Untuk Juwita selama 8 Masa

Untuk Juwita selama 8 Masa
Ilustrasi: http://1.bp.blogspot.com

Hi, Juwita! Kupinjam kata yang biasa dipakai sastrawan W.S. Rendra untuk kekasihnya. Semoga tak masalah jika aku panggil engkau serupa agar terkesan sedikit mesra.

Juwita, aku yakin kau tak mungkin lupa hari ini tanggal berapa. Sebab, “delapan” masa sebelumnya, kau dan aku bersepakat berjalan bersama.

Waktu tahu, saat itu usia kita masih remaja, tapi rasa telah membawa kita belajar jadi dewasa. Bertahan dalam godaan rindu dan jarak yang menghukum untuk tak dapat bertatap mata.

Tapi, meskipun begitu adanya, kita tak kalah ataupun menyerah demi janji karena cinta. Setidaknya, suaramu masih dapat dijamah lewat udara berkat karya pria berkebangsaan Italia (Antonio Meucci) dan ilmuan lainnya.

Juwita, aku tahu kau bahagia dan tak kupungkiri begitupun juga aku sebenarnya.

Memang, begitulah cinta, seperti candu yang membuai bagi manusia kata Pramoedya. Hanya saja, dari 7 milyar jiwa yang hidup di dunia, kisah kita mungkin bukan yang utama bagi mereka.

Tapi, satu hal yang pasti, Juwita, dalam hidupku, kau akan tetap jadi istimewa. Serupa kota Jogja yang telah menjadi rumah kedua setelah kampung halaman kita.

Juwita, dalam perjalanan cinta, ada banyak kisah dan cerita yang terhampar seperti awan senja di cakrawala. Beberapa di antaranya sempat dicatat dalam sejarah peradaban manusia. Ada yang berakhir indah, atau sebaliknya: penuh derita.

Lihat saja kisah Laila Majnun dari Timur Tengah yang melegenda. Atau kisah novel karya  (William Shakespeare) Romeo dan Julia di Eropa. Bahkan, di Indonesia, Buya Hamka menceritakan kisah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck di pesisir utara Jawa.

Juwita, sebenarnya masih ada banyak hal lagi padamu yang harap kutuangkan lewat kata. Tapi, apa daya, kemampuanku hanya begini adanya. Dan aku paham, kau tak begitu suka dengan sastra.

Karena itu juga, kubuatkan sajak dengan  rima yang berahiran abjad sama, agar tak bosan kau baca dan lebih mudah di terima saat kuajukan di media.

Juwita kekasihku, pada akhirnya aku hanya mengatakan 3 kata yang sama. Kata yang aku ucapkan setiap hari padamu di kejauhan sana, di antara Laut Jawa, dipisah 2.000 kilometer jauhnya.

Terimakasih untuk setia yang kau jaga selama delapan masa bersama. Rasanya seolah baru kemarin saja aku katakan cinta dan kau menerima.

___________________

*Klik di sini untuk membaca sajak-sajak lainnya.