Tradisi “Baca-Baca” Mandar

Foto: Kompa Dansa Mandar

“Baca-baca” adalah istilah orang Mandar untuk “syukuran”. Dari dulu sampai sekarang, budaya ini terus eksis. Agaknya, tanpa “baca-baca”, suatu niat atau capaian berkurang bahkan hilang nilai keluhurannya.

Tiap tradisi dalam suatu masyarakat pasti punya pendasaran logisnya secara arif (bijaksana). Akan tetapi, setelah menelisik jauh sampai ke sana, banyak hal timpang di dalam eksistensi pendasaran logisnya.

Sebagai contoh, budaya “baca-baca” dalam tradisi adat orang Mandar. Budaya ini, bahkan secara umum, nyatanya punya kesan yang jauh irrasional (tidak logis/tidak masuk akal) dalam pendasarannya.

Mengapa demikian? Sebab banyak tradisi, termasuk budaya “baca-baca” ini, dibentuk, dibangun dan dipertahankan hanya dalam kerangka kepercayaan atau keyakinan. Hampir semua tidak punya akar atau tidak mampu diberi alasan yang memadai.

Adalah beban moral bagi mereka yang telah “tercerahkan”, dalam hal ini mahasiswa daerah yang menempuh pendidikan, baik di daerah sendiri maupun di luar. Paling tidak, memberi kontribusi di wilayah penyadaran. Mendidik yang kurang terdidik, mengajari yang kurang terpelajar, dengan tetap menghindar dari rasa atau sikap menggurui.

Ya, “baca-baca” itu penting sebagai satu rasa syukur atas nikmat yang telah dicapai. Tetapi memandangnya sebagai satu kewajiban mutlak (absolut), maka nilainya sebagai kewajiban akan tereduksi.

Bukankah sesuatu itu hanya bernilai luhur jika dilakukan secara sadar? Dalam budaya “baca-baca”, hampir tak ada yang lahir dari kesadaran, dalam arti kesadaran kritis, bukan naif apalagi mistis.

Mencapai Kesadaran Kritis

Bedanya yang terpelajar dengan yang tidak/kurang sangat mudah kita temui. Dalam merespons soal “baca-baca”, misalnya, umumnya yang tidak terpelajar akan berkata: “Baca-baca adalah wajib sebagai bentuk rasa syukur seorang hamba pada penciptanya/tuhannya.”

Benarkah? Apakah tuhan benar-benar menghendaki itu? Apa dasarnya? Mana buktinya?

Adapun pada yang kurang terpelajar, ketika merespons budaya “baca-baca” ini, umumnya mereka akan berseru: “Sudahlah! Tak usah dipersoalkan! Lakukan saja tanpa debat!” Enak sekali, bukan?

Dan tentu lain halnya pada yang pertama atau yang kedua, orang terpelajar senantiasa akan menarik semua hal, termasuk budaya “baca-baca” ke dalam konteks yang dinamis.

Alih-alih meyakini atau menerima begitu saja, yang terpelajar selalu akan menilainya dengan memberi kritik atasnya, lalu memberinya pendasaran logis hingga ditetapkan sebagai satu kebenaran.

Meski demikian, kehati-hatian dalam berpikir dan mengambil kesimpulan pun senantiasa menjadi perhatian/pertimbangan mereka. Bahkan hasil pengamatan dalam bentuk kesimpulannya pun selalu ditempatkan dalam ruang relativitas.

Olehnya, sebagai orang yang juga hendak menjadi terpelajar, saya selalu ingin menyeru untuk selalu berpikir kritis dalam hal apa pun. Bahkan pada keyakinan, apalagi sekadar budaya seperti “baca-baca”, tak patut untuk kita terima begitu saja sebagai satu warisan dari para leluhur. Bahwa semua harus melalui proses yang dinamis, termasuk merekonstruksinya sampai ke akar.