UIN Jogja Larang Mahasiswi Bercadar, Presiden Mahasiswa: Melanggar Kebebasan Individu

UIN Jogja Larang Mahasiswi Bercadar, Presiden Mahasiswa: Melanggar Kebebasan Individu
Presiden Mahasiswa UIN Jogja, Romli Muallim

Nalar PolitikPresiden Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta (Presma UIN Jogja), Romli Muallim, menilai upaya larang mahasiswi bercadar di lingkungan kampus oleh rektorat adalah bentuk pelanggaran kebebasan inidividu.

“Setiap orang berhak atas kebebasan pikiran dan hati nurani, termasuk kebebasan berganti agama atau kepercayaan. Tida boleh larang mahasiswi bercadar,” jelas Romli dalam keterangan tertulisnya, Senin (5/3/2018).

Hal tersebut sebagaimana juga tertegaskan dalam Pasal 29 UUD 1945 tentang Kebebasan Beragama. Disebutkan, negara wajib menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu.

Bisa diartikan, kebebasan yang dimaksud dalam pasal tersebut berlaku pula dalam hal kebebasan berekspresi, berpakaian, bercadar atau tidak.

“Oleh karenanya, sebagaimana pakaian-pakaian lain, cadar hanya sekadar pakaian, yang seharusnya tidak menjadi persoalan yang merugikan mahasiswa. Men-streotip-kan cadar dengan ekstremisme adalah kesalahan besar,” tegas Romli.

Adapun statemen Rektor UIN Jogja, Yudian Wahyudi, yang akan mengeluarkan mahasiswa UIN yang tetap pada pendiriannya memakai cadar setelah dilakukan 7 (tujuh) tahap konseling, baginya, sangat berlebihan. Bahwa itu hanya akan menjerumuskan UIN Jogja ke Islam simbolik yang menilai keyakinan seseorang dari simbol pakaiannya semata.

“Justru Islam moderat yang akan ditanamkan menjurus terhadap upaya diskriminatif. Padahal Islam yang moderat dengan tegas menolak tindakan-tindakan yang bersifat diskriminatif. Sekali lagi, rektorat tidak boleh larang mahasiswi bercadar karena itu,” lanjutnya.

Meski Presma UIN Jogja sepakat dengan adanya identifikasi terhadap paham-paham ekstremis, yang memang tidak sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945, tetapi menurut Romli, pelarangan mahasiswi bercadar bukanlah solusi.

Cadar dan ideologi, tambahnya, adalah dua hal yang berbeda. Cadar adalah atribut pakaian, sedangkan ideologi berkaitan dengan kesadaran dan pemahaman.

“Mengaitkan cadar dan paham yang bertentangan dengan paham kebangsaan adalah kekeliruan besar, sebab tidak serta merta mereka yang bercadar langsung mengusung ideologi yang bertentangan dengan paham kebangsaan kita,” pungkasnya.

___________________

Artikel Terkait: