Teropong Idealita Kemahasiswaan

Teropong Idealita Kemahasiswaan
Ilustrasi: aktual.co

Realitas perguruan tinggi, tempat para mahasiswa bernaung, dunia kemahasiswaan, semakin cenderung bermuara pada pasar. Khususnya di Indonesia, konsep keterampilan intelektual acap kali tertuju pada hal-hal yang materialistis dan politis. Sedikit sekali elite perguruan tingginya yang concern pada intelektual murni.

Kegiatan intelektual yang mereka lakoni sering tak berefek dominan pada laju kebangsaan yang kian menua. Padahal, negara kita terus didominasi oleh elite-elite politik dan korporasi beserta kepentingannya. Tidak heran bila hampir seluruh perguruan tinggi menyiapkan mahasiswanya pada realitas ini.

Tengok saja pergeseran para elite perguruan tinggi, dari seorang intelektual murni yang beralih mencari peruntungan di bidang politik dan kekuasaan (jabatan). Hal ini dikuatkan oleh Agus Suwignyo (Kompas, 2013) yang memandang telah terjadi kekosongan perguruan tinggi.

Ia melihat fenomena tak wajar para elite pendidikan yang harusnya bertujuan murni pada dunia pengetahuan. Banyak para praktisi perguruan tinggi berlomba-lomba menjadi seorang politisi, baik di dalam tata negara Indonesia maupun regional kampus. Capaian produktivitas para elite pendidikan ini hanya berkisar pada jabatan birokrasi kepangkatan struktural, baik kampus maupun pemerintahan. Belum lagi, tuntutan karir administrasi sebagai syarat sertifikasi jabatan.

Pandangan Wahyu Minarno dalam memberikan pengantar di buku Kesaksian: Kisah Perlawanan Mahasiswa UTY (Maman Suratman, 2015) lebih ekstrem lagi. Menurutnya, pendidikan tinggi menjelma sebagai rezim expert yang memihak kepentingan korporasi.

Pada beberapa kasus, misalnya, kampus telah tunduk, bahkan kurikulum di perguruan tinggi pun harus disesuaikan dengan kepentingan kapital. Sebab, Perguruan tinggi saat ini cenderung asyik menikmati dana-dana CSR (Corporate Social Responsibility) lalu mempersiapkan mahasiswanya pada kepentingan kapital melalui kurikulum dan kebijakan lainnya. Dunia kemahasiswaan pun amburadul karenanya.

Membaca Realitas

Menarik diperhatikan apa yang disampaikan Eko Prasetyo (2014) bahwa kampus adalah tempat terbaik untuk melihat bagaimana mahasiswa itu dididik sekaligus dihasut. Realitas di atas cukup memberikan efek semu pada pribadi mahasiswa.

Sedikit sekali mahasiswa mampu mengeksplorasi pikirannya. Ia cenderung terbebani hanya pada prestasi akademik (baca; Indeks prestasi) semata. Sedangkan, esensi materi perkuliahan yang substantif tidak menjadi tolok ukur mahasiswa secara keseluruhan.

Wajar bila gaung gerakan kemahasiswaan hari ini tak sekeras momentum-momentum sebelumnya. Yang dapat kita lihat hanyalah ruang kaderisasi tiap-tiap kelompok gerakan mahasiswa. Berkompetisi memupuk generasi baru di tiap-tiap kampus dengan tujuan parsial kepentingan masing-masing.

Iklim yang demikian terjadi akibat dari kultur akademis yang tak aspiratif, penuh dengan berbagai penundukan. Ditambah lagi, faktor pribadi mahasiswa yang malas, menyukai cara-cara instan-pragmatis, serta pula berbagai peluang lainnya yang memberikan kesempatan bagi aktivis mahasiswa untuk bersikap sama dengan cukong-cukong negara.

Hendaknya, apa yang disampaikan Pramoedya Ananta Toer perlu diresapi kembali bahwa sejarah dunia adalah sejarah orang muda; jika angkatan muda mati rasa, matilah semua bangsa.

Isu krusial ini perlu mendapat koreksi berikut implementasinya yang riil. Harus disadari dengan cermat, problematika kemahasiswaan sekarang setidaknya berada dalam dua ruang gerak.

Aktivis mahasiswa, selain ditempatkan tunggal mengawal arus pinggiran, ia juga berkewajiban menguasai sektor strategis tata negara. Hal ini tidak lain berdasar pada rezim otoriter telah berevolusi dengan metode ekstrak, halus dan tidak dengan cara represif-radikal.

Maka, penguasaan leading sector juga menjadi ruang gerak bagi aktivis mahasiswa. Yang kedua ini memiliki tantangan tersendiri. Selain dibutuhkan softskill yang mapan dan profesionalitas serta bidang keilmuan khusus di masing-masing sektor, dibutuhkan pula tekad dan niat yang hebat agar tak terjebak dan terlena pada kubangan kemapanan yang ditawarkan.

Menjaga Sinergitas

Ruang penegasan jati diri atau dua posisi ini adalah sikap kerja non-elitis terhadap situasi yang sedang berlangsung. Dua posisi yang dipilih merupakan ruang praksis yang menjadi indikator perubahan dengan sebuah dorongan kongkrit, baik di level akar rumput maupun ketatanegaraan.

Cara kerja di atas ditegaskan oleh Ben Agger (1992) sebagaimana diungkapkan Zaini dan Hanif (2000) bahwa titik awal kerja strategis kaum intelektual (mahasiswa) adalah mentransformasikan kehidupan intelektual sebagai investasi sosial, politik, dan kebudayaan. Artinya, dua wilayah kerja gerakan mahasiswa saat ini dituntut beriringan dan berimbang.

Dalam pandangan Ernest Mandell pada dunia kemahasiswaan ini, setiap unsur harus memiliki kemampuan berteori dan beraksi. Hal ini mengingat bahwa perubahan mendasar adalah targetnya.

Menurut Ernest, kesatuan teori dan praktik dalam gerakan mahasiswa diupayakan bertahan dalam jangka panjang. Ia menyebutnya sebagai organisasi revolusioner. Artinya, organisasi revolusioner dalam gagasan Ernest adalah sinergitas mahasiswa dan unsur-unsur progresif lain di masyarakat.

Mahasiswa diharapkan tetap bersinergi sebagai kekuatan pengubah sejarah. Retorika dan praksis kita haruslah selalu memberi inspirasi dan harapan segar sekaligus mandat yang menggerakkan (Eko Prasetyo, 2014).

Jangan sampai diam-diam terjebak kembali menjadi lapisan borjuis yang dididik menjadi elit; menjadi aktivis yang duduk nyaman dalam kekuasaan. Perlu melihat sekali lagi pada siapa dan apa yang diperjuangkan, agar militansi gerakan ini tak lekang oleh waktu menjadi bangkai.

Dialektika pemikiran dan gagasan sebagai dasar rasionalitas atas pengawalan arus pinggiran menjadi landasan utama bekerja. Masih menurut Eko, menjaga sinergitas aktivis mahasiswa tidaklah mudah; secara ideologi, minimal dapat dikerucutkan mendukung ke arah pemenuhan kedaulatan rakyat yang sepenuhnya; secara aksi, harus mampu merebut tahta kekuasaan; dan secara dukungan, hendaknya melibatkan massa seluas-luasnya.

Menata Fragmentasi

Gramsci menyebut keberadaan aktivis mahasiswa dengan intelektual organik. Sebagai intelektual organik, aktivis mahasiswa pastinya bersinggungan dengan beragam ideologi dan paradigma tertentu. Satu keniscayaan bila mahasiswa menelaah berbagai macam teori, paradigma, serta ideologi. Itulah mengapa Soekarno lebih berani lagi menyebut mahasiswa sebagai kaum muda progresif-revolusioner.

Tetapi praksisnya dewasa ini, mengarah pada munculnya berbagai macam masalah. Penerapan ideologi pada ranah praksis tanpa disertai penyikapan yang kritis akan membuat mahasiswa jatuh pada kubangan egoisme dan arogansi intelektual; merasa kelompok ideologisnya yang paling benar. Sehingga, setiap kelompok mencurigai kelompok lainnya.

Tidak heran bila gerakan mahasiswa seakan tertinggal dari gerakan yang lain. Hal ini tak lebih karena terjadi penguatan lembaga-lembaga non-pemerintah di luar mahasiswa pasca dibukanya kran demokrasi di era reformasi.

Tidak adanya platform tunggal yang dapat menjadi titik temu berbagai macam gerakan mahasiswa turut menjadikan gerakan mahasiswa terfragmentasi menjadi kelompok-kelompok kecil. Tugas utamanya saat ini adalah menata fragmentasi gerakan dengan solid; merebut kembali dukungan massa rakyat yang telah lama menjadi dikotomi elit politik. Terlebih pula, kehidupan kampus juga secara perlahan telah berusaha mengucilkan hubungan mahasiswa dengan massa.

Berperan dalam Pola Kerja dan Strategi yang Riil

Jelas sudah bahwa alur dunia kemahasiswaan perlu diubah. Bukan sekadar kerja simbolik, tetapi menjadi satu gerakan yang bermanfaat, setidaknya bagi bangsa dan negara, masyarakat dan bagi diri sendiri.

Sedini mungkin mahasiswa mengambil peran secara perlahan dan pasti di tengah dinamika isu krusial kebangsaan. Pola kerja ini dapat dibangun dengan konsistensi menjaga kekayaan alam nusantara, baik berupa materil maupun tradisi dan adat-istiadat yang berlaku.

Sadar bahwa generasi muda adalah bagian penting kejayaan suatu bangsa yang tak ternilai dan kebangkitannya adalah modal bangsa, maka kita perlu pula konsisten merawat dan menjaga budaya nusantara. Kita mesti menjadi tonggak utama yang mampu mengisi peran ini.

Menjaga dan melestarikan kekayaan budaya nusantara adalah juga bagian dari ijtihad kebangsaan bagi mahasiswa. Posisi mahasiswa yang memiliki masa depan yang panjang harus menjadi landasan kita untuk terus berdiri mengakomodir organisasi mahasiswa daerah dari seluruh nusantara.

Ingat, ciri utama dari kebangkitan generasi muda adalah gagasan dan progresivitasnya. Progresivitas aktivis mahasiswa yang ‘salah satunya’ dilakukan melalu gerakan kebudayaan merupakan upaya mempersiapkan pemimpin masa depan di tingkat lokal, regional, dan nasional.

Semangat ini merupakan bentuk implementasi gagasan. Tidak hanya beretorika, namun turut menyiapkan masa depan melalui mahasiswa dari seluruh daerah yang ada.

___________________

Artikel Terkait:

    Moh Ariyanto Ridwan

    Mahasiswa Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta | Pemimpin Redaksi Majalah Nusantara.
    Moh Ariyanto Ridwan

    Latest posts by Moh Ariyanto Ridwan (see all)