Tadabbur wa Tafakur

Tadabbur wa Tafakur
©PIxabay

Milad

Sebuah tangisan tanda kehidupan dimulai
Mengumandangkan tanda kebesaranNya
Menutur hari tanda harus bersyukur
Berdetak waktu tanda berlalu

Ayunan kasih sayang yang tak pernah berhenti datang
Tertanam banyak harapan untuk masa depan
Melawan lelah hingga lelah pun kalah
Demi sebuah amanah yang dijaga dengan qana’ah

Menatap sayup ke setiap sudut
Menatap sayup kepada setiap yang datang
Menatap sayup pada setiap benda
Menatap sayup pada alam fana ini

Selalu terdengar rasa syukur yang diucap
Selalu terdengar doa terbaik yang diucap
Sambut rasa bahagia dari mereka
Sambut rasa haru dari mereka

Suara gumam yang selalu terdengar
Seakan tak asing dari telinga
Jelas saja ia seorang malaikat
Kelak selalu menjadikannya rumah untuk pulang

Alunan merdu yang selalu menghentikan tangisan itu
Membuat berhenti sejenak untuk menatap wajah cantik itu
Terlintas rasa satu hati yang saling berpapasan
Mengucapkan selamat datang dan tak akan lagi berpapasan

Hayat

Menulusuri kekayaan hingga lupa pada Yang Maha Pemberi Kekayaan
Kufur itu telah menyelimuti imannya yang mati
Berpikir seakan hidup kekal di alam fana
Tak berpikir sesal akan menghampiri

Berkelana mencari jati diri
Seakan-akan tak bisa menemukannya
Di saat pena kehidupan menggoreskan tintanya di atas takdir
Insan yang kini menapakkan kaki di atas ardhNya ini
Sedang antah berantah diuji kebingungan dengan jalan hidupnya

Padahal sang Khaliq telah memberikannya al-‘Aql untuk memikirkan keagunganNya
Padahal sang Khaliq selalu di hatinya
Kebingungan itu seakan-akan berembus dari kirinya pikiran hubb addunyaa
Kebingungan itu seakan-akan berembus dari sifat kekufurannya

Porosnya takdir memang berada pada sang Pengatur semesta
Bergantung padaNya adalah hal yang mestinya dilakukan
Selagi setiap nadi insan masih tetap berdetak
Selagi setiap nafas masih tetap berembus

Sang makhluk pun selalu enggan untuk bertanya
Sang makhluk pun tak selalu pada jalan yang telah ditunjukkanNya
Sang makhluk pun terkena oleh percikan kotoran fana yang selalu mengenainya
Sang makhluk pun dikuasai oleh an-nafs

Shirath hidup ini telah digariskan oleh sang Ilahi
Makhluk yang bersifat nasiya pun enggan memikirkan tentang arti hidup yang sebenarnya
Shirath hidup baginya bagaikan labirin
Awwam dan selalu mengandalkan qaul orang lain

“Al-Nisyanu” sebutan baginya
Yang terkadang ia lupa dari manakah ia berasal
Yang terkadang membingungkan shirath hidupnya
Yang enggan bertanya pada sebuah hakikat ia diberi karunia sebagai makhluk

Embusan demi embusan ia ikuti
Hingga ia terombang ambing dalam kiri kanannya kehidupan
Seakan-akan ia lupa
Sang Ilahi telah menjanjikan bahwa istiqamah dalam takwa itu adalah sebaik-baiknya shirath hidup

Rehatnya dari semua hal itu
Sang Pengatur semesta selalu memberikan hidayah
Betapa Maha Baiknya Ia
Meski sang nasiya telah terombang ambing
Sang Pengatur semesta tetap mengawasinya

Maut

Ketika sang penghancur segala kelezatan dunia menghampiri
Ketika satu tarikan itu menuju keluar dari dalam diri
Tak akan bisa lagi dihindari
Tak akan bisa lagi lari

Sang Malakul Maut telah menjemput
Insan yang enggan itu pun tertakut
Ini bukan akhir dari sebuah kehidupan
Ini adalah fase awal dari barunya kehidupan

Alam Fana ini hanya sekadar persinggahan
Janganlah terlalu berangan-angan
Tak ada yang kekal di dalamnya
Kecuali atas izinNya

Mengejar kefanaan dengan terus merogoh tanpa henti
Insan yang kini tersungkur di tanah pun enggan bangkit
Memberi tanda memang benar berita-berita yang disampaikan Sang Khaliq
Makhluk yang enggan percaya itu segera akan menyesal

Bukankah Sang Khaliq telah memberi peringatan
Bukankah Sang Khaliq telah menampakkan keagunganNya
Terlalu sibuk dengan tempat persinggahan
Hingga lupa akan ajalnya

Nurul Arafah
Latest posts by Nurul Arafah (see all)