Tungkripit dan Cita Rasa Kopi yang Khas

Tungkripit dan Cita Rasa Kopi yang Khas
©Kurio

Warno dan istrinya, Supenni, duduk di teras luar rumah memandangi tukang sayur yang semenjak dua tahun lalu harus melunasi utangnya. Sebab dia pernah menabrakkan gerobaknya ke sebuah taman milik bupati yang ada di tengah kota. “Kasian tuh, dek, tukang sayur yang menjadi tungkripit utang,” kata Warno.

“Ya, namanya juga nasib, mas. Tidak ada manusia yang bisa nolak toh?” ucap Supenni yang konon katanya termasuk keturunan bangsawan raja Jawa.

“Pikirmu itu, dek, kayak telur setengah masak,” sergahnya.

“Hidup itu diambil hikmahnya aja, mas. Jangan dipikir panjang kayak aspal jalanan. Entar, kalo mas jatuh ke aspal, bisa barabe urusannya kayak tukang sayur itu,” kata Supenni menasihati.

Kopi seduh yang dibuat Supenni pagi itu terasa tak senikmat kopi pagi sebelumnya. Katanya, ada yang beda dengan kopi buatan istri tercintanya itu. Lama dia menjalani hidup berdua, baru satu tahun anak pertamanya lahir, sekarang anaknya itu masih tidur di kasur kecilnya yang Warno beli dari bekas tetangga. Dia beli karena masih bagus walaupun bekas.

“Dek, kopi buatanmu kok ada yang beda dengan cita rasa sesungguhnya?” tanya Warno.

‘Iya, namanya juga tungkripit cita rasa kopi, mas,” jawab Supenni santai.

“Ya wes, besok cita rasanya balik jadi kripittung biar balik juga rasa kopi buatanmu,” suruhnya.

“Oke, mas, tapi hatimu jangan dibalik kayak kopiku ini, mas!” Supenni balik menyuruh.

“Iya, dek, tenang, hatiku ini cuma milikmu doang,” ucap Warno dengan senyum pesonanya yang dulu pernah membuat Supenni tergila-gila.

Ceritanya, dulu Supenni melihat Warno di sebuah pemeran. Warno yang masih bujangan kala itu menghadiri pameran bersama dengan beberapa temannya. Satu pandangan pertama, Supenni hanya terpaku melihat senyum Warno. Hingga pandangan kedua, hati Supenni juga terpaku pada sosok Warno yang hanya anak juragan singkong.

Entah bagaimana kemudian mereka bisa menikah. Tapi kabarnya mereka menikah karena Supenni adalah keturunan raja, jadi gampag saja melamar anak juragan singkong. Akhirnya, berkat keturunan ningratnya, bapak Supenni dengan gampang meminang Warno hingga mereka berdua menikah di pendopo alun-alun kota.

“Pagi, den, neng,” sapa tukang sayur untuk mereka. Tukang sayur itu sebenarnya juga tahu bahwa Supenni adalah keturunan ningrat. Makanya tukang sayur itu menyapa mereka berdua dengan sapaan khas.

“Pakle, ada kopi yang mau kau jual?” tanya Supenni.

“Ada, neng. Mau beli?” jawab tukang sayur itu sambil bertingkah ramah.

“Iya, beli setengah kilo ya, Pakle.” Supenni masuk ke dalam rumah untuk membeli kopi yang dia tanyakan tadi. Keluar dari dalam rumah, Supenni membawa beberapa lembar rupiah.

“Pak, ini uangnya,” sambil menjulurkan tiga lembar uang

“Makasih ya, neng.”

Warno tahu maksud istrinya itu. Dia sebenarnya biasa membeli kopi di toko langganannya. Akan tetapi, Supenni ingin membantu tukang sayur itu untuk melunaskan utangnya. Istrinya itu memang baik kalau dalam urusan bermasyarakat. Beda dengan istri tetangganya yang menjadi anggota menteri tapi malah tidak disukai oleh masyarakat. Entah karena beberapa hal yang mungkin mengecewakan.

“Mas tahu nggak kalo negara kita ini sudah amburadul sistem pendidikannya? Coba Mas tengok banyak sekali masalah-masalah pelajar yang meresahkan masyarakat, seperti halnya tawuran antarpelajar. Mereka itu mati-matian bertarung, padahal mereka tahu bahwa mereka disuruh belajar bukan disuruh tawuran,” Supenni beropini.

“Tapi mereka bagus, dek. Mereka itu membela temannya atau apalah yang dihina oleh lawannya,” Warno juga beropini.

“Ah, mas, ini. Tapi setidaknya toh tidak pake tawuran.”

“Loh, malahan bagus. Mereka itu pantas dijadikan tentara pembela Indonesia,” Warno tertawa.

“Yo wes, terserah, mas.” Supenni masuk ke dalam rumah. Mereka tinggal di rumah pemberian bapak Supenni. Rumahnya khas dengan rumah-rumah keraton Jawa. Mereka hidup bahagia walaupun Warno tingkahnya agak menyebalkan tapi berkat senyum manisnya, seketika akan membuat Supenni tersipu kagum.

Supenni yang masuk ke dalam rumah langsung menyalakan televisi. Dia suka melihat tontonan sinetron. Wajar jiwanya masih muda seperti anak-anak perawan di desanya.

“Dek, lihat televisi itu jangan sinetron melulu. Coba lihat berita,” suruh Warno, karena dia lebih suka lihat berita daripada sinetron.

“Iya, ini mau lihat berita,” Supenni mengalah.

“Lah, gitu bagus, adekku sayang,” senyum Warno dengan manisnya.

Berita di TV dilihat oleh mereka berdua. Berita kali ini adalah tentang kasus korupsi yang sudah 845 hari tak dibahas. Supenni yang melihat itu juga heran, mengapa kasus yang seserius ini ditunda-tunda hingga ratusan hari. Padahal kalo dihitung, pelaku korupsinya mungkin sudah lupa kalau dia itu koruptor.

Halah, ini kasus bagaimana jadinya?” gumam Supenni.

“Jadi kopi bersetara dengan kasus tungkripit,celetuk Warno hingga membuat raut wajah Supenni muram.

“Mas, ini kayak badut tapi tungkripit, bisanya melucu tapi lucunya kebangetan,” Supenni mulai naik darah.

“Hehehe, Adek yang baik, ini namanya guyonan tungkripit,” katanya seraya menebar senyuman pada Supenni.

“Tapi jangan sering-sering juga toh, mas,” imbau Supenni.

“Mas gak sering-sering amat kalau guyon gini, dek,” Warno mengelak.

“Ya wes, mas seng bener.”

Berita yang dilihatnya kini sudah selesai, beralih kepada berita negara tentang pendidikan. Bahwasanya di beberapa daerah, anak-anak banyak yang tak bisa mengenyam pendidikan karena pendidikan tak sampai ke daerah mereka.

Lah dellah, berita di televisi memang tak ada yang benar,” celetuk Supenni.

“Bukan tak ada yang benar, tapi tugas berita adalah membahas yang tidak benar.”

“Memang mas yang paling benar.”

“Bukan, dek, yang paling benar tuh Tuhan,” kata Warno.

“Memang yang paling benar Tuhan, tapi mas juga yang paling sok benar.”

“Hahahahaha” (Warno tertawa lepas).

Berita tentang pendidikan yang sampai di beberapa daerah terluar Indonesia sebenarnya mempunyai beberap faktor. Semisal kekurangan fasilitas untuk sampai ke sana. Hingga tenaga pengajar yang tak mau berjuang untuk ikut andil dalam membantu meratakan pendidikan. Begitulah beberapa hal yang diungkapkan oleh berita itu.

“Mas, memangnya Indonesia tak bisa untuk mengembangkan pendidikan?” tanya Supenni.

“Bukan Indonesia yang tak bisa. Indonesia ini alamnya sangat kaya dan sangat mendukung jika hanya mau dikembangkan dalam bentuk pendidikan. Tapi bantuan itu diperlukan oleh semua lapisan masyarakat. Bukan hanya pemerintah saja, tapi yang berperan penting mengembangkan pendidikan adalah menteri pendidikan itu sendiri, baru kemudian didukung oleh semua masyarakat,” Warno berbicara panjang lebar.

“Jadi bisa dibilang Indonesia ini masih harus mempunyai cita rasa yang khas seperti kopi buatan Supenni kan, mas?” kata Supenni dengan nada yang cukup halus.

“Memang Indonesia harus mempunyai semua cita rasa khas Indonesia sendiri dalam semua sistem tata negara,” tukas Warno mengiyakan pernyataan Supenni.

Moch. Syauqi Mudzakkir Billah

Latest posts by Moch. Syauqi Mudzakkir Billah (see all)