Survei Eksperimental SMRC: Kualitas Tokoh, Bukan Partai, Jadi Magnet Pemilih

Survei Eksperimental SMRC: Kualitas Tokoh, Bukan Partai, Jadi Magnet Pemilih
©SMRC

Nalar Politik – Survei eksperimental Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan bahwa kualitas tokoh calon presiden (dari segi likeability hingga empati, integritas, kapabilitas, dan religiositas), bukan partai, yang menjadi magnet utama bagi mayoritas pemilih.

Dijelaskan SMRC melalui rilisnya (28/12), metode survei eksperimental adalah satu cara untuk menguji hubungan kausal antara variabel independen dan dependen dalam survei opini publik. Berbeda dengan survei-survei biasa yang hanya berdasarkan asumsi dan teori, SMRC hendak menunjukkan hubungan itu secara metodologis sehingga dapat menghasilkan temuan yang menunjukkan ada atau tidaknya hubungan kausal tersebut secara lebih meyakinkan.

“Dalam survei eksperimental, sebab ditetapkan lewat suatu desain eksperimen dengan memberikan treatment secara acak kepada responden kemudian melihat pengaruhnya pada akibat.”

Lewat survei itu, SMRC melakukan 4 buah eksperimen, yakni (Eksperimen I) Efek partai terhadap elektabilitas capres; (Eksperimen II) Efek kualitas capres (likeability) yang dicalonkan partai terhadap pilihan pemilih partai pada capres; (Eksperimen III) Efek kualitas capres (empati, integritas, kapabilitas, religiositas) yang dicalonkan partai terhadap pilihan pemilih partai pada capres; dan (Eksperimen IV) Efek capres yang diinginkan terhadap elektabilitas partai.

Temuan Survei Eksperimental SMRC

Secara umum, temuan survei eksperimental SMRC menunjukkan bahwa pemilih partai lebih mempertimbangkan kualitas personal tokoh calon presiden dibanding keputusan yang dibuat partai.

“Dukungan pemilih partai terhadap capres yang diusung oleh partai akan menurun signifikan jika capres tersebut tidak disukainya. Pemilih partai juga akan lebih memilih capres yang lebih disukainya meskipun capres tersebut tidak diusung oleh partainya.”

Mengapa pemilih lebih mempertimbangkan kualitas personal tokoh calon presiden dibanding keputusan yang dibuat partai?

Studi SMRC memperlihatkan, pentingnya partai dibanding kualitas calon presiden mengandaikan ikatan pemilih dan partai kuat secara psikologi (party identification). Tetapi di Indonesia, prasyarat ini tak dipenuhi.

Party ID (di Indonesia) itu sangat lemah. Trend menunjukkan tak lebih dari 15 persen.”

Karena itu, kualitas tokoh yang diusung oleh partai harus bersih dari korupsi, kuat agamanya, mampu menyelesaikan masalah bangsa, perhatian kepada rakyat, dan pintar. Tanpa faktor-faktor ini, dukungan pemilih partai terhadap capres yang diusung oleh partainya akan jauh menurun.

Baca juga:

“Kualitas capres memengaruhi elektabilitas partai yang mencalonkannya. Elektabilitas partai akan menurun jika partai tersebut tidak mengusung capres yang diinginkan oleh pemilih.”

Dengan demikian, tokoh dan kualitasnya adalah sebab penting dari dukungan atas partai. Partai tidak memperkuat ataupun memperlemah dukungan pada calon presiden.

“Partai yang berhasil dalam pemilu adalah partai yang mancalonkan seseorang menjadi presiden yang disukai pemilih: calon yang tidak punya persoalan dengan integritas, dengan kompetensi, dan dengan moral.”