Usman Husen si Cerdik dari Mataram

Usman Husen si Cerdik dari Mataram
©Harian Merapi

Usman Husen adalah seorang lelaki sejati. Dia tak pernah takut mati untuk melawan prajurit-prajurit Mataram yang gagah dan sakti. Walaupun tubuhnya tidak segigih dan sekokoh tubuh-tubuh prajurit Mataram, dia tetap akan melawan jika merasa tidak melakukan kesalahan.

Pernah suatu ketika, seorang janda pedagang kain di pasar merasa lelah dan duduk di dekat penjaga pasar yang masing-masing membawa tombak dan perisai di kedua tangannya. Janda tersebut duduk di belakang kaki prajurit yang sedang menjaga.

Karena lelah dan ketidaktahuannya, janda tersebut bersandar pada kedua kaki penjaga pasar yang dikira sebatang tiang besi. Penjaga pasar menengok ke belakang dan memegang bahu wanita yang tak berdaya itu. Dengan suara keras, prajurit tersebut berkata, “Apakah tidak kamu perhatikan kedua kaki ini yang telah kamu buat sandaran? Di situ ada tiang, dekap saja lalu berbaring di sana.”

Air mata mengalir dari kedua mata wanita janda itu. Perhatian orang-orang di pasar tertuju kepadanya. Hatinya merasa malu menutupi peristiwa tersebut. Usman Husen seorang pria sejati datang dengan membawa sebuah balok kayu yang berukuran besar sambil berkata, “Jangan lagi kalian sentuh wanita ini. Apakah kalian tidak iba melihatnya? Dia adalah janda yang butuh belas kasihan dari kalian.”

Setelah berkata seperti itu, Usman beranjak pergi memegang bahu janda itu. Sepertinya, pria muda itu membawanya kembali pulang ke rumah.

Semenjak kejadian tersebut, keganasan prajurit Mataram makin menjadi. Mereka berani menagih pajak kepada pedagang pasar. Menaikkan harga masuk ke pasar. Semua terjadi tanpa sepengetahuan Sultan Mataram.

Angin di Plered datang silih berganti. Mendamaikan jiwa manusia yang serakah dan arogan. Kekerasan dan keserakahan telah mewarnai bumi nusantara. Rakyat pribumi menjadi budak dari nafsu-nafsu yang melenyapkan batas-batas sosial. Sehingga tindak kekerasan dan kesewenang-wenangan menjadi racun di bumi nusantara.

Seorang lelaki sejati, kini sepertinya ditakdirkan sebagai mujaddid untuk membawa perubahan baru. Menggerakkan rakyat untuk menemukan kebijaksanaan dan keadilan sosial. Demi mencapai kesejahteraan hidup, memang harus ada pengorbanan. Tetapi itu bisa diwakilkan dengan kasih sayang dan cinta yang sesuai pada tempatnya.

Usman Husen terkenal di kalangan pedagang pasar sebagai pahlawan tiba-tiba. Pahlawan rakyat yang seakan mereka nantikan. Dia tampak membawa sekarung jagung menuju ke salah satu penjual di pasar yang juga pamannya sendiri.

Keluarga Usman adalah seorang kyai yang disegani di Plered. Usman kecil selalu dididik untuk disiplin dalam hal ibadah dan kegiatan hidupnya yang mandiri. Bahkan dari ayah, paman, dan kakeknya, Usman Husen belajar ilmu-ilmu agama, spiritual, sosial, dan ilmu kehidupan.

Kepandaian ayahnya, kiai Joyo dalam membuat syair, tampaknya menurun ke anaknya. Kiai Joyo adalah seorang penyair sekaligus negarawan. Dia juga menelaah buku-buku barat dan mengkaji naskah-naskah Jawa. Baginya, semua orang mempunyai potensi. Asalkan selalu mau belajar, pasti manusia memiliki kualitas dan kuantitas yang ideal. Wawasannya yang luas dan kebijaksanaannya itulah yang membuat kiai Joyo dekat dengan Sultan Mataram.

Suatu ketika Sultan Mataram sedang mengadakan sayembara. Siapa pun yang bisa membuat anaknya tertawa, maka dia akan mendapat hadiah dari sultan.

Bukan main, semua seniman dan penghibur datang untuk mengikuti sayembara tersebut. Mulai dari tukang sulap, dagelan, dan musik gamelan mereka persembahkan untuk pangeran. Tetapi hasilnya nihil. Pangeran tetap tidak mau tertawa. Sebab dia murung sejak kepergian ibunya tercinta yang meninggal. Seolah tidak menemukan sosok pengganti ibunya, pangeran selalu murung dan anti-sosial. Pantas saja Sultan Mataram selalu sedih dan prihatin terhadap keadaan pangeran yang disayangnya itu.

Kiai Joyo masuk ke bilik kamar pangeran. Dia membaca sebuah syair yang amat indah dan berisi nasihat. Itu adalah syair yang dikarang sendiri olehnya. Berikut isi syairnya:

“Siapa pun boleh menanggung sedih. Tetapi malu dengan burung di atas ranting. Setelah kehilangan induknya, burung itu terbang melanjutkan tanggung jawab dan menuntaskan jati dirinya sebagai seekor burung. Sebab kesedihan adalah racun dari sendi-sendi penyakit dan kekalahan.”

Pangeran bersandar pada kedua tangannya, dia menghampiri kiai Joyo dan memeluknya erat. “Kiai, angkatlah aku sebagai muridmu. Syair itu telah menusuk jiwaku. Aku telah belajar syair-syair dari naskah terdahulu. Tetapi baru kali ini ada syair yang mengetuk jiwaku. Aku telah mendapatkan ilham dan pencerahan,” kata pangeran yang meneteskan air mata di hadapan kiai.

“Tentu saya sangat bahagia apabila rakyat seperti saya bisa menjadi pembimbing atau guru dari pangeran. Tetapi tentu harus melalui persetujuan Sultan Mataram,” jawab kiai Joyo.

“Tentu kiai, saya akan meminta restu Sultan dan ibu ratu terlebih dahulu,” jawab pangeran.

Mereka keluar dari bilik kamar. Tangan kiai Joyo menggandeng sang pangeran. “Alhamdulillah, saya telah berhasil menuntaskan tugas saya,” teriak kiai Joyo.

Pangeran berjalan dengan senyuman kembali di wajahnya. Dia bersujud di kaki Sultan dan mengutarakan maksud hatinya untuk menimba ilmu kepada kiai Joyo. Sultan Mataram dan ibu ratu memberikan restu kepada pangeran tercinta.

Sejak saat itu nama kiai Joyo masyhur di tanah Mataram. Bahkan Sultan memberikan penghargaan tanah yang bebas pajak di sebelah selatan Mataram untuk kiai Joyo. Sultan Mataram bahkan memberikan kedudukan istimewa kepada kiai Joyo. Dia diangkat menjadi wazir, salah satu hakim atau penasihat istana.

Sejak saat itu, Usman Husen kecil bersahabat dengan pangeran. Mereka selalu belajar bersama dan main bersama. Ketika menginjak usia remaja, Usman Husen menjadi orang yang cerdik, bijak, dan banyak akal. Dia selalu pandai dalam menolong orang dan bertindak.

Suatu ketika, kerajaan Mataram sedang gempar. Pusaka kerajaan Mataram hilang dicuri. Sultan tidak tahu siapa pencurinya.

Usman yang tahu kabar peristiwa tersebut segera bergegas menuju Mataram bersama pangeran. Pangeran menanyakan perihal kebenaran berita itu. Ternyata memang benar adanya. Pusaka tombak sakti di mataram telah hilang. Tentu pencuri itu bukan orang biasa. Pastilah dia memiliki kesaktian yang tidak dapat diremehkan sehingga bisa melewati penjagaan pasukan Mataram.

Usman prihatin melihat kesedihan pemimpin negaranya yang sedang pilu itu. Dia berbisik kepada pangeran, yang sudah menjadi sahabatnya sejak kecil, “Pangeran, aku punya cara untuk menangkap pencuri itu. Dan membawa kembali pusaka kerajaan yang hilang,” ucap Usman.

Pangeran mengangguk dan mendekati sultan Mataram. Dia memberitahukan perihal kesanggupan Usman untuk membantu Mataram.

“Apakah benar kamu sanggup mencari atau menangkap pencuri itu, Usman?”

“Akan saya lakukan tugas itu semaksimal mungkin, tuanku.”

“Kalau begitu silakan utarakan pendapatmu. Aku ingin mendengarnya.”

“Begini Sultan, saya akan menyiapkan sebuah kendi minum yang sudah saya jompa-jampi. Air itu harus diberikan kepada seluruh yang ada di kesultanan Mataram. Dan yang meminum air tersebut, kalau dia pencuri, pasti dia akan lumpuh.”

“Kalau begitu, segeralah laksanakan tugasmu.”

“Siap laksanakan, tuanku. Tetapi, alangkah baiknya saran saya Anda umumkan ke seluruh kawulo Mataram.”

“Baiklah.”

Setelah perundingan tersebut, Sultan segera mengumumkan saran Usman kepada seluruh kawulo di Mataram. Dan meminta mereka semua untuk segera berkumpul di pendopo kerajaan. Usman segera mencari sebuah kendi yang diisinya dengan air. Kendi itu pun dihadapkan pada sultan Mataram.

“Ini kendi yang telah saya bacakan jompa-jampi. Silakan seluruh kawulo Mataram meminumnya. Saya jamin aman.”

Sultan mengumpulkan seluruh kawulo Mataram. Semua berkumpul di depan singgasana Sultan. Satu per satu dari mereka meminum air kendi tersebut. Bahkan juga pangeran dan Usman turut meminumnya.

“Bagaimana, Usman, semua sudah meminumnya. Sekarang apa yang terjadi, apakah akan ada yang lumpuh tak bergerak seperti tadi katamu?”

“Kita tunggu saja, tuanku.”

Hampir satu jam mereka menunggu, tetapi tidak ada reaksi apa pun dari kendi mantra tersebut. Sultan pun mulai tampak geram dan berwajah merah. Dia bangkit dari tempat duduknya.

“Usman, apakah kamu sedang mencoba memprmainkanku?”

“Tidak, tentu tidak.”

“Lalu tidak ada hasil dari mantramu itu.”

“Kita tunggu sebentar lagi, tuanku.”

“Baiklah, kita tunggu sekitar setengah jam lagi. Kalau masih belum ada hasil dari mantramu itu, kamu sungguh telah menipu rajamu.”

Perasaan takut dan cemas menyelimuti hati Usman Husen. Raja sungguh tampak tidak percaya lagi kepada sahabat anaknya itu. Dan bahkan terlihat marah sekali.

“Begini, tuanku, apakah seluruh kawulo Mataram sudah hadir semua di sini?”

Sultan melihat seluruh wajah yang ada saat itu. Ternyata memang benar, ada yang tidak hadir. Seorang kepala prajurit yang bernama Wisesa tidak hadir dalam pertemuan itu.

“Benar, Wisesa tidak hadir di sini. Ke manakah dia? Apakah kalian semua mengetahuinya?”

“Wisesa adalah pencurinya tuanku.”

“Kamu menuduh?”

“Tidak. Tapi saya tahu.”

“Tahu darimana?”

“Begini, tuanku. Ketika anda menyuruh seluruh kawulo Mataram hadir berkumpul untuk meminum air jampi dari saya, dia tidak hadir. Dan dia adalah pencuri. Saya yakin itu. Kalau begitu, marilah kita datangi pencuri itu dan menggeledah rumahnya.”

Mereka sama-sama menuju ke kediaman Wisesa. Dia sedang berbaring di ranjang seperti dalam keadaan sakit ketika Sultan mengunjungi rumahnya. Tampak wajah takut dan gelisah dalam raut mukanya. Seluruh prajurit Mataram menggeledah isi rumahnya. Ternyata benar, pusaka Mataram ada di atas dipan di dalam rumah Wisesa. Dia telah mengkhianati kepercayaan Sultan. Wisesa dibawa ke kerajaan Mataram. Dan dipenjara atas tindakan yang telah dia lakukan itu. Rasa kagum Sultan kepada Usman mulai terlihat.

“Bagaimana kamu tahu dia pencuri, Usman? Kamu sungguh luar biasa dan cerdas. Aku bangga anakku memiliki sahabat yang cerdik seperti kamu.”

“Saya hanya memakai cara saja. Ketika tuanku mengumumkan saran yang saya beritahukan, bahwa pencuri yang meminum air itu akan lumpuh, itu hanya gurauan saja. Sebab saya yakin, pencuri itu tidak berani meminumnya. Kejadian tersebut terjadi tadi malam. Dan itu menunjukkan, bahwa pencuri adalah orang yang sudah tahu letak pusaka kerajaan dan tahu cara untuk masuk ke sana. Pasti setelah mencuri, dia tidak berani jauh lari dari Mataram. Sebab akan mencolok, ketika membawa pusaka tersebut.”

“Lalu, mantra apa yang kamu pakai?”

“Saya sebenarnya tidak pakai mantra apa pun. Itu hanya sebuah cara untuk menangkap pencuri itu.”

Sultan Mataram mengapresiasi keberhasilan Usman dalam menangkap pencuri dan mengembalikan pusaka kerajaan. Usman Husen dijadikan sebagai anak angkat Sultan dan menjadi saudara angkat dari pangeran Mataram. Karena kecerdikannya itu, dia dikenal oleh seluruh penduduk negeri Mataram.

Pati, 15 Juni 2020

Muhammad Lutfi
Latest posts by Muhammad Lutfi (see all)