Tugas Manusia adalah Memanusiakan Manusia

Tugas Manusia adalah Memanusiakan Manusia
©Serambi Indonesia

Demikian ujar Multatuli. Bahwa tugas manusia yang hidup itu adalah untuk memanusiakan manusia!

Melihat Indonesia kini, kita telah jauh dari semangat awal kita berdiri dan mendeklarasikan diri sebagai sebuah bangsa yang berdaulat dan menjunjung tinggi kemanusiaan. Kita lebih banyak sibuk membenci daripada mencintai. Tak ada lagi ruang untuk berbagi cinta, yang ada hanya saling menebarkan benci.

Lantas apa yang kita harapkan dari itu semua? Buat apalagi kita mendaulat diri sebagai sebuah bangsa beradab jika yang ada hanya kebencian? Bukankah bangsa ini merdeka karena cinta yang sama kepada kemanusiaan tanpa memandang suku, agama, ras, dan warna kulitnya?

Kita melihat realitas sosial masyarakat kita hari ini sungguh jauh dari semangat toleransi, apalagi memanusiakan manusia. Sikap saling membenci dan menghakimi hanya karena perbedaan keyakinan atau pendapat lebih banyak kita saksikan.

Memang tak ada yang salah dari membela keyakinan/kepercayaan. Tapi pantaskah kita melakukannya dengan cara mencela keyakinan/kepercayaan orang lain sampai membenci dan menghakimi keyakinan orang yang tak sepaham dengan kita?

Rasa-rasanya semua ajaran keyakinan dan agama tak mengajarkan itu. Karena dasar moralitaslah semua agama dan keyakinan tersebar.

Semua agama dan keyakinan mendasarkan ajarannya kepada moralitas, dan alasan moralitaslah semua perbuatan manusia berlaku. Seperti perkataan Mahatma Gandhi dalam buku Semua Manusia Bersaudara, moralitas adalah dasar dari segalanya, dan kebenaran adalah hakikat dari moralitas.[1]

Maka selayaknyalah kita menjunjung tinggi kemanusiaan dengan menerapkan nilai moralitas dalam bertingkah laku di masyarakat. Tentunya mesti mulai dari dalam pikiran, seperti perkataan bung Pramoedya Ananta Toer dalam tetralogi buru, Bumi Manusia, “Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.”[2] Dasar moralitas ini adalah menentang segala bentuk ketidakadilan, kekerasan, dan  segala bentuk rasisme, kejahatan kepada manusia dan kemanusiaan.

Baca juga:

Lantas ke mana rasa moralitas kita melihat begitu banyaknya kasus pelanggaran kemanusiaan yang terjadi di sekitar kita?

Hampir setiap hari kita menemukan pelecehan bahkan kekerasan kemanusiaan. Baik itu berupa rasisme, intimidasi, bahkan kekerasan fisik, semua begitu sering jadi tontonan di tengah-tengah kita tanpa ada rasa berbelas kasih sekalipun. Bahkan lebih banyak tak peduli. Dan yang paling miris malah menyalahkan para korban.

Inilah ironi yang terjadi di tengah-tengah masyarakat kita yang ‘beradab’ dan menjunjung tinggi ‘moralitas’ yang entah ‘moralitas’ itu benar-benar ajaran kepercayaan/agama mereka.

Jika benar kita merasa manusia beradab dan menjunjung tinggi moralitas, semestinya kita akan mengecam keras segala tindak kekerasan dan kejahatan terhadap kemanusiaan, apa pun bentuknya! Karena kejahatan terhadap kemanusiaan adalah kejahatan kepada semua manusia atau yang merasa masih manusia.

Manusia dan kemanusiaan adalah hal yang sangat penting untuk kita pahami makna dan peranannya dalam kehidupan. Manusia belum tentu bisa jadi manusia ‘seutuhnya’ tanpa memahami kemanusiaannya. Kemanusiaanlah yang memahamkan kita tentang moralitas, dan moralitaslah yang jadi dasar kita hidup dalam bermasyarakat.

Mari kita mulai kembali jadi saudara dalam kemanusiaan jika tak bisa dalam satu keyakinan/agama. Bukankah setiap keyakinan/agama yang kita anut mengajarkan kita cinta kepada setiap makhluk di muka bumi? Bukankah kita manusia sama-sama tercipta karena cinta Sang Pencipta dan kasih Tuhan? Lantas kenapa kita tak melakukan hal yang sama kepada sesama kita, makhluk yang Ia ciptakan?

Manusia adalah dia yang menebarkan cinta kasih kepada sesamanya
Menolak ketidakadilan
Melawan segala bentuk kezaliman
Melawan setiap tindak kejahatan
Memanusiakan manusia

[1] Mahatma Gandhi, Semua Manusia Bersaudara, Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta, 2016, hlm.9.

[2] Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia, Lentera Dipantara, Jakarta Timur, 2018, hlm.77.

Latest posts by Muh Ihsan Tahir (see all)