Uma Baca Pasokkori, Ruang Belajar yang Membebaskan

Uma Baca Pasokkori, Ruang Belajar yang Membebaskan
Uma Baca (Rumah Baca) Pasokkori Desa Seppong, Majene, Sulawesi Barat.

Ini hanya tentang ruang. Ruang yang semestinya kita dapatkan dan berikan kepada mereka yang membutuhkannya. Maksudnya begini, saya akan sedikit-banyak bercerita atau mungkin lebih tepatnya berkisah tentang mengapa dan bagaimana ruang itu sangat penting untuk kita ciptakan.

“Banyak” pengalaman yang sudah kami lalui dalam mencari ilmu pengetahuan. Dalam hal ini pendidikan formal, kurang lebih 9 tahun. Nah, dari banyaknya pengalaman itu, selama bertahun-tahun pendidikan (Sekolah) rasa-rasanya tidak banyak mengubah apa-apa (bukan materi). Hanya usia yang semakin bertambah saja.

Bukannya putus asa dengan sistem pendidikan kita, tapi memang kenyataannya agak mengecewakan. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang kita untuk belajar dan bisa mengekspresikan diri (hal positif) untuk belajar yang menyenangkan, malah menegangkan.

Ruang-ruang kelas yang pengap dan membosankan. Guru (tidak semua) yang selalu menampakkan wajah garang dan jarang tersenyum. Semua menambah seram sistem pendidikan kita. Bahkan pelajaran-pelajaran yang diberikan kepada kita, bukannya lebih banyak mencerdaskan, malah membuat kita muak dengan pelajaran itu (yang ini mungkin agak berlebihan).

Kita diseragamkan dalam semua pelajaran, dan nilai (angka 1-10 / 10-100) menjadi patokan untuk mengukur kecerdasan kita. Akhirnya, kebanyakan dari kita yang memang bidangnya bukan di situ atau pemahamannya agak lambat banget. Harus setengah mati untuk memahaminya. Karena kita akan malu atau lebih tepatnya dibuat malu jika tidak mengerti.

Akhirnya, cara-cara culas dan curang menjadi hal lumrah dalam pendidikan kita. Mencontek, tidak jujur, dan sok tahu menjadi sesuatu yang biasa kita lakukan dari pendidikan sejak kecil. Lantas generasi yang seperti apa yang akan kita ciptakan buat bangsa ini?

Ya, memang saya bukannya hendak mau menghakimi sistem pendidikan kita, apalagi sok-sok-an paling tahu mesti bagaimana dan harus bagaimana pendidikan itu. Tapi, mesti diakui bahwa memang pendidikan kita tidak terlalu membawa pencerahan (kebahagiaan) dalam kehidupan kita.

Maka tidak mengherankan jika banyak teman-teman kita yang malah keasyikan dalam dunia yang katanya gaul, keren, dan tren (drugs dan seks bebas), padahal mereka anak-anak yang berpendidikan (Bersekolah). Lantas pendidikan seperti apa yang mereka peroleh di sekolah selama ini jika lingkungannya sendiri tak mampu dia lawan dan malah saling mempengaruhi?

Pantas jika kita sering bertanya, apakah di sekolahnya dia tidak diajari dengan baik? Kenapa malah sikap dan perilaku seperti seorang yang tidak pernah mendapatkan pendidikan?

Banyak sudah sistem pendidikan yang diujicobakan kepada kita (kurikulum), tapi nyatanya tak pernah memberikan hasil yang memuaskan, lebih seringnya mengecewakan. Tapi, mesti diakui juga, pendidikan kita juga terkadang menghasilkan orang-orang yang luar biasa (tapi lebih banyak yang gagal).

Saya di sini bukannya ingin menyarankan bahwa tidak bersekolah itu lebih baik daripada bersekolah, tapi lebih kepada mencoba untuk memberikan alternatif lain tentang dunia pendidikan yang lebih membahagiakan. Toh saya rasa kesuksesan itu tergantung kepada taraf kebahagiaan seseorang bukannya materi.

Dari kisah kita itulah kami merasa bahwa sebenarnya yang lebih dibutuhkan itu adalah sebuah ruang bersama, ruang yang membebaskan kita dalam memilih pelajaran yang kita sukai dan inginkan, yang bisa menampung semua ekspresi jiwa kita, sehingga kita menciptakan lingkungan yang bebas tapi mendidik kita untuk bertanggung jawab terhadap diri sendiri.

Pendidikan kita semestinya lebih menyentuh emosional anak (sisi psikologi). Tugas kita sebagai orang dewasa, guru bahkan orangtua hanya sekadar menjaga, mengawasi, dan melindungi mereka, bukannya merecoki mereka dengan alasan khawatir akan masa depannya. Sebab, bukankah masa depan itu Tuhan yang menentukan (jika merasa ber-Tuhan)?

Maka yang mesti diciptakan itu adalah sebuah ruang untuk kita dan generasi kita yang membuat mereka merasa senang dan bahagia dalam melakukan kehidupannya, serta belajar apa yang mereka sukai.  Saya yakin mereka akan terhindar dari lingkungan yang salah.

Itulah mengapa kami mencipta ruang “rumah baca” ini. Sebuah pendidikan alternatif bagi kita, pendidikan yang menyenangkan dan membahagiakan tentunya. Kami hanya sekadar mencipta dan memberikan ruang, bukan menentukan dan menjamin masa depan mereka.

Uma Baca Pasokkori, Ruang Belajar yang Membebaskan
Tentang Uma Baca Pasokkori
Latest posts by Muh Ihsan Tahir (see all)