Teman Setia Tidak Menjerumuskan

Teman Setia Tidak Menjerumuskan
©Lip6

Nalar Warga – Teman setia tidak menjerumuskan. Dia melindungi meski bila harus terlihat sebaliknya.

Membela teman dengan cara membabi buta, misalnya, jelas bukan cara seorang teman menunjukkan rasa setia. Seringkali, dia justru menjerumuskan.

Kita berpikir bahwa cara paling jitu adalah dengan melaporkan Rocky Gerung ke polisi. Kita berpikir bahwa ucapannya SUDAH SANGAT memenuhi unsur untuk membawanya ke ranah pidana. Benarkah?

Setahuku, baik di media sosial atau dalam keseharian kita, ada ribuan bentuk caci maki pada sosok. Siapa pun itu dan terjadi setiap hari.

Dan hukum memang tidak bicara pilih kasih pada sosok. Hukum tidak punya telinga khusus apalagi privileged untuk presiden, misalnya, tapi general.

Dan maka, cacian atau omongan kasar yang dilontarkan oleh siapa pun, sepanjang tidak bersifat fitnah dan hingga bermuatan unsur SARA, misalnya, itu sulit dipidana.

Faktanya, dalam sistem hukum kita, mencaci seorang presiden, misalnya, itu bukan bentuk pidana. Dan itu pun bukan salah satu hal bersifat haram dalam sistem demokrasi.

Meski itu sangat menyakitkan dan menyinggung perasaan, pada faktanya aturan hukum kita pun tidak memberi ruang pada jenis penyakit sakit hati yang seperti itu.

Baca juga:

Dan maka, melaporkan RG ke Polisi, sepertinya bukan cara bijak. Hukum berlaku kesetaraan. Bila pada pak Jokowi cacian berdampak penjara, cacian ke pak Anies, misalnya, harus berdampak penjara pula. Bila tidak, itu menjerumuskan hukum kita sendiri.

Bila laporan ini tetap dipaksakan dan polisi HARUS menerima karena adanya faktor tekanan, misalnya, mencarikan pasal baru bahwa yang bersangkutan sudah bikin kegaduhan bisa saja dibuat. Tapi itu pasti kontraproduktif.

Menghadirkan pak Jokowi karena faktor kebutuhan pemeriksaan, misalnya, jelas akan mendegradasi jabatan presiden itu sendiri.

Dan bila perkara hukum itu terjadi pada pemerintahan Jokowi, bukankah itu sama artinya menjerumuskan Presiden Jokowi dalam jurang kenistaan?

Bukankah Presiden Jokowi yang terkenal sangat merakyat itu pada akhirnya justru hanya akan dapat julukan diktator dan rezim antikritik?

Di sisi lain, baik kelak bisa dipidana atau tidak, tapi tetap diproses hukum, Rocky Gerung lah pihak yang paling mendapat keuntungan.

Sosok ahli bolak balik kata tiba-tiba dijadikan seimbang dalam perlawanan dengan seorang presiden jelas bukan cara seorang teman setia punya cara dalam hal bela membela. Itu justru merugikan nama baik dan mendegradasi posisi teman kita sendiri. Itu menjerumuskan.

Jadi?

Baca juga:

Rocky Gerung bukan siapa-siapa. Bila padanan kata ingin kita ambil, dia gak jauh dari sosok oportunis saja.

Mau bukti? Bukankah dia mau jadi apa saja dalam setiap penampilannya?

Anda bisa isi sendiri jawaban itu. Ada puluhan peran pernah dia ambil meski hanya untuk mencari sensasi dan tentu saja mustahil berbayar hanya untuk sesuap nasi.

Setelah kehebohan ini, mustahil dong bila rate atau harga sensasi omongannya tak makin menjulang tinggi?

Artinya, bila sensasi pernyataannya tidak kita gaungkan, dia hanya seperti katak di tengah kota, katak yang kesepian.

Seperti esensi seekor katak yang selalu bernyanyi di saat tertentu, dia tetap akan berbunyi tapi tak mendapat sahutan karena teman sesama katak hanya beresonansi pada habitatnya saja, di rawa dan di tempat sepi.

*Leonita_Lestari

Warganet
Latest posts by Warganet (see all)