Terima Kasih, Nahdlatul Ulama Scholarship (NUS)

Terima Kasih, Nahdlatul Ulama Scholarship (NUS)
©NU Online

Terpilih menjadi salah satu peserta Nahdlatul Ulama Scholarship (NUS) I dari Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (LAKPESDAM) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) adalah suatu hal yang membahagiakan sekaligus membanggakan bagi saya.

Saya katakan membahagiakan karena selama ini saya yang punya “ambisi” dapat melanjutkan pendidikan, baik di dalam maupun di luar negeri, melalui beasiswa sedikit bisa bernapas lega ketika ada pihak yang mau membantu, dalam arti mendampingi untuk berproses mendapatkan beasiswa itu. Catat ya, sewaktu S2 saya mendapatkan beasiswa, namun ketika  saya beberapa kali mendaftar beasiswa untuk melanjutkan ke jenjang S3 selalu gagal.

Hal ini juga membanggakan saya karena lolos dari ratusan orang yang mengikuti seleksi administrasi. Saya kemudian dapat melanjutkan ke seleksi wawancara yang tidak sampai seratus orang itu. Akhirnya, di akhir terpilih menjadi dua puluh orang yang mendapatkan beasiswa pendampingan ini.

Saya tahu informasi beasiswa ini karena awalnya ketika seorang teman memasang flayer Program NU Scholarship di status WhatsApp. Saya hanya memperhatikan dan melihat poin-poinnya tanpa memberikan komentar apa-apa. Redaksi dari flayer itu begini:

NU Scholarship – LAKPESDAM PBNU, Program NU Scholarship:

Ingin dapat beasiswa kuliah keluar negeri? Sudah punya tujuan kuliah keluar negeri, tapi bingung mencari teman buat menjalani prosesnya? Tenang, Lakpesdam PBNU ada program pendampingan agar bisa lolos beasiswa luar negeri nih dengan NU Scholarship dan mentor-mentor yang ahli di bidangnya. Penasaran? Kepoin saja informasinya ya!

Manfaat Program NU Scholarship: Dapat mentoring pengajuan beasiswa, Mentor berpengalaman, Pemantapan Bahasa Inggris, Coaching Clinic, Teman berproses.

Persyaratan Pendaftaran: Belum mendapatkan LOA dari kampus luar negeri, IPK minimal 3.00, membuat motivation letter, TOEFL minimal 450, menyertakan rekomendasi dari PCNU atau tokoh NU setempat, diutamakan dari rumpun STEM (Scinces, Tehnology, Engineering, and Mathematics) dan tetap membuka peluang bagi jurusan lain.

Baca juga:

Tak lama kemudian, adik sepupuku, Amiq mengirimkan flayer Lakpesdam PBNU itu di Direct Message (DM) Instagram (IG) yang bertanggal 22 Agustus 2023 lalu.

Amiq bilang dengan bercanda, “Kuliah ke luar negeri saja kakak, capek di Indonesia. Tinggal tes Ielts.”

Waktu itu saya hanya menanggapi dengan emotikon smile berkacamata yang menandakan keren, dan menjawab amin.

Saya tiba-tiba mempersiapkan berkas-berkas untuk mendaftar beasiswa. Sebelumnya saya memiliki arsip sertifikat TOEFL yang nilainya lebih dari 450. Ini pernah saya pergunakan seperti saat mendaftar beasiswa-beasiswa sebelumnya karena masih berlaku dan motivation letter yang telah terbiasa saya mempergunakannya.

Namun, saya bingung dengan persyaratan yang lain yaitu menyertakan rekomendasi dari PCNU atau tokoh setempat. Pasalnya, walaupun saya adalah bagian dari keluarga NU tulen saya pribadi bukanlah seorang organisatoris atau pengurus NU secara struktural walau beberapa anggota keluarga dulu bergabung dengan organisasi-organisasi dalam naungan Banom NU seperti; ayah yang dulu sekretaris pengurus wilayah Gerakan Pemuda ANSOR (GP ANSOR), Makassar, Sulawesi Selatan.

Kakak perempuan tertua merupakan Ketua Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) cabang Rappocini Raya, Makassar, Sulawesi Selatan. Dan adik laki-lakiku adalah ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sewaktu kuliah di Unhas Makassar, Sulawesi Selatan.

Saya dan keluarga hanyalah NU secara kultural, orang-orang yang menyelenggarakan tradisi-tradisi Islam tradisional di kampung dalam naungan corak beragama NU dengan menjadi pelayan doa dan berbagi pada peziarah-peziarah kakek tosalama Imam Lapeo yang dikenal sebagai wali, juga pejuang keagamaan dan kebangsaan khususnya di kampung Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Saya kemudian ingat dengan kakak ustad, kakak guru H. Mas’ud Saleh yang masuk dalam jajaran PBNU periode 2022 – 2027. Kakak guru ini akrab disapa dengan kak Ancu. Kami sering bertemu karena beliau sering mengadakan kajian di rumahnya dan sering menjadi pembicara dalam acara pengajian-pengajian di Sulawesi Barat dan biasa berziarah ke makam kakekku.

Halaman selanjutnya >>>
Zuhriah