Teladan

Teladan
Presiden Jokowi saat berkunjung ke Afghanistan.

Contoh atau teladan yang baik akan menghasilkan anak-anak yang baik. Kalo bapak-ibunya biasa ngomong ngaco di depan anak-anaknya, ditambah lagi dengan asupan barang-barang haram, pasti anaknya akan meniru. Anak adalah peniru yang luar biasa.

Nalar WargaSetiap orangtua pasti bermimpi masa depan anaknya lebih baik dari dirinya. Bapak gue bermimpi nasib gue gak seperti beliau. Begitu juga gue ke anak-anak gue.

Gimana caranya? Tentu saja si orangtua jauh-jauh hari (menurut penelitian lebih bagus sejak dalam kandungan) masa depan si anak sudah dipersiapkan.

Bapak gue, karena secara finansial kurang banget, sehingga secara gizi gak terpenuhi, tapi anak-anaknya dipersiapkan secara mental dan spiritual.

Pertama, begitu menikah, bapak gue hingga kami dewasa, berjanji gak akan pernah ngasih makan anak-anaknya dari hasil duit haram. Kedua, sejak anak-anak, kami diajar jujur. Sudah, dua itu aja.

Karena kehidupan gue sudah lebih baik dari bapak gue, dua poin itu tinggal gue lengkapi. Ketiga, mencukupi gizi masa emas anak-anak gue. Keempat, mengajarkan pola hidup sehat dengan cara gak merokok. Dan hasilnya, kecerdasan bapaknya jauh sekali tertinggal.

Tapi ada satu hal yang katanya secara ilmu pengetahuan gak bisa diubah, DNA. Meski di mata gue bapak gue baik, pasti ada hal buruk dalam sifat turunan bapak gue yang gue gak tahu. Begitu juga dari gue ke anak gue. Pasti dia gak tahu rahasia buruk atau negatif hidup gue.

Kenapa rahasia buruk yang ada dalam DNA turunan itu gak kelihatan? Karena para orangtua pandai menutupinya dengan contoh-contoh yang baik. Begitu kita sebagai orangtua gagal memberi contoh baik, DNA negatif itu nongol dengan sendirinya.

Jadi, kalo anak Amien Rais tiba-tiba berkomentar negatif atas kepergian Jokowi ke Afganistan, gue sih gak aneh waktu dia bilang begini:

“Memang saya kira langkah Presiden ini tak lepas dari kebutuhan domestik di Indonesia sendiri, di mana simpati umat Islam jadi perhatian Presiden. Saya kira Presiden cukup cerdik di negara-negara Islam di Asia Selatan ini. Mungkin diharapkan simpati umat Islam ini bisa dipanen untuk 2019 dengan mengunjungi negara Islam di Asia Selatan,” katanya yang penuh curiga seperti bapaknya.

Buah jatuh gak jauh dari pohonnya, kata pepatah Melayu. Like father like son, kata orang Barat. DNA memang gak pernah bohong, kata gue.

Okelah, DNA gak bisa diubah. Tapi gak ada cara paling ampuh para orangtua menurunkan hal-hal baik kepada anak-anaknya selain dengan contoh.

Contoh atau teladan yang baik akan menghasilkan anak-anak yang baik. Kalo bapak-ibunya biasa ngomong ngaco di depan anak-anaknya, ditambah lagi dengan asupan barang-barang haram, pasti anaknya akan meniru. Anak adalah peniru yang luar biasa.

Orangtua adalah role model anak-anaknya. Anak-anak adalah gambaran orangtuanya.

Lihatlah Jokowi. Barangkali dia seperti kita punya sisi buruk dalam dirinya, tapi dia selalu berusaha menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya sebelum bagi anak-anak bangsanya.

Selebihnya, serahkan kepada Tuhan yang Maha berkuasa atas hidup mati manusia. Makanya, meski di Afganistan ada bom berledakan saat kunjungannya, dia gak takut.

Kalo sama bom aja Pakde gak gentar, apalagi cuma kepulangan Rijik.

*Ramadhan Syukur

___________________

Artikel Terkait: