Tindik dalam Sejarah Subordinasi Perempuan

Tindik dalam Sejarah Subordinasi Perempuan
©Medium

Melalui tulisan bertajuk Mengapa Telinga Birdy Tidak Kami Tindik, Naufil Istikhari (sang ayah) menjelaskan sejumlah alasan. Ia memaparkan posisi tindik dalam sejarah subordinasi perempuan, bagaimana hukumnya di mata para fukaha, hingga urgensi atau utilitas inherennya bagi anak manusia.

Penulis Cantrik Pustaka itu awalnya dibombardir kekepoan dari saudara, kerabat, teman, hingga tetangga tentang kenapa telinga anaknya, Birdy, tidak ditindik. Meski terus memakai alasan “biarkan Birdy memutuskan sendiri kelak akan ia tindik atau tidak”, jawaban seperti itu tetap tidak mempan, dan baru berhasil meredakannya dengan pengalihan isu sambil menguncinya dengan iming-iming: kapan-kapan akan saya jelaskan alasannya.

Di lain kesempatan, Naufil bahkan terkadang menjawab tidak sesuai templat. Alih-alih menyelesaikan masalah, ia malah mengajukan pertanyaan balik: memangnya kenapa kalau tidak ditindik?

Nahas bagi Naufil, jawaban seperti “nanti dikira laki-laki” sungguh di luar dugaan. Ia sadar hidup di abad ke-21, bukan pada masa Yunani Kuno periode pra-Sokratik ketika Aristoteles belum lahir. Bahwa orang-orang Yunani Kuno saja tahu cara membedakan jenis kelamin sesuai klasifikasi anatomis yang dikerjakan Aristoteles.

“Jujur, kecuali hanya candaan, saya kesulitan mencerna jawaban semacam itu. Saya, meski tidak belajar biologi secara formal, tahu persis bahwa penanda jenis kelamin bukanlah benda asing yang  dilekatkan kepada seseorang, melainkan sudah tersedia secara biologis pada tubuhnya.”

Akar Sejarah Subordinasi Perempuan

Sekitar 2013, Naufil Istikhari mengaku tidak sengaja menemukan buku Women and Gender in Islam: Historical Roots of a Modern Debate (1992) karya Leila Ahmed, intelektual Mesir yang cukup disegani di Barat. Dia membaca buku itu dan menganggapnya bagus karena berhasil melacak akar sejarah subordinasi perempuan dari peradaban-peradaban besar di kawasan Bulan Sabit Subur jauh sebelum Islam lahir di jazirah Arab, sembari juga mengupas bagian-bagian penting persinggungan tradisi panjang itu dengan ajaran Islam.

“Dari buku inilah pertama kali saya mendapat informasi kecil tentang posisi tindik dalam sejarah subordinasi perempuan.”

Di kawasan Mesopotamia, lanjut Naufil, bangsa Assyria yang menempati hulu sungai Tigris, pada 1.200 SM, tercatat mengeluarkan undang-undang yang membatasi kebebasan perempuan dengan mengangkat dominasi laki-laki ke dalam relasi sosial yang timpang di antara mereka. Seorang suami boleh menghukum istrinya dengan memelintir telinganya, atau, jika diperlukan, melukainya dengan tindikan (sesuai undang-undang nomor 185), tetapi tidak bisa sebaliknya.

Tindikan, dengan demikian, merupakan akibat sekaligus penanda bagi perempuan-perempuan yang dianggap tidak benar, yang pada praktiknya sering kali berasal dari vonis kacamata kuda laki-laki daripada kenyataan objektif yang dilakukan perempuan itu sendiri.

Naufil juga memaparkan catatan Marco DeMello dalam Encyclopedia of Body Adornment (2007). Secara umum, jelasnya, tindik telinga (ear piercing) berfungsi sebagai tempat memasang perhiasan di berbagai budaya di dunia, meski tujuan-tujuan subordinatif hingga mistis juga menonjol pada kebudayaan tertentu.

“Setidaknya, 6.000 tahun yang lalu, tindik telinga untuk tujuan perhiasan sudah dapat dijumpai di kawasan Timur Tengah. Tampaknya di Eropa juga demikian. Setidaknya itu yang ditulis Don Rauf dalam The Culture of Body Piercing (2019).”

Otzi (nama yang diberikan kepada mumi berusia sekitar 5.000 tahun yang ditemukan di perbatasan Italia-Austria), detail Naufil, diketahui menindik telinganya untuk memasang perhiasan. Di kawasan Mediterania, arkeolog menemukan sepasang anting yang berusia lebih dari 2.000 tahun, yang dengan kuat membuktikan bahwa tindik telinga sudah menjadi tradisi yang menonjol kala itu.

Di Philadelphia, jelas Naufil lebih lanjut, Museum Pen mempunyai koleksi patung perempuan berusia 4.000 tahun yang berasal dari Persia. Kedua telinganya bertindik dan penuh dengan perhiasan.

“Data-data tersebut barangkali terkesan arkais. Saya paham, analisis sosiohistoris bukanlah jawaban yang mereka butuhkan. Pertanyaan kenapa tidak ditindik adalah bentuk eufemisme dari dapatkah sikap kami, sebagai orang tuanya, dibenarkan secara fikih?

Naufil pun menegaskan alasan mendasar dia dan istrinya tidak menindik telinga si buah hati. Bukan terutama diilhami oleh fikih, melainkan karena alasan lain meski secara ontologis memiliki irisan-irisan yang sangat dekat dengannya.

“Saya akan menunjukkannya. Namun, data sejarah tersebut sesungguhnya merupakan fondasi paling awal yang membentuk alasan-alasan saya selanjutnya.”

Hukum Menindik Telinga

Meski praktik menindik telinga untuk perhiasan merupakan alasan paling populer di banyak kebudayaan dunia, Naufil memandang bahwa alasan-alasan lain yang bersifat lokal tetap tidak bisa diabaikan.

“Praktik tindik yang disebut Leila Ahmed pada masyarakat Assyria itu, akar-akarnya, dapat ditelusuri pada tradisi Babilonia yang lebih tua, atau bahkan ke awal milenium kedua sebelum masehi ketika Nabi Ibrahim hidup sekitar 1.900 SM, berdasarkan bagan kronologis yang dibuat Robert C. Solomon dan Kathleen M. Higgins dalam The Big Questions: A Short Introduction to Philosophy (2010).”

Dalam hukum Islam, kisah Naufil, masa-masa Nabi Ibrahim menjadi tonggak penting bagi tradisi tindik. Ada cerita unik yang cukup populer di kalangan fukaha tentang asal-usul tindik telinga yang diasosiasikan kepada keluarga Ibrahim, meskipun secara historis anggapan ini menurutnya jelas keliru.

“Konon Siti Sarah, istri tua Ibrahim, pernah marah besar kepada Siti Hajar, madunya, dan bersumpah akan memotong hidung dan telinganya agar tidak menarik lagi di mata suaminya (dalam beberapa sumber disebutkan, kemarahan Siti Sarah disebabkan oleh perasaan cemburu kepada Siti Hajar).”

Baca juga:

Nabi Ibrahim khawatir Siti Sarah benar-benar melakukannya, tetapi juga tidak mau ibu Nabi Ishak itu ingkar terhadap sumpahnya.

“Biar bagaimanapun, sumpah adalah sumpah, ia harus ditunaikan, hingga akhirnya dipilihlah jalan tengah: Siti Sarah diizinkan menindik—bukan memotong yang mengakibatkan cacat—telinga dan hidung Siti Sarah.”

Kisah menarik itu, meski tidak lengkap, disebutkan Naufil tertera dalam kitab Ithafu al-Sadah al-Muttaqin karya Muhammad Murtadha az-Zabidy (1732-1790) yang mensyarahi Ihya’ Ulum al-Din karya Imam Al-Ghazali. Komentar Ihya’ kelahiran India itu menyebut sekilas tentang muasal tindik persis untuk memberi penjelasan terhadap pandangan Al-Ghazali yang negatif terhadap praktik tersebut.

“Bagi sang hujjatul Islam, tidak ada keringanan di dalam hukum praktik menindik telinga bayi perempuan karena itu mengandung unsur melukai dan menyakiti. Perbuatan melukai dan menyakiti anggota tubuh memang dilarang di dalam Islam, kecuali ada kebutuhan yang bersifat urgen atau ada dalil kuat yang berkata sebaliknya, semisal khitan bagi laki-laki.”

Oleh karena tidak ada dalil memerintahkan tindik, Naufil menegaskan pendapat Al-Ghazali: haram jika sengaja melakukannya dan siapa pun wajib mencegahnya terjadi.

“Sekilas tampak aneh memang membayangkan masyarakat, paling tidak di lingkungan saya, yang menjunjung tinggi figur otoritatif semacam Al-Ghazali justru mengabaikan pandangan tegas beliau tentang tindik ini. Namun sebenarnya saya dapat mengerti bahwa otoritas Al-Ghazali menempati posisi atas hanya dalam tasawuf, bukan fikih.”

Untuk hal fikih, sebagaimana dijelaskan dalam Qanun Asasy pendirian NU oleh KH Hasyim Asy’ari, otoritasnya bagi Naufil tetap mengacu kepada imam empat mazhab, meski pada praktiknya mayoritas Nahdliyin mengikuti Imam Syafi’i saja.

“Al-Ghazali tidaklah sendirian. Pemuka mazhab Syafi’i lainnya, Imam Khatib as-Syarbini (1509-1570) dalam kitabnya yang terkenal, Mughni al-Muhtaj—syarah kitab Minhaj al-Thalibin-nya Imam Nawawi (1233-1277)—juga tidak membolehkan menindik telinga untuk perhiasan.”

Sama seperti Al-Ghazali, Imam Khatib as-Syarbini beralasan tindik itu perbuatan menyakiti tubuh yang tidak ada manfaatnya (li-annahu ta’dzib bila faidah) secara syariat. Bahkan, jika cukup syarat, pelakunya dapat dikenakan kisas.

“Itu merupakan pendapat sebagian saja ulama fikih mazhab Syafi’i. Sebagian yang lain membolehkan; sama seperti mazhab Hanafi yang juga membolehkan karena Nabi Muhammad tidak melarangnya, meski juga tidak menganjurkannya.”

Sementara dari mazhab Hanbali, lanjut Naufil, ada pendapat Ibn Qayyim al-Jauziyyah (1292-1350). Murid Ibn Taimiyyah itu, dalam Tuhfah al-Maudud li Ahkam al-Maulud, mengatakan Imam Ahmad bin Hanbal menghukumi boleh (mubah) perbuatan menindik telinga bagi perempuan dewasa untuk perhiasan, tetapi makruh bagi bayi dan/atau anak-anak.

Alasannya, seperti yang dipertegas Ibn Qayyim al-Jauziyyah kemudian, cukup sederhana—bayi atau anak-anak tidak memiliki kebutuhan untuk berhias diri. Bahkan, menurut ulama kelahiran Damaskus ini, tindik telinga pada bayi atau anak-anak tidak ada manfaatnya sama sekali, baik dari perspektif agama maupun medis (la li-mashlahatin diniyyin wa la dunyawiyyatin).

“Dari perbedaan pendapat fukaha lintas mazhab di atas, kita jadi tahu hukum menindik telinga terbagi tiga: haram, mubah, atau makruh. Setahu saya, tidak ada yang menganjurkannya.”

Oleh karena itu, simpul Naufil kemudian, jika orang mau memahami sedikit saja aspek hukum dan sejarah, pertanyaan “kenapa tidak ditindik” akan menjadi sangat aneh. Justru jauh lebih masuk akal untuk bertanya sebaliknya—kepada dirinya sendiri—mengapa ia, atau mereka, harus melakukan praktik tindik, alih-alih menghindarinya.

“Barangkali mereka tidak pernah benar-benar memikirkan jawabannya, kecuali dengan cara yang teramat sederhana: untuk perhiasan.”

Utilitas Inheren

Pada akhirnya, Naufil Istikhari mempertanyakan utilitas inheren yang paling masuk akal mengapa bayi, yang bahkan belum mengenal siapa dirinya, sudah diharuskan berhias (untuk orang lain). Kecuali karena bias konstruksi sosial orang tuanya tentang perhiasan, ia melihat nyaris tidak ada alasan intrinsik yang dibutuhkan oleh seorang bayi.

“Bayi juga tidak mengerti apa itu baju, celana, selimut, atau kasur yang empuk. Tetapi dengan menyediakan itu semua kepada bayi, tubuhnya menjadi hangat dan tidurnya menjadi nyaman. Ada utilitas inheren di sini yang, meski tidak dipahami oleh bayi, sangat bermanfaat untuk kelangsungan hidupnya. Kalau tindik, anting?”

Dari situ Naufil menilai tidak adil apabila orang tua membenani bayinya dengan konstruksi sosial yang bukan kebutuhan intrinsiknya. Bahkan juga bukan bernilai kewajiban agama. Buktinya, praktik tindik sudah berlangsung ribuan tahun sebelum kelahiran Islam, dan terus dilestarikan hingga sekarang dengan bobot konstruksi sosial yang berbeda-beda.

“Lagi pula, secara pribadi, entah kenapa, saya tidak merasa istri saya lebih cantik ketika beranting. Bagi saya sama saja. Dengan atau tanpa anting, kecantikannya stabil. Artinya, bagi saya pribadi, tidak ada nilai utilitarian dari tindik telinga meski bagi banyak orang dianggap memiliki nilai estetis sebagai perhiasan.”

Itulah alasan mendasar Naufil. Sumber ilhamnya, terutama sekali, datang dari analisis sosiohistoris yang dikemukakan Leila Ahmed. Ia menilai argumennya sangat relevan dengan hukum fikih, misalnya tentang Imam Hanbali yang menghukumi makruh karena bayi tidak membutuhkan perhiasan; belum mengerti tentang konsep perhiasan; baru akan mengerti fungsi dan kedudukan perhiasan ketika kelak sudah dewasa. Maka kenapa hukumnya berubah menjadi boleh bagi perempuan dewasa yang menindik telinganya untuk berhias.

“Saya lega karena apa yang dinarasikan fikih dalam konteks ini sejalan dengan teori perkembangan kognitif manusia dari psikolog kenamaan Swiss, Jean Piaget (1896-1980). Minimal saya tidak mengalami disonansi kognitif karena konstruksi pengetahuan saya yang sekarang tidak perlu didamaikan dengan konstruksi pengetahuan saya yang dulu.”

Baca juga:

Terkait penelitian Piaget, seperti argumen Imam Hanbali, hasilnya juga menunjukkan bahwa bayi belum bisa mengerti konsep abstrak. Mereka akan benar-benar mengerti konsep abstrak saat mencapai fase yang Piaget sebut sebagai “operasional formal”, kira-kira usia remaja awal dan seterusnya. Pada masa inilah mereka mulai belajar mengambil keputusan secara mandiri dan paham terhadap konsekuensi.

“Saya ingin membiarkan Birdy tumbuh baik dalam situasi yang seperti ini. Kami ingin menghargai hak asasinya sebagai bayi, sebagai manusia, karena itu kami tidak menindiknya.”

Di samping itu, Naufil mengaku bukan tipikal orang yang mudah patuh pada tradisi tanpa mempertanyakannya secara kritis. Meski sudah lama memikirkannya, tradisi tindik baru dibicarakan lugas kepada istrinya menjelang kelahiran sang anak.

“Awalnya ia ragu dan sempat mempertanyakan niatan tersebut, tetapi akhirnya saya berhasil meyakinkan dengan sebuah alegori.”

Sebagai ibu yang dekat dengan tradisi pesantren, kamu berharap Birdy berjilbab atau tidak?

Iya dong. Pasti.

Kalau dia kelak berjilbab, sesuai harapanmu, otomatis antingnya ketutupan. Tidak terlihat lagi. Lalu di mana fungsi berhiasnya? Bukankah yang disebut perhiasan itu memang untuk ditampakkan?

Tapi di Alquran kan ada ayat “wala tubdina zinatahun-na illa ma zhahara minha”. Artinya, ada dong perhiasan yang tidak untuk diperlihatkan?

Ya benar. Tapi kan ada pengecualiannya. Di dalam kitab-kitab tafsir dijelaskan bahwa larangan menampakkan perhiasan seperti kalung dan anting itu berlaku bagi selain mahram. Kalau sama mahramnya, ya boleh. Dan memang itu fungsi perhiasan, untuk ditampakkan.

Ya kan bisa Birdy ditindik untuk itu?

Memang bisa. Tapi aku gak mau. Ayat itu lebih berupa tuntunan etis, bukan perintah memakai perhiasan, apalagi perintah bertindik. Lagi pula, untuk apa Birdy memakai perhiasan?

Biar sama kayak yang lain.

Mengapa harus sama?

Emmm…atau seperti kata orang, untuk menyenangkan suaminya kelak.

Ngawur. Bayi laki-laki tidak pernah dibebani tugas menyenangkan calon istri sejak kecil, kok bayi perempuan sudah diproyeksikan untuk menyenangkan anak orang dari bayi!

Iya juga sih.

Makanya…gak ada relevansinya kan menindik Birdy?

Ya benar. Aku setuju. Eh, tapi kalau di saat dewasa dia mau bertindik?

Biarin aja. Tidak masalah. Asal keputusan sadar dia.

Bukan…maksudku, apakah tidak kesakitan?

Memangnya bayi tidak merasakan sakit? Lagian kita kan bukan penduduk Athena abad ke-3 SM? Kedokteran sekarang sudah canggih. Ada anestesi.

Oke. Sekarang aku sudah yakin 100%! Birdy gak usah ditindik. [ni]