Tentang KPI, Coki Pardede, dan Saipul Jamil

Tentang KPI, Coki Pardede, dan Saipul Jamil
©CNN Indonesia

Lihat-lihat Twitter, ramai cuma di seputaran KPI, Saipul Jamil, terus Coki Pardede dalam beberapa hari terakhir ini.

Untuk kasus Coki Pardede, saya sebenarnya tidak terlalu peduli karena yang dirugikan di sini hanyalah Coki Pardede semata (kerugiaan secara fisik dan materi tentunya); mau dia pakai sabu lewat anus kek atau lewat lubang penis kek, mau dia gay atau penis bipolar kek, saya sih tidak peduli selama tidak ada kerugiaan material dan fisik yang dia kenakan pada orang lain.

Tapi di Twitter, saya sendiri ikut-ikutanan mem-bully Coki. Alasan saya? Ya tidak masalah, Coki aja sering jadiin musibah orang lain sebagai bahan jokes kok. Namun anehnya masih ada saja fans Coki Pardede yang marah-marah akibat bully-an ini. Bagaimana tidak konsistennya mereka.

Di sisi lain, KPI juga terkena kasus. Dengan anggota di dalamnya melakukan tindak pembullyan dan pelecehan seksual terhadap sesama anggotanya sendiri. Bagi saya sih, tentu miris. Bagaimana mungkin lembaga yang ingin menampilkan citra diri sebagai lembaga moral (moral religius maksudnya) ternyata sama bermasalahnya dalam hal moral.

Ya tidak apa-apa, apa yang terjadi pada internal KPI belum tentu membuat kebijakan-kebijakan luarnya salah, itu false logic to que que. Itulah kenapa mesti dipisah antara mana yang kebijakan KPI dan mana yang masalah internal. Masing-masing ada domain kritiknya sendiri.

Lalu terakhir, ada Saipul Jamil. Oleh warganet, berakhirnya masa tahanan Saipul Jamil dihubung-hubungkan dengan dua kasus di atas. Dengan Coki Pardede dihubung-hubungkan sebagai tukar tambah pemain di lapas. Dengan KPI dikait-kaitkan tentang “mengapa Saipul Jamil tidak dilarang untuk tampil di TV?”.

Alasan KPI? Karena tidak ada alasan hukum bahwa seorang mantan narapidana tidak boleh tampil di TV. Betul, tidak salah. Tapi toh secara hukum juga tidak ada larangan untuk menampilkan tete sapi atau kartun sehingga perlu diblur, kan? Sekali lagi, standar ganda, tidak konsisten.

Ada lagi yang layak dipermasalahkan, soal penyambutan bebasnya Saipul Jamil. Jadi mengingatkan saya dengan bebasnya para tahanan napol zaman Soeharto era-era reformasi. Disambut bak pahlawan kebenaran yang terzalimi sistem yang ada dengan judul headline berita seolah-olah hendak menggiring opini bahwa Saipul Jamil telah memaafkan mereka yang memfitnah dia.

Seorang narapidana kasus pedofilia plus penyuapan kok diperlakukan seperti itu? Nalarnya betul-betul tidak jalan.

Ah sudahlah, negara kek gini apa yang diharapkan coba?

Baca juga:
    Syahid Sya'ban
    Latest posts by Syahid Sya'ban (see all)