Surat untuk Kawan

Surat untuk Kawan
©Nalar Politik

Kepada Kawan Adinda Aco Nursyamsu,
di Tanah Gelisah dan Anti Kemapanan

Saya doakan kau tetap sehat dan gelisah, kritis dan sukses terus, kawan!

Saya telah membaca seluruh naskah cerpen yang kau kirimkan di sela-sela waktu perjalanan saya ke berbagai kota, desa, dan pedusunan terjauh yang mungkin tak terbaca dalam peta negeri ini. Atau kadang di dalam mobil, di terminal, di dalam kereta api, di pelabuhan, di ruang transit bandara smoking area, di pinggir sungai, di tepi pantai, di mana pun longgarnya waktu untuk membaca dengan tablet kumal yang menemani saya sepanjang perjalanan.

Ah, rasanya seperti sedang membaca sebuah manifesto, atau pamflet pergerakan mahasiswa, orasi kebudayaan, gugatan kaum muda, dan seikat problematika sosial lainnya.

Saya juga memberi apresiasi yang tinggi atas pilihan-pilihan itu. Pilihan menjadi penulis merdeka, menulis cerita dan kisah langsung dari apa yang terasa, apa yang menjadi raungan kaum papa, rakyat kecil, para pemuda desa, para demonstran mahasiswa, para buruh, pekerja pabrik, dan lain-lain.

Meskipun saya tahu itu tidak mudah, kawan. Memilih jalan itu adalah pilihan yang sangat berat di zaman edan ini. Bahkan kadang pilihan yang demikian dianggap absurd di dunia sastra pada umumnya.

Kehadiran Kumpulan Cerpen (Kumcer) Isyarat Rindu Balas Dendam (IRBD) kok saya duga akan menjadi “anak tiri” kondisi kekinian kesusastraan tanah air. Kumcer ini lahir dalam fase yang ganjil, Kumcer ini lahir saat sastra Indonesia sedang lucu-lucunya, sedang genit-genitnya: sebagaimana kata Mas Willy Rendra dalam Sebatang Lisong, Mereka bersajak tentang anggur dan rembulan sementara penderitaan terjadi di sisinya…!!

Sosio kultural dan sastra tanah air hari ini sedang mengalami kelucuan pembaca yang lucu, temanya lucu, politiknya lucu, demokrasinya lucu, ideologinya lucu, para penganjur agama yang lucu. Namun itulah kegandrungan saat ini; kalau tak lucu, atau tak kontroversial, tidak viral, sebab viral adalah segalanya; viral adalah kebenaran dan seterusnya. Hahaha…, viral aidzin wal faidzin…!!

Baca juga:

Okelah kalau begitu, kita jangan melucu terus, kawan. Seriusnya begini. Sastra sebagai sebuah hasil rekayasa kebudayaan, pada akhirnya, tidak bisa melepaskan diri dari dialektika kebudayaan, bahkan menjadi salah satu alat (property) kebudayaan. Sebab itulah sehingga karya sastra tidak lagi berdiri sendiri menjadi sebuah karya seni (jika sastra adalah karya seni) atau karya intelektual, atau sekadar menjadi sesuatu yang enak dibaca, didengar, dan ditonton jika dibacakan di panggung (sebagaimana puisi, misalnya).

Tetapi sastra pada akhirnya menjadi pedati yang kuat. Meski jalannya lambat, tetapi mampu menampung dan memuat banyak peristiwa kebudayaan di dalamnya. Salah satunya adalah kisah-kisah tentang kemalangan manusia, percintaan, pemberontakan, ketulusan, kampung halaman, serta kelucuan-kelucuan lainnya sebagaimana kegandrungan sastra hari ini.

Oke, sekarang kita masuk lebih dalam membincang tentang Kumcer IRBD ini.

Secara umum, ada banyak sastrawan yang tak bisa melepaskan diri dari kampung halamannya (lingkungan sekitarnya) di mana ia pernah dilahirkan, mungkin, atau sekadar menjadi penduduk urban di suatu tempat, atau dengan berbagai peristiwa lain yang yang menyebabkan seseorang kesengsem dengan peristiwa-peristiwa dalam sebuah ruang (kampung) di waktu tertentu.

Meskipun, suasana kampung halaman di Indonesia, kini, kian hari kian tak terasa dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak kian kehilangan ruang bermain dengan tetangga sekitarnya. Rancangan tata ruang tempat tinggal di mana kita berada kian menyempit dan tak memiliki public spice lagi. Setiap rumah hampir tak memiliki lagi halaman yang luas, tempat di mana kita biasanya bercengkerama dengan para tetangga, sambil anak-anak kita bermain di sekitar.

Simpelnya, bahwa kampung halaman telah lama ter-delete (terbuang) dari kehidupan kita. Individualisme pun kian mengedepan. Kelas sosial kian mengencang, membangun jarak sosial. Hasilnya, ruang untuk saling berdialektika, bergesekan, mendialogkan kekayaan budaya kita juga ikut menyempit. Primordialisme kian merangsek ke berbagai ruang-ruang sosial dan tak jarang melahirkan konflik horizontal.

Jarak antara suku bangsa yang satu dengan yang lainnya kian jauh. Dialog kebudayan berbagai etnis dikalahkan oleh dialog-dialog politik yang sarat istilah, sehingga kemesraan antar-etnis sering kali tak kita temui dalam banyak peristiwa sosial budaya kita sehari-hari.

Meski tidak semua sastrawan selalu kesengsem dengan kampung halamannya, tetapi minimal kita dapat menderetkan sejumlah nama sastrawan yang pernah kesengsem dengan kampung halamannya yang lahir dalam ranah lahiriah dan batiniah karyanya.

Halaman selanjutnya >>>
    Bustan Basir Maras
    Latest posts by Bustan Basir Maras (see all)