Tarian Rindu

Tarian Rindu
┬ęDuapah

Tarian Rindu

Menari dalam lautan kesunyian
Ditemani rintik hujan kerinduan
Syahdunya desir dedaunan
Menentramkan hati dan pikiran

Kesuksesan yang sebenarnya bukanlah materi
Tapi adalah kedamaian di hati
Maka menarilah kau bersama rindu
Agar hatimu tak selalu sendu

Selembar Foto Usang

Duhai kau yang memupuk rindu pada selembar foto using itu
Lupakan kau bahwa hati mudah berontak
Bahwa raga sukar menyepi
Dan bahwa rasa cuma sesaat

Lupakan kau bahwa janji kerap berlaku ingkar
Bahwa setia tidak pernah ada
Dan bahwa cinta tak memiliki mata
Lupakan kau bahwa ruang melahirkan orang
Bahwa jauh menggariskan jarak dan bahwa jarak melupakan waktu

Dendam Diam

Rindu mengetuk
Lewat hal-hal yang tak bisa dijelaskan
Dan kenangan membakar habis air mata
Tangis yang kau lihat pecah adalah dendam yang tertahan
Dan rindu mengetuk di awal malam

Lewat hal-hal yang tak bisa dijelaskan
Dan ingatan lampau tak ingin mampir
Harapan-harapan yang kau lihat pudar adalah ingin paling kuat
Dan rindu mengetuk di awal malam yang diam
Lewat hal-hal yang tak mungkin bisa dijelaskan

Lewat samar wajah yang tak bisa dibayangkan
Lirih suara yang tak bisa didengarkan
Lewat rona mata yang tak bisa digambarkan
Lewat indah bibir yang tak bisa dirasakan
Aku dendam, rindu dan diam,

Riuh yang Semu

Kau tercenung menatap matahari yang terbena di ujung pulau
Lebih dari itu, aku terpanah melihat senja yang tenggelam di retina matamu
Saat hari gelap, matahari terlelap
Matamu mengembun menyiratkan ratap
Sesuatu akan meledak di rongga dadamu

Beribu Tanya dalam kepala menyerbu
Kau terdiam kaku
Lidahmu bergetar kelu
Ada yang lebih kau benci dari gelap
Terang yang fana

Riuh yang semu
Dan bayang yang perlahan lindap
Kau tergelak dalam buaian gelap
Tak ada yang menyadari matamu sembab
Tak tersentuh pipi basahmu

Kau bebas patah sejadi-jadinya
Kakimu terseok-seok berlari
Bayangmu tertimbun labirin sunyi
Semakin jauh

Semakin tak terjamah
Ada yang lebih kau takuti dari senyap
Tawa yang palsu
Bahagia yang terbungkus empedu

Dan bebas yang terbelenggu
Kau ingin mendekam dalam labirin sunyi itu
Matamu lebih tenang dengan gelap
Ragamu damai dalam senyap
Ketimbang harus menyantap riuh yang semu

Jika riuh bagimu semu
Tak masalah aku memekat menjadi gelap
Yang melebur dalam darahmu
Mengabadi bersamamu

Kerinduan

Adakah engkau di sana sepertiku
Memasuki dunia hayalanku yng mencaci
Aku berhayal berduaan denganmu
Di mana aku dapat tertawa bersamamu, menggenggam tanganmu

Wahai cintaku di sana
Mengapa kau tak mengenaliku
Kau tak tahu apa yang ada di hatiku
Kau tak tahu jika aku memandingi wajah indahmu

Adakah engkau di sana sepertiku
Yang tidak sadarkan diri akan cinta yang bersemi
Yang tak mampu mengucapkan kedalaman kerinduan
Saat berhadapan denganmu
Aku yang terkurung di ruang cinta dan kerinduanku

Tak dapat berucap padamu, bahkan walau telah menyentuhmu
Setiap menatap matamu terasa menusuk ke jantung hatiku
Engkau cintaku
Engkau rinduku
Rindu tak bertuanku

Lalik Kongkar
Latest posts by Lalik Kongkar (see all)