Teori Konspirasi: Sebuah Hiburan

Teori Konspirasi: Sebuah Hiburan
©NBC News

Itu manfaat pandemi yang boleh dibilang tanpa konspirasi. Hanya fenomena standar di mana bajingan-bajingan selalu bisa melihat kesempatan di dalam kesusahan global.

Tadi siang habis acara berkatan di komplek, seperti biasa bapak-bapak pada ngobrol politik, sambil dihantui mas-mas tukang koreksi macam saya.

Pada topik korona, pak haji yang tadi mimpin doa melontar maklumat: “Covid itu tidak ada!” yang mana menuai bantahan dari kiri-kanan. Arah obrolan sejenis ini bisa ditebak, dua pihak pada akhirnya sepakat di jalan tengah: covid ada, tapi hasil rekayasa.

Kesimpulan yang bagus. Tapi bahwa ia berangkat dari posisi menolak adanya virus ini, tetap wajib diprihatinisasi. Dan biasanya pemegang prinsip ini ahli taqiyah; di sini sepakat tapi di luar balik lagi ke selera asal.

Alur mantik pak haji itu juga cukup memprihatinkan. Alasan covid tidak ada adalah karena wabah ini kurang masif. Bahwa mestinya sehari minimal 100 orang mati per kecamatan, baru boleh disebut wabah. Lalu bahwa sampai sekarang belum ditemukan obatnya, itu dianggap tidak masuk akal.

Masa semua penyakit ada obatnya, kok yang ini masih belum ketemu? Kalau harus dari kekebalan sendiri, masa lama sekali belum terbentuk kekebalan? Berarti barangnya tidak ada. Pemerintah cuma vonis orang mati asal tunjuk saja, buat cari duit. Begitu logika beliau.

Mas-mas tukang koreksi macam saya ini jelas bingung harus mulai dari mana; karena banyak sekali titik ngawur dalam alur pikir seperti ini. Belum lagi potensi buang-buang energi: di sini sudah gegap gempita ceramah meluruskan, eh di sana main langsung pamit saja.

Jadi saya pilih wejangan yang kira-kira paling membekas saja. “Kenapa lama sekali belum terbentuk kekebalan? Karena seperti pak haji bilang, yang mati kurang banyak.”

Dan benar dugaan saya, orangnya langsung pamit.

Sebenarnya patut disyukuri juga obrolan begituan berakhir prematur. Sebab kalau sudah sampai ke bab rekayasa, alias teori konspirasi, di situ saya cuma bisa bergerak dari momen tepok jidat satu ke momen tepok jidat lain.

Saya sendiri juga percaya barang ini hasil engineering (konspirasi), bukan alami. Saya juga percaya salah satu cabang teori konspirasi, yang paling jarang disebut daripada teori lain. Rumusnya, kalau ada beragam teori mencuat bersamaan, maka pasti ada salah satu yang benar, yang lainnya sengaja dilempar untuk mengaburkan dan menjauhkan pemirsa dari teori yang benar. Itu protap intel global, standar.

Baca juga:

Dari sejumlah negara yang disebut sebagai produsen dan/atau sponsor pelepasan virus ini, saya mempercayai yang paling jarang disebut: Inggris. Ada satu skandal besar yang mendadak hilang dari pelototan media setelah pandemi dirilis, tahun lalu. Skandal terkait kejahatan seksual. Dan priayi. Kalau saya sebut 1 kata kunci saja, misalnya nama orang, maka postingan ini bakal langsung down. Jadi riset saja sendiri.

Cabang teori ini tidak disenangi kalangan pecandu konspirasi, sebab antagonisnya tidak berkuasa penuh atas apa yang terjadi. Teori yang disukai biasanya yang macam di film-film kelas B, harus ada satu orang yang bisa dicongkel untuk mengakhiri semuanya.

Lebih seksi lagi kalau orang itu bukan orang kuat, tapi tipe orang kaya dan pintar, sumber kecemburuan kaum kere minggat se-Asia Tenggara, yang dikhayalkan bisa digeret di alun-alun oleh sembarang geng marhaen yang akan menyelamatkan dunia.

Makanya demen betul orang Indonesia dengan cabang teori Bill Gates.

Sedangkan di cabang yang kurang populer ini, walaupun virus dilepas dengan sengaja, tidak ada contingency plan. Tidak ada jaring pengaman yang disiapkan untuk selamatkan peradaban dari kepunahan di detik-detik terakhir.

Virusnya memang dipilih yang tidak ganas-ganas amat, potensi kehilangan penduduk benua Eropa tidak sampai seperempatnya dalam tahun pertama, alias jauh di bawah Black Death. Bahkan dengan herd immunity ada potensi untuk meningkatkan kualitas homo sapiens secara global. Sebab sifatnya memang solusi darurat, untuk membungkam dunia dari skandal yang terungkapnya sangat mendadak; sampai harus ada yang mati dalam sel sebelum diadili. Ah bocoran lagi.

Anyway, teori beginian memang hanya untuk disimpan, tidak relevan untuk ditindaklanjuti. Sebab mubazir. Kita negara dunia ketiga begini tidak punya kekuatan apa-apa menghadapi adidaya sejati itu; yang tetap menjadi pengendali dunia walaupun adidaya di atas kertas silih berganti antara US dan Cina.

Sementara orang kita sudah lama dibutakan dengan teori si kecil Israel dan si mungil Vatikan yang menjadi sengkuni global. Padahal dua-duanya cuma front lapis kedua. Begitu ada hizb ut-tahrir dan Benny Wenda, baru kita mulai melek sedikit, siapa sebenarnya yang adidaya. Itu pun tidak bisa terlalu keras teriaknya, karena ya gitu deh.

Namun sekali lagi itu mubazir. Lupakan saja. Tidak akan terbongkar. Yang akan ada hanya rekonsiliasi. Global Happy Ending. Semua akan sepakat melupakan skandal yang tabu diungkit-ungkit itu, dengan imbalan stabilitas politik dan ekonomi. Dan pelajaran penting, untuk jangan sekali-kali lagi mengungkit aib penguasa dunia.

Dan kalaupun cabang teori ini maupun cabang-cabang lain tidak terbukti, juga ndak ngaruh amat. Apa pun yang mau dicapai lewat pandemi terukur ini, sudah tercapai. Tidak penting mengetahui hal apa itu. Sebab tahu pun tidak bisa apa-apa.

Baca juga:

Yang bisa kita harapkan cuma kalau di antara adidaya lapis kedua ada unsur pendekar liberal yang bakal jadi martir mengungkap skandal itu, lalu dua-tiga raksasa akan beradu, dan kita bisa punya tontonan sambil ngemil usus goreng. Pendekar macam Edward Snowden misalnya.

Ngomong-ngomong soal Snowden, coba lihat begitu drastisnya perubahan alur pikir penduduk dunia, khususnya ketiga; kita-kita ini. Snowden pada 2016 membawa kita untuk agak paranoid, minimal waspada, terhadap teknologi spionase pukul-rata, yang berawal dari izin kita kepada negara masing-masing untuk menyimpan data pribadi.

Pada 2017 ada Frank Abegnale, agen FBI mantan tukang tipu yang kisah hidupnya difilmkan (Catch Me If You Can, 2010). Beliau dengan santai dan ceria bilang di hadapan jajaran pegawai Google, bahwa “dalam tempo 2 tahun” akan mulai dioperasionalkan yang namanya “Trusona”, teknologi spionase berbasis rekognisi individu, yang memungkinkan polisi menghentikan mobil pelaku kejahatan secara remote dari jarak bermil-mil.

Tidak ada yang bergidik mendengar itu. Rata-rata pemirsa pada fokus pada kemampuan artikulasi pak Abegnale yang mampu bicara tanpa bilang “ee” selama 2 jam nonstop—tanpa jeda minum air setetes pun. Tidak ada juga yang curiga kalau orang itu bisa jadi cyborg.

Peringatan Snowden seperti tidak pernah ada.

Di bulan-bulan awal pandemi, saat Cina dan Korsel pada pamer teknologi rekognisi, misalnya orang bisa diukur suhu tubuhnya dari jarak 5 meter, lalu di ponselnya langsung dikirimi peringatan. Ada aplikasi yang bisa memberi peringatan tiap kali ada orang dalam radius 5 meter yang suhu tubuhnya di atas rata-rata, sehingga orang bisa lebih merdeka dan mandiri dalam menerapkan jaga jarak.

Teknologi itu kita sambut dengan orgasmik. Wow hebat sekali, coba kita kayak gitu ya.

Seketika itu peringatan Snowden bukan cuma raib dari ingatan, tapi kita bahkan sudah membangun imunitas terhadap peringatan semacam itu. Kontrol massal oleh negara, berbasis teknologi, sudah berevolusi dari momok menjadi cita-cita.

Itu salah satu berkah pandemi, bagi pebisnis yang jualan teknologi berbasis rekognisi. Dari atas sampai bawah, ke level penjual identitas dan pembajak akun medsos. Sekarang pengepul mereka bukan lagi cuma aktif musiman saat butuh rekayasa DPT untuk pilkada saja.

Itu manfaat pandemi yang boleh dibilang tanpa konspirasi. Hanya fenomena standar di mana bajingan-bajingan selalu bisa melihat kesempatan di dalam kesusahan global.

Jadi, terencana atau tidak, korbannya tetap orang kecil. Satu-satunya senjata orang kecil menghadapi penindasan global ini hanya sikap keras kepala. Itulah sebabnya, sudah satu tahun pandemi tapi masih ada orang-orang seperti pak haji tersebut di atas.

Maka saya tidak terlalu minat dengan edukasi kepada masyarakat soal pandemi. Kadang-kadang saya kerjakan, kalau urgen. Tapi lebih sering saya ajak mereka tertawa bersama saja. Kita tahu tapi tidak bisa apa-apa, maka kita ikuti saja semua ini, tapi ya semampunya.

Begitu mulai keterlaluan, misalnya menghambat mencari nafkah, ya terjang saja. Keenakan amat maling di atas, bisa dapat alokasi dana, plus proyek penanganan, cuma dengan modal kasih foto kota yang sunyi senyap sebagai tanda tingginya kinerja pembatasan.

Akhirul kalam, yang tidak percaya berarti PKI.

    Fritz Haryadi
    Latest posts by Fritz Haryadi (see all)