Tetap Merasa Penting Walau Sedikit Lagi Jadi Sampah

Tetap Merasa Penting Walau Sedikit Lagi Jadi Sampah
©Disway

Tetap Merasa Penting Walau Sedikit Lagi Jadi Sampah

Rasanya semua masih samar-samar dan nyaris sama. Walau ada beberapa yang berbeda, tetapi faktanya orang kecil masih saja jadi korban atas rekayasa sosial para penjahat yang telanjur duduk di atas sana.

Kopi yang terus jadi bahan percakapan awal tak pernah jadi kering, apalagi meninggalkan ampas yang sesak untuk diseruput. Senin juga masih menjadi hari yang sama, bangun pagi, pakai sepatu, setelan rapi, hanya untuk ke kedai kopi demi memperlihatkan penampilan seolah sedang kerja di kantor atau magang di perusahaan besar.

Kita terlalu berambisi menipu dunia dengan menekan kesedihan agar yang tampak seolah penuh bahagia. Penderitaan yang panjang selalu disembunyikan lewat gaya dan retorika yang memikat.

Kehidupan terus berlangsung, semua berjalan seperti mesin. Angka-angka di rekening konglomerat terus melonjak, hasil survei politisi bersaing ketat saling mendahului. Tetapi kita masih di sini, dengan segelas kopi penuh tanya akan masa depan yang sepertinya hanya berisikan karma dan bencana.

Saya gunakan kata kita, perihal kondisi seperti ini dialami juga oleh beberapa orang dan tulisan ini mewakili mereka. Sehingga walau kesepian saya tak mesti merasa sendiri. Mengingat zaman sekarang, kesepian rentan menyerang sekalipun kita berada di tengah-tengah keramaian.

Terlepas dari konteks pribadi, saya berusaha menguraikan fakta-fakta menarik dalam kehidupan yang jarang kita renungi walau setiap saat menggerogoti dan merusak pemandangan di depan mata. Yakni, kehidupan yang penuh sandiwara, kepalsuan, dan tak pernah menemukan solusi.

Hidup dengan kesederhanaan memang menjadi impian banyak orang, namun sepertinya hal ini hanya pembenaran saja. Menggunakan kata sederhana untuk menyembunyikan kemiskinan dan ketersiksaan jiwa-raga yang terus melekat dalam diri layaknya sebuah penyakit.

Baca juga:

Saya mengingat saat bangun pagi bersama teman-teman, beranjak dari tempat tidur dengan perut lapar tanpa sarapan, lalu patungan beli rokok batangan, kemudian ke kafe minum kopi yang ujung-ujungnya kembali masuk catatan utang. Sembari berdiskusi dengan kesimpulan, indahnya hidup sederhana. Seolah-olah penderitaan ini telah dibayar lunas dengan kalimat tersebut.

Anehnya, golongan orang-orang seperti kita ini terlalu percaya diri. Jangankan isi dompet, bahkan data internet saja tak pernah tertutupi. Tetapi kemampuan spekulasi dengan gaya mapan yang diperlihatkan membuat lingkungan percaya, bahwa kita adalah generasi sukses yang patut dicontoh.

Asumsi publik ini makin meyakinkan kita terhadap semua yang dilakukan sehingga menimbulkan rasa bangga. Padahal faktanya kita hanyala debu kecil yang sibuk meniru tumpukan-tumpukan tinja berharap kelak bisa jadi gunung. Sehingga kita tak lebih dari kisah yang dituliskan Rusdi Mathari dalam karyanya Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya.

Pertarungan tersulit memang adalah melawan diri sendiri, tetapi perihal memenangkan. Itulah yang masih sekadar misteri. Faktanya kita tak bisa lepas dari realitas lingkungan, kultur sosial membentuk karakter ini jadi sistemik. Dari sinilah orang berlomba-lomba bersandiwara, seakan mereka lepas dan merdeka.

Dalam tatanan dunia yang kapitalistis ini, uang adalah Tuhan kedua. Tempat para penipu menyembah, menghalalkan segala cara demi iman mereka yang bertajuk mapan.

Bagi yang memiliki nilai uang lebih, akan terlihat istimewa dan semua orang akan horamt, sehormat-hormatnya. Apa pun yang dilakukannya akan dianggap benar, termasuk saat melanggengkan kekuasaan dengan cara curang. Semua perbuatannya akan terlihat wajar dan hanya disebut politik.

Sebaliknya, bagi kita yang tidak punya uang, apa pun yang dilakukan akan salah. Bahkan saat kita menyebut firman Tuhan dengan khusyuk dan ikhlas, hanya akan terdengar membual layaknya mengeluarkan kotoran di mulut.

Karena itulah, pada dasarnya semua orang membenci kemiskinan. Tetapi kita tak akan mengakui hal tersebut, sebab kata “miskin” terlalu ekstrem dan kita ambillah kata sederhana sebagai pembelaan untuk menyembunyikan kemiskinan akut yang dialami.

Baca juga:

Hanya itu satu-satunya cara untuk bertahan dari tekanan yang menegangkan. Walau orang tahu, bahwa di dunia ini hanya ada kaya dan miskin. Selebihnya hanya mainan kata-kata demi menenangkan diri yang selalu berusaha lepas dari kenyataan. Parahnya lagi, kita selalu ingin terlibat andil dalam semua konteks, baik dalam ekonomi, sosial, budaya, maupun politik.

Seperti kemarin-kemarin saat pesta demokrasi akan digelar. Kita merasa lemah dan sia-sia jika tidak andil di dalamnya, walau hanya sekadar tim sukses tingkat RT. Di sana kita tampil bangga dan merasa berkontribusi pada pemenangan calon tertentu yang bahkan wajah langsung orang tersebut tak pernah kita lihat.

Demikian saat calon yang kita dukung terpilih, maka kita akan merasa strata sosial naik satu tingkat dari sebelumnya. Padahal bagi calon tersebut, kita bukan apa-apa, kita tak pernah terlintas di benaknya. Tetapi asumsi yang terbangun pada lingkungan akan menguatkan imajinasi kita tentang kehidupan yang ideal, sehingga kreativitas seolah tak ada artinya, tanpa terlebih dahulu bisa berpikir bebas.

Tulisan singkat ini saya ajukan hanya sebagai pertimbangan agar kita semua dapat kembali bercermin pada diri sendiri untuk bertanya: Dalam hidup ini, apa sebenarnya yang kita inginkan?

Burhan SJ