Timur Tengah dengan Segala Dinamikanya

Timur Tengah dengan Segala Dinamikanya
©Dream

Konsekuesi logis, ketika lulus dan bergelar Sarjana Pendidikan Islam di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, kerap kali dihantui oleh sebuah wacana yang dibangun oleh beberapa oknum, bahwa ketika mengambil jurusan Magister dan Doktor adalah sebuah linieritas, agar mudah dalam mendapatkan sebuah pekerjaan yang berupa profesi, baik menjadi guru, kepala sekolah, pengawas pendidikan atau bahkan menjadi dosen hingga bergelar profesor.

Namun saya mencoba untuk memberanikan untuk mengambil gelar Master of Arts (M.A) pada jurusan Interdiscplinary Islamic Studies (Studi Islam Interdisipliner) dengan Konsentrasi Kajian Timur Tengah (Middle East Studies) pada Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Alasan mendasarnya mengapa?

Pada prinsipnya bahwa semua apa pun proses pendidikan yang ditempuh adalah bekerja untuk keabadian, proses transfer pengetahuan dirasa penting. Sesuai dengan amanat Konstitusi Negara melalui pembukaan Undang Undang Dasar 1945 “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”, semoga melalui tulisan ini, menjadi bagian terpenting dalam rangka pencerdasan secara kolektif bagi publik, terutama netizen yang terhormat, dengan berbagai latar belakang profesi.

Dalam hal ini, menjadikan ketertarikan saya dalam rangka mengkaji isu tentang peristiwa yang terjadi di kawasan Timur Tengah, baik dalam aspek politik, sosial, budaya, hubungan internasional, pola pendidikan dan pengajaran keagamaan, resolusi konflik, jurnalisme media dengan spesialis wartawan perang atau damai, gerakan aktivisme Islam, hingga hegemoni Kapitalisme Barat yang berperan besar menjadi aktor dalam merekayasa, baik disengaja maupun tidak.

Meskipun, tidak hanya sekadar mempelajari negara yang ada di kawasan Timur Tengah atau nama lainnya Asia Barat Daya, melainkan juga mengkaji beberapa negara yang ada di Afrika Utara, seperti halnya di Aljazair, Maroko, Libya, hingga Mesir. Dan Juga di kawasan Asia Selatan, seperti halnya di Afghanistan hingga Pakistan.

Timur Tengah yang terdiri dari beberapa negara yang konon kabarnya secara umum ada kesamaan etnis, jika ditarik dari segi historis. Berdasarkan informasi yang diwartakan oleh jurnalis, hingga saat ini menjadi isu yang hangat diperbincangkan secara serius.

Pasalnya, bahwa kawasan Timur Tengah adalah kawasan yang rawan akan kejadian konflik horizontal, baik konflik perbedaan pilihan politik, pertarungan ekonomi Islam maupun Kapitalisme Barat, hingga konflik sektarian seperti halnya perbedaan aliran dalam ilmu kalam. Sehingga lantas apa yang terjadi?

Jika dianalisis secara umum, bahwa konflik yang ada adalah bagian dari politik devide et impera (politik adu domba) yang diwariskan oleh penjajahan imperial atas kepentingannya, seperti halnya peran penjajakan kongsi dagang Hindia Belanda yang mencoba memainkan sebuah peran untuk memarginalisasi pribumi dengan penerapan kerja paksa seperti halnya di Indonesia.

Baca juga:

Kembali pada pengkajian Timur Tengah, menjadi bahan diskursus hingga pada tatanan perdebatan akademik yang amat dinamis, melihat potensi kawasan Timur Tengah yang kaya akan sumber daya alamnya, seperti halnya minyak dan gas, menjadi salah satu produksi dari kawasan yang menjadi penyumbang terbesar dalam perdagangan internasional.

Kaya akan sejarah dan peradaban, namun kerap kali pula informasi yang diberitakan oleh media internasional adalah konflik, konflik, dan konflik. Hingga para Sarjana Barat dan Timur, kerap turut andil melibatkan diri dalam proses penyusunan sebuah kerangka berfikir atau paradigma, dengan proses akademik menghasilkan sebuah rekomendasi bagi peradaban.

Hingga akhir akhir ini, diinformasikan soal tertembaknya reporter kawakan berdarah Palestina – Amerika, Shireen Abu Akleh, tewas saat meliput sebuah peristiwa bentrokan di Tepi Barat, dan diduga peristiwa penembakan tersebut diduga oleh militer Israel yang bertugas. Sehingga apa yang terjadi?

Pemuda Palestina mengabadikan Abu Akleh, sebagai sosok jurnalis yang inspiratif, karena keberaniaannya dan profesionalitasnya. ahir di Jerusalem timur yang dicaplok Israel dan dari keluarga Kristen Palestina. Ibunya lahir di Jerusalem Barat, sebelum pembentukan Israel pada 1948. Ayahnya berasal dari Betlehem di Tepi Barat yang diduduki.

Tentunya, kawasan di Timur Tengah, dalam pandangan kaum orientalis (Persepsi Barat terhadap Timur) selalu identik dengan streotip negatif, baik dikenal sebagai kawasan yang a-humanis, reaksioner, hingga mengedepankan sisi emosional daripada rasional.

Oleh karena itu, tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh kaum orientalis, harus dijawab oleh segala macam problematika bagi orang Timur, atau dikenal sebagai kaum oksidental (persepsi orang Timur terhadap orang Barat) bahwa tuduhan tuduhan tersebut merupakan tidaklah benar, karena dalam hal ini, kaum orientalis belum sepenuhnya mengkaji secara komprehensif holistik, sebagaimana pandangan dari Edward W. Said dalam bukunya berjudul Orientalism.

    Aji Cahyono