Tiga Bungsu Tajir Anak-Anak Presiden

Tiga Bungsu Tajir Anak-Anak Presiden
©Twitter

Bila tiga bungsu ini sebelum bapaknya jadi presiden adalah orang super kaya, publik tak akan banyak bertanya.

Nalar Warga – Pada awal November lalu, Kaesang Pangarep tercatat membeli saham emiten pengolahan makanan beku berbasis udang, yakni PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP) sebanyak 8 persen melalui perusahaannya yaitu GK Hebat senilai Rp92 miliar.

“Duit dari mana?” tanya Lijal Lamli.

Namanya juga anak presiden, masa enggak bisa bikin sulapan?

Sulapan tak selalu berkonotasi dengan hal tak baik, apalagi tuduhan seolah bapaknya telah melakukan korupsi atau bermain curang dengan kebijakan. Jangankan anak presiden, anak lurah saja sering tiba-tiba diajak bisnis oleh tengkulak desa to?

Bahwa di balik ajakan itu ada maksud lain, itulah bisnis. Tapi tidak semua “maksud lain” itu pasti harus dikaitkan dengan kecurangan. Korupsi atau bikin kebijakan khusus bagi anaknya, misalnya. Yang sengaja atau bermaksud seperti itu banyak banget. Itu soal mumpung. Bisa jadi anak presiden itu dipakai hanya untuk branding, misalnya. Dalam bisnis, itu pasti bermakna. Pada Kaesang, siapa yang tahu?

“Iya, tapi masa kemarin dia bukan siapa-siapa tiba-tiba duitnya banyak banget? Jelasing dong dari mana asal duitnya?”

Mau tahu atau pingin tahu?

Bukan hanya Kaesang saja sebagai anak presiden yang terkesan tiba-tiba sangat kaya raya. Lucunya, ketiganya, semua adalah bungsu laki-laki.

Tommy Soeharto dan Ibas Yudhoyono adalah dua bungsu lain yang lebih senior sebagai anak presiden yang juga sangat kaya raya. Bila tiga bungsu ini sebelum bapaknya jadi presiden adalah orang super kaya, publik tak akan banyak bertanya.

Tiga presiden dari tiga bungsu itu sebelum jadi presiden adalah orang biasa-biasa saja. Pak Harto cenderung enggak punya apa-apa sebelum menjadi presiden. Pun Presiden ke-6 yang sejak mudanya berkarier di militer. Dan kita tahu berapa pendapatan bulanan SBY meski berpangkat Jenderal. Presiden ke-7 yakni Joko Widodo, meski beliau pengusaha, dia bukan pengusaha amat sangat kaya.

Bila ketiganya dianggap mencapai titik kaya raya setelah bapaknya menjadi presiden, itu juga tidak salah.

Berapa kekayaan Tommy, tak seorang pun tahu. Bahkan, sangat mungkin Tommy pun lupa berapa tepatnya harta kekayaan miliknya. Yang jelas, utang dia pada BLBI saja, konon, adalah 2,6 triliun rupiah. Itu sudah akan terbayar hanya dengan sitaan negara atas aset-aset tanahnya yang ada di sekitaran Karawang. Duit lainnya, tak ada yang bisa menghitung.

Dimulai pada 1984, saat dia berumur 22 tahun, bungsu putra Soeharto ini mendirikan perusahaan dengan nama Humpuss. Humpuss berkantor pusat di Gedung Granadi Jakarta, sebuah aset properti milik Yayasan Supersemar. Melalui laman resmi perusahaan, usaha ini bergerak di sektor pelayaran, pesawat charter, pertambangan, distribusi migas dan bahan kimia, pertanian, petrochemical, properti, hingga manajemen aset.

Sementara, Tommy Soeharto menjabat sebagai Komisaris Utama. Di mana, Humpuss adalah holding dari PT Humpuss Intermoda Transportasi, PT Humpuss Pengolahan Minyak, PT Humpuss Patragas, PT Humpuss Trading.

Tommy juga merambah ke bisnis perhotelan melalui PT Lor International Hotel, mulai dari kelas budget hingga bintang 5. Terdapat 4 hotel miliknya yang berada di wilayah Solo. Hotel Lorin tersebar di berbagai kota besar di Indonesia, yaitu Lorin Sentul, Lorin Solo, Lorin Belitung, Lorin Kuta, Syariah Hotel Solo, Hotel Amantis Demak, Hotel Noormans Semarang, dan Loji Hotel Solo.

Selain sirkuit Sentul, konon Tommy juga mengembangkan bisnis properti kelas atas. Salah satunya lewat pengembangan proyek golf resort bertajuk Black Rock Golf and Resort di Kawasan Pariwisata Tanjung Tinggi, Kabupaten Belitung.

Rencananya dia juga akan mendirikan township di lahan seluas 715 hektare lewat PT Putra Ciptawahana Sejati (Ranati). Ditargetkan tahun 2033, seluruh proyek ini sudah rampung. Selain itu, isunya Tommy pun juga terlibat dalam pengembangan properti multifungsi Mangkuluhur City di Jalan Gatot Subroto, Jakarta.

Itu hanya beberapa gelintir yang dapat disebut. Yang tak dapat disebut bisa jadi jauh lebih banyak. Maka, siapa yang bisa menghitung kekayaannya?

Dari mana duit untuk memulai bisnis luar biasa besar itu, hanya Tommy dan keluarga yang tahu. Apakah duit itu dia dapat dari bapaknya saat menjabat presiden, ya tanya lagi sama Tommy dan keluarga. Tak hanya makhluk gaib saja yang tak kasat mata, harta pun, bila diniatkan, akan bisa menjadi seperti itu.

“Bagaimana dengan Ibas?”

Baca juga:

Terakhir, Ibas melapor pada 31 Desember 2020. Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara, harta Ibas mencapai Rp36 miliar.

Dari mana sosok berumur 41 tahun itu dapat menabung uang sebanyak itu, tentu ada hitung-hitungannya. Dia bukan pebisnis. Karier kerjanya dimulai pada 2009 saat terpilih sebagai anggota DPR RI. Bila kekayaannya itu terkumpul selama 10 tahun dari hasil kerjanya, bisa disimpulkan bahwa kemampuan dia menabung kurang lebih 300 juta rupiah tiap bulan.

“Loh, emang gaji anggota DPR berapa?”

Loh, kok mikirnya cuma dari gaji sebagai anggota DPR? Kenapa tak mencoba berpikir positif bahwa istrinya pun dari keluarga kaya raya?

Cara berpikir kita sama. Kita sebagai rakyat kebanyakan dengan penghasilan sekitar 5 juta per bulan, dengan 1 istri dan 1 anak, dapat menabung 500 ribu rupiah (10 persen dari gaji) saja itu sudah prestasi luar biasa. Sering kali, justru kita harus pontang-panting dengan ngojek di waktu senggang, misalnya. Jangankan menabung, tak berutang saja sudah bersyukur.

Kita tak bisa berpikir bahwa tabungan 300 juta per bulan yang dikumpulkan Ibas adalah setara 10 persen penghasilannya dan lantas kita curiga dari mana belanja hariannya yang tentunya berjumlah lebih besar lagi. Bisa jadi karena subsidi dari orang tua dan mertuanya yang juga sangat kaya, kan? Jangan menggunakan asas perhitungan terbalik, itu melukai rasa keadilan para pejabat yang juga orang kaya.

Pun pada Kaesang, 92 miliar rupiah duit yang dia pakai untuk membeli saham sangat mengejutkan. Bukan hanya itu, belum lama bahkan dia juga turut membeli klub sepak bola Solo di mana saham yang dimilikinya sebesar 40 persen.

Padahal anak berumur 27 tahun itu juga belum terlalu lama memulai bisnisnya, kan? Dari mana duitnya? Apakah dia benar telah sanggup mengumpulkan dana dari Sang Pisang, Mangkokku, Yang Ayam, TernaKopi, Lets Toasts, Siap Mas, Enigma Cam, Sang Java’s-Truz, Ikan Lele Madang Indonesia, Hom Pim Pa Games demi modal pembelian saham itu?

Ini bisa juga kita minta pembuktian terbaliknya.

Tapi ketika pertanyaannya adalah apakah kita punya hak meminta bukti itu pada Kaesang, itu cerita lain lagi. Kaesang bukan pejabat yang harus terlibat dengan urusan itu. Yang jelas, Kaesang bahkan pernah berkata bahwa hasil bulanan dia sudah jauh lebih besar dibanding penghasilan bapaknya yang presiden itu.

Baca juga:

“Kenapa hanya Tommy Soeharto yang kini diuber-uber negara? Apakah karena bapaknya sudah gak ada dan maka negara jadi berani? Apakah itu bukan sikap diskriminasi?”

Bukankah Tommy diuber negara karena kasus utang piutang? Pada perkara BLBI, Tommy tercatat memiliki utang 2,6 triliun rupiah. Utang memang harus dibayar. Itu gak ada kaitan dengan dia anak siapa.

Di antara tiga putra bungsu para presiden itu, Tommy memang paling tajir melintir. Ibas dan Kaesang, untuk ukuran anak muda Indonesia, mereka memang kaya raya. Apakah itu terjadi karena mereka adalah anak presiden, bisa jadi ya memang begitu. Tapi itu bukan kejahatan.

Bukankah gak ada larangan bagi anak presiden menjadi kaya? Bahwa mereka bertiga berhasil menjadi sangat kaya saat bapaknya menjadi presiden, itu realitas sisi untung menjadi seorang anak presiden. Di mana pun. Mereka akan dilirik banyak pengusaha untuk dijadikan partner. Sekaligus, bukan mustahil akan diminta menjadi publik figur untuk kegiatan sosial, misalnya.

Sepanjang tak ada bukti bahwa bapaknya turut campur dalam bisnis itu dengan menggunakan jabatan presidennya, tak ada alasan kita curiga apalagi marah atas sesuatu yang sifatnya hanya berasal dari rasa curiga. Demi marwah jabatan bapaknya, ada baiknya bila adab dan etika tetap menjadi rujukan. Tak boleh ditinggal.

“Enak dong jadi anak presiden?”

Loh, emang ada yang pernah bilang gak enak?

*Leonita_Lestari

    Warganet