Tetaplah di Sini

Tetaplah di Sini
©Pinterest

Di sudut kota yang dingin sepi
Berkelana di hati yang sepi
Menikmati rintikan hujan
Dan berpikir semuanya telah usai

Perlahan-lahan semua titik hujan semakin besar
Membuat hati tak berdaya
Untuk memaknai semua tetesan hujan
Yang menemani kesepian

Berharap hujan itu selalu hadir
Entah di mana dan kapan pun
Untuk menemani sepi yang mendalam

Suatu Hari di Sudut Kota

Di senja yang masih terik itu ketika angin kering berhembus mengiringi langkahku
Dengan samar yang nampak dari jauh mataku tertuju pada sosokmu
Kamu yang kerab ku coba hilangkan dari semesta pikiran
Namun tak terlelahkan betapa manis senyuman yang sengaja kamu suguhkan

Salah satu hal yang selalu berhasil membuatku menjatuhkan hati tanpa banyak alasan
Bibir pun terkunci mendecak takjub dalam bibir hati pada mahluk ciptaan Tuhan
Aku tak bisa membohongi diriku sendiri bahwa kamulah yang selalu ku rindui
Meski ku coba membunuh bayangmu yang kerap datang dan selalu mengusik sanubari

Aku tak bisa bila tak merindukanmu
Aku pun tak bisa bila tak mensyukuri senyummu di hari itu
Aku sama sekali tak bisa berpura-pura kau bukan apa-apa lagi bagi hatiku
Dan selalu saja seperti itu

Meskipun begitu banyak teriakan dipikiran yang ingin kuutarakan
Berjuta kata tersimpan terpendam dan ingin kusampaikan
Namun nyatanya aku hanya membisu
Hanya terdiam memandangmu hingga punggungmu pun pergi menjauh
Menyisakan deretan rindu yang tertimbun dari waktu ke waktu

Pulang dan Kembali Lagi

Kembali aku mencumbui syahdu
Ternyata keramaian memang tak peduli
Menahan, ia menaifikan sendu
Tak acuh seakan seketika tuli

Kembali aku merayu genggaman
Bermanja-manja pada setiap temaram
Kemarin ia datang membobol zaman
Lembayung menggantung kian tenteram

Kembali aku membelai lirih
Bisiknya merasuk hingga ke relung jiwa
Bila aku pergi menuju liang perih
Sanggupkah kau melepas dan tertawa?

Kembali aku merangkuh lahad
Kembali romansa diri dan bumi
Segala di permukaan terasa jahat
Namun, tak semua sama bagi kami

Permata Hati

Jalan terjal hati yang melintang di depanku
Membuat kaki tak lagi sanggup mengukir jejak
Tak indah lagi mengiringi malamku
Permataku kini sudah sirna

Hilang tak tahu entah kemana arahnya
Namun aku masih menunggu
Bersama hangatnya kopi malam
Yang menemani aku untuk menemukan jejak permataku

Cahaya Ilahi

Tak terasa pagi pun datang
Cahaya mentari bersinar terang
Entah apa yang hinggap diotakku
Malam panjang seperti siang

Ku buka jendela berdebu
Cahaya subuh telah berlalu
Masih saja diam termangu
Meratapi akal yang dungu

Kini telah berganti hari
Tetapi hati masih menanti
Jiwa yang kemarin mati
Akankah hidup kembali?

Pikiranku menerawang
Luasnya angkasa raya
Semua milik-Nya yang Maha Agung
Tuhan…
Tolong angkat masalah membumbung ini
Otakku buntu

Keras jiwaku seperti batu
Tuhan…
Jangan matikan hatiku
Biarkan aku hidup menikmati kedamaian

    Latest posts by Lalik Kongkar (see all)