Tetralogi Buru, Roman Sejarah Indonesia Awal Abad 20

Tetralogi Buru, Roman Sejarah Indonesia Awal Abad 20
Pram & Tetralogi Buru

Tetralogi Buru bukan saja menjadi pengisi sebuah episode berbangsa yang berada di titik persalinan yang pelik dan menentukan. Ia juga mengisi isu kesusastraan yang sangat minim menggarap periode pelik ini.

Cerita, selamanya tentang manusia; kehidupannya, bukan kematiannya. Biarpun yang ditampilkannya itu adalah hewan, raksasa, dewa, atau hantu, tetapi tak ada yang lebih sulit dapat dipahami daripada sang manusia.

Maka itu, kata Pram, jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penghilatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput.

Tetralagi Buru, berisi empat serial: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca, ditulis Pram saat masih mendekam di kamp kerjapaksa tanpa proses pengadilan di Pulau Buru.

Sebelum ditulis, roman-roman ini diceritakan ulang oleh Pram ke teman-temannya di Pulau Buru. Hal ini mengisyaratkan bahwa Pram bukan hanya sekadar menulis dan membubungkan imajinasinya semata, tapi dengan penguasaan pedalaman cerita yang dimaksud—dengan penelusuran dokumen pergerakan awal abad 20.

Pram memang tidak menceritakan sejarah sebagaimana terwarta secara objektif dan dingin yang selama ini diampuh orang-orang sekolahan. Pram juga berbeda dengan penceritaan kesilaman yang lazim sebagaimana terskripta dalam buku-buku pelajaran sekolah yang memberi jarak antara pembaca dan kurun sejarah yang tercerita.

Dengan gayanya sendiri, Pram coba mengajak, bukan saja ingatan, tapi juga pikir, rasa, bahkan diri untuk bertarung dalam pergolakan gerakan nasional awal abad tersebut. Karena itu, dengan gaya kepengarangan dan bahasa Pram yang khas, pembaca diseret untuk mengambil peran di antara tokoh-tokoh yang ditampilkannya.

Hadirnya roman sejarah ini bukan saja menjadi pengisi sebuah episode berbangsa yang berada di titik persalinan yang pelik dan menentukan. Ia juga mengisi isu kesusastraan yang sangat minim menggarap periode pelik ini. Karenanya, roman ini hadir sebagai bacaan alternatif untuk melihat jalan dan gelombang sejarah sejarah lain dan dari sisi yang berbeda.

Roman Tetralogi Buru ini terbagi dalam empat serial. Pembagian ini dapat diartikan sebagai pembelahan pergerakan yang hadir dalam beberapa episode.

*Dari Lentera Dipantara untuk Tetralogi Buru

  • Judul: Tetralogi Buru
  • Penulis: Pramoedya Ananta Toer
  • Penerbit: Lentera Dipantara

___________________

Artikel Terkait:
Mimin NP
Mimin NP 37 Articles
Editor Nalar Politik