juara I Kritik Sastra dalam Lomba Sastra & Seni Universitas Gadjah Mada ke-4 Tahun 2017.

Silakan cek di:

  • https://dkj.or.id/berita/pertanggungjawaban-dewan-juri-sayembara-kritik-sastra-dewan-kesenian-jakarta-2017/
  • http://jogja.tribunnews.com/2017/11/11/inilah-para-pemenang-lomba-sastra-dan-seni-ugm-2017

Tapi mana “kritik-kritik yang cerdas dan berimbang” karya kau itu, Subhan?

Pada bulan Februari 2018 ini, buku saya yang keempat, Makam Seekor Kuda (kumpulan cerpen) juga akan segera diterbitkan oleh Indie Book Corner. Bagaimana kalau kita adu kualitas isi buku saya ini dengan buku kau? Berani?

Atau, cobalah kau posting sebuah puisi kau di Facebook dan saya juga akan memposting sebuah puisi saya, lalu kita meminta khalayak sastra untuk menilai puisi siapa yang lebih kuat secara terbuka dan argumentatif menggunakan teori sastra yang ilmiah. Bagaimana? Siap?

Subhan:

Tidak perlu membangun kecemasan seperti Esha Tegar Putra bahwa dugaannya ada agensi-agensi yang melanggengkan ketokohan DJA lewat puisi esai (lihat: Sastra, Arena, Kuasa, Surat Terbuka untuk Publik Sastra, Padang Ekspres, Minggu, 21 Januari 2018).

Jika dugaan itu pun ada, kelompok yang kontra DJA bangun pula agensi-agensi yang lebih baik dan kuat untuk karya-karya yang lebih baik dari puisi esai—sekali lagi dengan cara-cara fair tanpa caci maki. Hargai kreativitas.

Sunlie:

Silakan Esha tanggapi kalau mau.

Subhan:

Penyair Soni Farid Maulana membikin puisi jenis Sonian (merujuk nama Soni Farid Maulana), kemudian diklaim pengikutnya sebagai genre puisi baru. Kita hargai ‘ijtihad’ Soni itu. Jika berkembang, puisi Indonesia semakin berwarna.

Gubernur Sumatra Barat, Irwan Prayitno, bikin pantun-pantun spontan dengan tema kekinian dan ia bacakan setiap kali berpidato, kita hargai itu. Pantun spontan Irwan mencapai 18 ribuan lalu dicatat MURI sebagai pantun terbanyak di dunia, layak kita beri apresiasi. Irwan membangkitkan tradisi berpantun yang nyaris punah.

Sunlie:

Apakah Soni Farid Maulana pernah membayar orang menulis puisi Sonian-nya seperti halnya Denny J.A. membayar orang menulis puisi-esai? Apakah Soni Farid Maulana pernah mengaku dirinya sebagai pembaru genre puisi baru atau sebagai salah satu tokoh sastra Indonesia yang paling berpengaruh?

Selebihnya, silakan Soni Farid Maulana yang menanggapi.

Subhan:

Jauh sebelum itu, mengutip Maman S Mahayana, Muhammad Yamin menawarkan Soneta untuk menolak syair dan pantun. Sutan Takdir Alisjahbana dan para penyair Pujangga Baru membawa konsep Puisi Baru—meski mereka berhasil meneguhkan isi dan bentuk baru dalam puisinya, jejak pantun dan syair masih sangat kentara.

Saya kira begitu juga puisi esai, hanya salah satu bentuk kreativitas terhadap kegelisahan seorang penyair yang menginginkan sesuatu yang berbeda dari keumuman yang ada. Sebagai pribadi, saya menghormati jalan ‘ijtihad’ DJA.

Sunlie:

Inilah bukti nyata bahwa kau buta sejarah sastra! Kapan Muhammad Yamin menawarkan Soneta untuk menolak syair dan pantun? Tunjukkan referensi kau itu!

Kita lihat apakah si Maman S Mahayana memang ngawur atau kau yang ngawur! Jangan memfitnah orang yang telah meninggal! Lagipula, memangnya Soneta itu temuan Yamin? Kau tahu Soneta itu berasal dari mana dan seperti apa sejarahnya, Subhan?

Apakah Sutan Takdir Alisjahbana dan para penyair Pujangga Baru pernah menyebut diri mereka sebagai pembaharu secara terang-terangan? Apakah mereka pernah menamai corak puisi yang mereka tulis itu seperti halnya Denny J.A. (kendati terbukti bahwa puisi esai bukanlah hasil temuan si Togog)?

Apa perbedaan antara puisi esai-nya si DJA itu dengan puisi naratif, prosa lirik, dan lirik esai? Bisa kau jelaskan?

Subhan:

Kebebasan mencipta, kata HB Jassin, adalah soal yang penting dipikirkan dan disadari oleh para seniman, terutama seniman muda. Dan ini perlu dibicarakan dalam tingkat yang lebih tinggi dan iklim yang jernih, lepas dari emosi yang berkobar-kobar dan meluap-luap.

Socrates telah dipaksa minum racun karena ia dianggap berbahaya mengajarkan cara berpikir yang logis dialektis kepada para pemuda dalam mencari kebenaran. Ia dihukum oleh orang-orang yang takut akan kebenaran. Tapi kebenaran tidak turut binasa bersamanya.(*)

Sunlie:

Kau mau menyamakan seorang penipu licik tukang main duit dengan Socrates?

Sekali lagi, tolong hormati orang yang sudah meninggal! Apalagi seorang filsuf besar yang sudah mati ribuan tahun seperti Socrates! Kenapa tidak kau sendiri saja yang minum racun, Subhan? Hahaha.

Subhan:

*)Muhammad Subhan, pegiat literasi dan pembaca buku-buku sastra, berdomisili di Padangpanjang.

Sunlie:

Tidak apa-apalah sesekali saya juga melampirkan biodata panjang seperti si Narpit. Hehehe.

*)Sunlie Thomas Alexander lahir 7 Juni 1977 di Belinyu, Pulau Bangka, dengan nama Tang Shunli (湯順利). Ia sempat belajar Seni Rupa selama beberapa semester di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan menyelesaikan studi Teologi-Filsafat di UIN Sunan Kalijaga di kota yang sama. Cerita pendek, puisi, esai, kritik sastra, catatan sepakbola, dan ulasan seni rupanya dipublikasikan di berbagai media dan jurnal (cetak dan online) yang terbit di Indonesia maupun luar negeri, juga terhimpun dalam sejumlah antologi komunal.

Ia diundang dan menghadiri berbagai festival sastra, seperti Kongres Cerpen Indonesia IV di Pekanbaru, Riau (2005), Temu Sastrawan Indonesia I di Jambi (2008), Temu Sastrawan Indonesia IV di Tanjungpinang, Kepri (2010) dan Temu Sastrawan Indonesia V di Ternate, Maluku Utara (2011), Temu Sastra MPU di Lembang, Jawa Barat (2008), Korean-ASEAN Poets Literature Festival II di Pekanbaru, Riau (2011), Ubud Writers & Readers Festival di Ubud, Bali (2012), serta Pertemuan Sastrawan Nusantara XVII di Pekanbaru, Riau (2013). Pada tahun 2009, ia ditunjuk sebagai ketua pelaksana Temu Sastrawan Indonesia II di Pangkalpinang, Bangka-Belitung.

Pada tahun 2016, ia mengikuti residensi sastra di Taiwan selama enam bulan atas undangan dari Menteri Kebudayaan Republic of China (Taiwan) dan Perpustakaan Asia Tenggara “Brilliant Time”. Dan menjadi pembicara dalam “2017 Asian Poetry Festival” di Taipei, Taiwan yang ditaja oleh Qi Dong Poetry Salon dan majalah sastra INK pada bulan Oktober 2017.

Puisinya beberapa kali memenangkan penghargaan sayembara, cerpennya pernah masuk 14 Cerpen Terbaik Anugerah Sastra Horison 2005, sementara kritik sastranya antara lain meraih 5 Unggulan Terbaik Sayembara Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta 2013, Juara I Kritik Sastra dalam Lomba Sastra & Seni Universitas Gadjah Mada ke-3 Tahun 2015, Pemenang III Sayembara Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta 2017, dan Juara I Kritik Sastra dalam Lomba Sastra & Seni Universitas Gadjah Mada ke-4 Tahun 2017.

Karya-karyanya yang sudah terbit antara lain Malam Buta Yin (kumpulan cerita pendek, Gama Media, 2009), Istri Muda Dewa Dapur (kumpulan cerita pendek, Ladang Pustaka & Terusan Tua, 2012), dan Sisik Ular Tangga (puisi, Halindo, 2014). Youling Chuan (幽靈船) merupakan buku kumpulan cerpen dan puisi terbarunya yang diterbitkan dalam terjemahan bahasa Mandarin di Taiwan oleh Sifang Wén Chuàng (2016).

Buku kumpulan cerpennya yang akan kembali terbit dalam waktu dekat berjudul Makam Seekor Kuda (Indie Book Corner).

Selain menulis, mengerjakan desain grafis, dan mengelola penerbit indie Ladang Publishing, ia juga terlibat aktif dalam perlawanan terhadap “kaum bumi datar” (sebutan bagi kelompok-kelompok Islam Radikal di Indonesia) di media sosial, dan terhadap berbagai pembodohan di dunia sastra Indonesia yang dilakukan oleh sejumlah nama maupun institusi.

Saat ini ia sedang berusaha merampungkan novel pertamanya, Kampung Halaman di Negeri Asing.

______________________

Catatan Kaki:

[1] Lihat Muhammad Subhan, “Bersihkan Sastra Indonesia dari Politik Caci Maki” dalam https://rinaikabutsinggalang.wordpress.com/2018/01/25/bersihkan-sastra-indonesia-dari-politik-caci-maki/, diakses 25/01/2018.

[2] In literary criticism, close-reading is the careful, sustained interpretation of a brief passage of a text. A close reading emphasizes the single and the particular over the general, effected by close attention to individual words, the syntax, and the order in which the sentences unfold ideas, as the reader scans the line of text. As an analytical technique, close reading compares and contrasts the concept of distant reading, the technique for “understanding literature, not by studying particular texts, but by aggregating and analyzing massive amounts of data”, as described, by Kathryn Schulz, in “What is Distant Reading?”, an article about the literary scholar Franco Moretti. Lihat https://en.m.wikipedia.org/wiki/Close_reading.

[3] Saut Situmorang, “Close-reading Atas “Kritik” Puisi Narudin Pituin” dalam https://www.facebook.com/notes/saut-situmorang/close-reading-atas-kritik-puisi-narudin-pituin/10155051221118815/, diakses 26/01/2018.

[4] Lihat https://www.change.org/p/kementerian-pendidikan-dan-kebudayaan-indonesia-petisi-menolak-program-penulisan-buku-puisi-esai-nasional-denny-j-a, diakses 26/01/2018.

[5] Silakan periksa https://en.wikipedia.org/wiki/Lyric_essay dan https://owl.english.purdue.edu/owl/resource/753/04/.

[6] Lihat status Facebook “Malkan Junaidi”: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1803674969675467&id=100000989456427.

[7] Mo Yan, The Garlic Ballads, Howard Goldblatt. (York: Metheun Publishing, 2006), hlm. 31.

[8] D. Salinger, The Catcher in The Rye, terj. Gita Widya Laksmini (Depok: Banana, 2015), hlm. 34-35.

[9] Joni Ariadinata cerpenis Yogyakarta kelahiran Majalengka, 23 Juni 1966 ini termasuk salah satu anggota Tim Delapan penyusun buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia , 2014) yang didanai oleh Denny J.A. untuk memanipulasi sejarah sastra Indonesia.

[10] Joni Ariadinata, “Lampor” dalam Lampor, Cerpen Pilihan Kompas 1994 (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2002, Cet. II)

[11] Eka Kurniawan, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2014), hlm. 84.

[12] Triyanto Triwikromo, Surga Sungsang (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2014), hlm. 20-21.

[13] Arafat Nur, Lampuki (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2011), hlm. 254.

[14] Ibid, hlm. 283.

[15] Pramoedya Ananta Toer, Anak Semua Bangsa (Yogyakarta: Hasta Mitra, 2002), hlm. 59.

Tanggapan ini rencananya akan Sunlie Thomas Alexander masukkan ke dalam buku “Persoalan Sastra Kita Hari ini” yang bakal ia terbitkan bersama sejumlah esai lainnya tentang persoalan kesusastraan.